untitled

politik dan hukum

Kata Ibu, hati perempuan itu terbuat dari kaca. Ia menawan, mengilap, memesona namun sekaligus juga rapuh. Sekali salah sentuh, ia akan pecah berkeping-keping dan sulit dipersatukan kembali. Aku tak ingin mempercayai perkataan Ibu. Perempuan tidak selemah itu. Aku tidak selemah itu. Aku kuat. Hatiku terbuat dari batu karang yang tak juga pecah dan bergeming meski terhempas kerasnya ombak. Ingin rasanya mempercayai hal itu. Tetapi, mengapa sulit sekali untuk melepaskan diri dari kenyataan bahwa perkataan Ibu di akhir cerita selalu…. benar.
***
Novel yang sedang kubaca telah sampai pada halaman 70. Tokoh lelaki dalam novel itu bertemu dengan tokoh utama perempuan di sebuah jamuan makan malam. Sang lelaki, terlihat acuh dengan penampilan acak: rambut tergerai sebahu, baju kemeja yang terbuka kancing bagian dada, serta celana jins selutut dengan warna pudar, menemukan tatapan sang perempuan dari sudut ruangan. Perempuan itu tampak jauh lebih beradab dibanding sang lelaki. Ia mengenakan setelan gaun hitam selutut yang tampak serasi dengan kalung mutiara yang dipakaikan secara anggun di leher perempuan yang jenjang. Ketika mata sang lelaki menemukannya, ia sedang tergelak dan wajah lucunya terpaku beberapa detik menatap sang lelaki.
Aku tersenyum dan langsung meletakkan novel tersebut di atas kasur. Mataku terpejam dan imajinasiku lantas mengembara. Ya, Tuhan, betapa indah pertemuan itu. Betapa romantis. Memang manusia selalu ditakdirkan untuk berpasangan dan memang pertemuan itu lah titik puncaknya. Perempuan dan lelaki, bersatu dalam cinta yang dicari-cari nyaris seumur hidup mereka. Ah, betapa pandai sang penulis melukiskan kejadian itu ke dalam rangkaian kata-kata. Membuatku terpesona lalu larut ke dalamnya.
Suatu saat nanti, akan kutemukan pangeranku, seperti kisah-kisah yang kubaca dalam kisah novel romansa itu. Suatu ketika nanti, ketika sudah cukup umurku, aku akan bahagia selamanya bersama dengan sang kekasih hati. Ia yang memenuhi selera yang kuinginkan, akan selalu melindungiku, menjagaku, serta mengasihiku sebagai seorang perempuan. Ya, seorang perempuan. Suatu saat nanti….
***
“Sedang apa?”
“Menulis.. eh tidak aku sedang…”
“Pasti berhayal memimpikan Arto,”
“Tidak,”
“Gak mungkin. Aku tau wajahmu seperti apa setiap kali membayangkan lelaki itu. Ngaku saja. Memang dia udah nembak kamu belum?”
“Belum.”
“Kok bisa? Kalian kan jalan bersama terus setiap saat.”
“Gak tau, mungkin aja dia ilfil sama aku.”
“Kok gitu ngomongnya?”
“Soalnya dia ngomongin perempuan lain.”
“Perempuan lain? Siapa?”
“Si cantik yang sangat feminin itu.”
“Tenang, ngomongin belum tentu suka, siapa tau dia hanya mau buat kamu cemburu. “
“Mudah-mudahan saja yah begitu.”
“Kita berdoa aja biar gitu. Terus, cerita pendek kamu bagaimana kelanjutannya?”
“Sudah selesai, tapi bingung mau diapain terusnya.”
“Dikirim saja.”
“Gak mau, belum pede.”
“Ah kamu biasa seperti itu. Ayo, aku bantu mengirimkan. Tulisan-tulisanmu kan bagus.”
“Gak ah, biar saja jadi konsumsi pribadi.”
“Tuh kaan.. gimana mau maju?”
Percakapan itu sudah berlangsung sekitar lima belas tahun yang lalu, saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Debi adalah teman baikku di sekolah. Ia adalah satu-satunya anak yang selalu mendukung hobi menulis dan mendorongku untuk segera menerbitkan buku kumpulan cerpen. Ia juga yang menyebarkan buku cerpen yang kutulis ke seluruh anak di kelas. Mereka membacanya bergiliran dan banyak dari mereka yang memuji tulisanku. Di sekolah, aku menemukan kekuatan dalam diriku tumbuh, berkembang, dan diapresiasi secara luar biasa oleh kawan-kawan sekolahku. Bahkan guru-guruku yang selalu tidak pernah ketinggalan mengirimkan tulisan-tulisanku untuk disertakan ke dalam festival bulan bahasa tingkat sekolah dasar.
Namun, di rumah, tidak pernah ada percakapan seperti itu. Tulisan-tulisan yang menggunung di meja belajar tidak pernah dianggap penting oleh orang rumah. Kalau di sekolah aku belajar mengenali bakat, di rumah aku belajar untuk menanamkan impian bahwa setiap perempuan pada akhirnya nanti akan menikah dan hidup bahagia, persis seperti akhir cerita di novel-novel, film ataupun kisah yang diturunkan oleh ibu, nenek, atau tanteku. Mereka tidak pernah menceritakan bahwa dengan sebuah kekuatan impian, seorang perempuan akan bisa hidup baik dengan kekuatan kakinya sendiri. Impian menurut mereka adalah ketika akhirnya perempuan bisa menikah dan mengikuti suaminya. Dan, aku sebagai anak perempuan yang juga tumbuh dalam norma yang menanamkan nilai bahwa nasehat orangtua adalah bekal hidup di masa depan, memercayai sepenuh hati perkataan itu.
“Ibu, kalau aku nanti dapat suami yang gak terlalu kucintai bagaimana?”
“Gak penting, yang penting ia cintai kamu. Lelaki itu mudah pindah ke lain hati soalnya. “
“Tapi bukannya hubungan bisa hambar?”
“Ah, siapa bilang. Tantemu aja bisa bertahan sampai sekarang. Punya enam anak lagi. Perempuan itu gak usah banyak nuntut. Sudah syukur ada lelaki yang mau ngurus kita.”
“Begitu ya Bu?”
“Iya. Di mana-mana kita memang harus ikut dengan perkataan suami.”
Begitu kata Ibu. Dan, aku pun tumbuh dalam kerangka berpikir seperti itu. Tujuan hidupku adalah sesederhana menemukan lelaki yang sangat mencintaiku, dilihat dari perlakuannya: memperhatikanku, bisa mengantarjemput, selalu ada saat kubutuhkan, melindungiku, membuatku merasa aman berada di dunia ini. Tetapi, apalah rasa aman itu kalau ditentukan dari bagaimana orang memperlakukan kita? Bukankah rasa aman itu diciptakan dalam diri sendiri bukan muncul karena kehadiran orang lain? Dilema hadir dalam diriku.
***
Seperti novel yang kubaca, perempuan mesti menemukan pasangannya, kekasihnya, berdua dan tidak sendiri. Jika, ia setelah bertahun-tahun melalui masanya untuk mencari kekasih tetap melajang, berarti ada kesalahan. Dan kesalahan itu, dalam duniaku, selalu ditujukan bagi sang perempuan. Ketika orangtuaku bertengkar karena satu hal, Ibu lalu akan menyalahkan dirinya dengan melihat dirinya rendah. Ia akan mencari-cari alasan bagaimana sikap dirinya buruk, salah, dan tidak tepat untuk ditujukan kepada Ayah. Padahal, di mataku, pertengkaran itu tercipta karena ego besar Ayah yang tak pernah mau disalahkan. Ayah selalu sempurna, benar, dan tidak pernah salah.
Pengalaman ini, ternyata meresapi alam bawah sadarku, dan berimbas kepada hubunganku dengan lelaki. Setiap kali menjalin hubungan dan gagal, aku selalu menyalahkan diriku. Kenapa aku tidak bisa lebih baik? Kenapa aku tidak bisa lebih perhatian? Kenapa aku tidak begini dan begitu. Dan diantara perasaan bersalah itu, aku menyisipkan imajinasiku akan romansa. Dalam novel-novel yang kubaca, kesakitan itu adalah kewajaran dalam sebuah hubungan perempuan dan lelaki, terutama bagi sang tokoh perempuan.
“Aku gak mengerti apa yang salah sama diriku!”
“Salah bagaimana?”
“Aku gagal lagi menjalani hubungan dengan lelaki ini.”
“Kenapa mesti anggap kamu yang salah?”
“Karena aku memang tidak pandai dekat dengan lelaki. Dia sudah begitu sempurna, baik hati, perhatian, dan tak perhitungan.” Aku mulai memasuki pola berpikir yang kudapat dari lingkup keluargaku.
“Kenapa mikir begitu?”
“Karena memang aku yang bodoh!” aku akan berteriak setengah panik menyadari bahwa kekurangankulah yang mengantarku ke jurang kehancuran. Tingkat penyesalan pada tahap ini akan memuncak dan kepalaku akan terasa sakit serta pandangan berkunang-kunang.
“Kamu gak salah apa-apa lagi. Kalian memang tidak cocok saja.”
“Tetapi aku bisa saja melakukan hal yang lebih baik dari sekarang…” aku mulai mencari-cari hal yang justru bisa memperbesar rasa bersalahku. Pikiran-pikiran negatif atas diri sendiri.
“Dengan apa? Kau sudah berusaha sebaik-baiknya kau bisa.”
“Tetap saja gagal. Seorang perempuan yang gagal.”
“Itu karena dia yang bodoh dan kau beruntung tidak mendapatkan lelaki itu.” Temanku berupaya melawan perasaan negatifku atas diri sendiri dengan mencoba membuka pemahaman lain. Namun, aku yang sudah keburu larut dengan semua mekanisme menyerang diri sendiri, akan jatuh ke dalam melankolia panjang. Beberapa hari aku akan menangis. Menangisi semua kelemahanku, kekuranganku, diriku, yang menuntun pada kegagalan semua hubunganku. Menyedihkan. Aku benar-benar merasa tidak berharga.
***
Seorang penulis sejati adalah ia yang bisa betah duduk berjam-jam lamanya untuk memfokuskan pikirannya kepada tulisan. Aku bercita-cita menjadi penulis, namun aku tak pernah mau melatih diriku untuk melakukan hal tersebut. Yang kulakukan setiap kali aku merasa ide sudah berkecamuk dalam pikiranku adalah membuka laptop, menulis sebentar, menyalakan lagu, lantas berkubang ke dalam imajinasi romansa. Tak lama kemudian, aku akan berhenti menulis karena sudah merasa nyaman dengan buaian perasaan dan imajinasiku sendiri. Aku menemukan dia, lelaki itu, atau hatiku sakit sekali aku bahkan tidak bisa berpikir saking sakitnya karena dia, lelaki itu.
“Kamu harus melatih pikiranmu. Jangan bentar-bentar ke lelaki. Baru semenit nulis udah ngayal dengan romansa-romansa murahanmu itu.” Seorang teman menasihatiku saat melihat wajahku sudah mulai putus asa.
“Sialan! Aku gak mikirin romansa. Aku sedang mikir kenapa lelaki itu seperti memainkan perasaanku ya?”
“Itu dia. Kamu terlalu terfokus pada apa yang terjadi antara kau dengan lelaki itu. Sudah jelas-jelas dia tak tertarik padamu. Tapi, kau terus mencari-cari penyebab dan alasan. Untuk apa?”
“Kupikir masih ada peluang.”
“Mending kau fokuskan dengan tulisanmu. Apa salahnya hidup sendiri dan mengejar impianmu. Fokus pada apa yang menjadi kekuatanmu, tidak lantas menjatuhkan dirimu dengan berhayal yang tidak-tidak. Atau jangan-jangan kau kini sudah menjadi sadomasokis. Menikmati dirimu kesakitan.”
“Asem! Aku tidak gila sakit.”
“Buktinya sekarang. Tahu kau hanya dimanfaatkan masih tetap saja bertahan.”
Apa yang membuatku bertahan sebenarnya? Aku tahu bahwa hubungan ini hanya berjalan searah dan jelas-jelas aku hanyalah bidak dari strategi besarnya menaikkan namanya sendiri. Tetapi mengapa aku masih mau bersamanya. Karena aku sekarang memiliki seorang lelaki yang disebut kekasih, seperti layaknya perempuan-perempuan umum lainnya? Meskipun aku tahu bahwa tanpa seseorangpun, sebenarnya aku mampu menjalani hidupku sendiri?
“Ibu gak mau kamu asik sama duniamu sendiri. Carilah pacar. Jangan cuma kejar impian saja. “
“Apa salahnya asik sama impian kita sendiri, Bu?”
“Kamu tidak paham. Buat apa ngejar cita-cita setinggi langit. Tanpa lelaki, cita-cita perempuan itu tak ada artinya sama sekali. “
Apa benar memang begitu? Jika perempuan menjadi lajang, apakah semua membuat perempuan itu tampak buruk meskipun ia memiliki segudang prestasi? Seolah semua keunggulan itu tertutupi dengan satu cacat yang mematikan: ia tak bersuami, berkekasih, atau tidak laku. Memang aku pernah mendengar cibiran salah satu tanteku terhadap satu sodara perempuan yang lain. Perempuan itu pekerja kantoran, konsultan humas di sebuah perusahaan media agency. Di usianya yang ke tigapuluh lima tahun, ia sudah mendapatkan banyak penghargaan dan profil di media-media cetak serta visual. Tapi, bagi tanteku tetap saja perempuan itu gagal: ia tak punya pacar, suami, ataupun anak. Hah!
***
Kini perempuan itu telah berdiri di depan sang lelaki. Mereka tak menyangka akhirnya tiba juga pada titik itu. Titik yang selanjutnya akan mengubah kehidupan mereka berdua. Takdir yang mempertemukan mereka. Dan sang lelaki akan menggandeng tangan sang perempuan. Ia akan menggamitnya dengan lengannya yang kokoh dan kekar. Perempuan itu akan menyelipkan lengannya yang mungil diantara lengan kekar sang lelaki. Bersama, mereka akan berjalan menuju sebuah pintu, melarikan diri dari acara jamuan makan malam yang menjenuhkan.
Kuletakkan novel itu di atas meja. Halaman telah mencapai angka 120, sebentar lagi cerita akan mencapai konflik dan menemui klimaksnya sebelum akhirnya mencapai titik balik. Tenggorokanku terasa kering. Maka, aku berjalan mengambil segelas air putih. Aku tahu sebenarnya, dari semua novel-novel romansa yang kubaca, ending akan berakhir seperti apa. Semua alur cerita seperti bisa tertebak olehku sejak awal. Namun, tetap saja aku senang membacanya hingga habis. Lantas, menyelipkan diriku ke dalam imajinasi, sebuah sesi lanjutan usai membaca novel.
***
“Jadi, pas pulang dia gak antar kamu?”
“Enggak.”
“Gila, jam berapa itu padahal. Jam dua, sayang, jam dua malam!”
“Iya, tapi aku biasa pulang sendiri.”
“Jangan jadikan alasan. Keenakan dia.”
“Ngapain sih mesti tergantung sama orang.”
“Bukan itu maksudnya. Sudahlah. Dia tanya kabarmu setelah kau sampai rumah?”
“Enggak. Mungkin dia cape.”
“Gila. Aku gak ngerti kenapa kamu bisa suka sama dia. Kamu sama dengan perempuan-perempuan lain yang menikmati diperlakukan sewenang-wenang oleh kekasih mereka.”
“Tidak, aku berbeda.”
“Kau sama.”
“Beda.”
Namun, meski ujung bibirku mengucap kata ‘beda’, dalam hatiku aku mengamini perkataan temanku. Aku memang terlihat menikmati perlakuan sewenang-wenang pacarku. Tubuhku gemetar saat membayangkannya. Apa benar perempuan sepertiku ternyata seorang sadomasokis?
***

Transformasi Tarling: Sinergisme Tradisi dan Industri

politik dan hukum

TRADISI

Transformasi Tarling: Sinergisme Tradisi dengan Industri
N. Riantiarno dalam sebuah acara diskusi buku Kitab Teater beberapa waktu lalu di Gedung kesenian Miss Tjitjih mengatakan pentingnya sinergisme antara dua hal yakni idealisme dengan bisnis untuk mengembangkan dunia pertunjukan di tanah air.
Hal ini terutama penting diperhatikan ketika membicarakan ranah tradisi, bukan karena grup-grup kesenian pertunjukan tradisi, yang mengusung konsep ‘masa lalu’ terancam punah akibat industri bisnis terkait pasar dan komodifikasi yang berkembang pesat. Melainkan, ditilik dari kemampuan mereka untuk bertahan, grup-grup kesenian tradisi ini mau untuk mengkompromikan dua dunia, masa lalu dan masa sekarang, tradisi dan industri, tanpa meninggalkan esensi isi. Salah satunya misalnya saja kesenian tradisional asal Jawa Barat, tarling.
Musik tarling (merupakan kependekan dari kata guitar atau gitar dan suling) adalah jenis seni untuk janggrungan atau hiburan yang semula biasa dilakukan oleh anak-anak muda pesisir utara di malam hari. Mereka biasa naik ke atas panggung, menyawer sembari mendengarkan lagu yang berisi pesan moral yang mencerahkan jiwa.

Dalam era selanjutnya, tarling berkembang menjadi seni pertunjukan panggung, juga industri hiburan. Asal-usul tarling, menurut Wikipedia, mulai muncul sekitar tahun 1931 di Desa Kepandean, Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Alunan gitar dan suling bambu yang menyajikan musik Dermayonan dan Cirebonan popular sekitar tahun yang sama dan menjadi gaya hidup, sesuatu yang digemari, bagi anak-anak muda di daerah tersebut.
Saat itu, nama tarling belum digunakan untuk menyebut seni tradisi ini. Nama yang digunakan untuk merujuk kesenian musik daerah pesisir utara adalah Melodi Kota Ayu untuk daerah Indramayu serta Melodi Kota Udang untuk daerah Cirebon. Nama Tarling kemudian baru diresmikan saat Radio Republik Indonesia sering memperdengarkan musik ini. Kemudian oleh Badan Pemerintah Harian (DPRD), nama tarling diresmikan untuk seni musik ini pada tanggal 17 Agustus 1962.
Tarling berkembang di wilayah yang dipengaruhi unsure Cirebon, khususnya Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan Subang. Instrumen yang dahulu dipakai biasanya gitar dan suling. Sekarang telah berkembang dengan menambahkan gitar melodi, ritmis, bas, suling, kendang, gong, kecrek, dan vocal. Lirik yang biasa dipakai adalah bahasa Jawa dialek Cirebon atau Dermayon. Instrumen banyak mengubah idiom musik dalam gending-gending tari Cirebon, wayang kulit, dan kliningan Sunda (Telisik Tradisi, Kelola).
Menurut Anton Rustadi Mulyana dalam artikelnya Tarling Cahaya Muda, buku Telisik Tradisi, tarling semula merupakan jenis seni untuk janggrungan atau hiburan yang umumnya dilakukan oleh anak-anak muda pesisir utara pada malam hari. Tetapi karena alasan minat dan sikap kreatif serta respon yang bagus dari masyarakat pendukungnya, tarling kemudian bertransformasi menjadi seni pertunjukan panggung sekaligus industri hiburan.
Hal ini tampak pada misalnya bergesernya perangkat instrumen yang dipakai dalam seni tarling menjadi lebih kompleks. Saat ini musik tarling telah menggabungkan unsur musik, sastra lagu, serta teater untuk menghasilkan jenis pertunjukan yang popular. Terkadang, musik dangdut, yang masih menimbulkan pro dan kontra diantara para seniman, juga diselipkan di dalam tarling untuk lebih menarik perhatian dengan memunculkan bintang-bintang biduan tarling seperti diantaranya H. Dariyah dari Cahaya Muda atau Nunung Alvi, Tia Permatasari, atau Sri Avista.


Meski demikian, kekhasan tarling dalam pemuatan kisah-kisah lokal yang biasanya diceritakan dalam cerita rakyat, dongeng, legenda, atau kisah keseharian penduduk Jawa Barat tetap dimasukkan selain tentunya menggunakan gitar dan suling. Misalnya saja yang dilakukan oleh Yoyo Suwaryo dari grup tarling Dharma Muda yang mengangkat fenomena sosial eksploitasi perempuan dalam seni tarling dalam lagunya Dongbret. Hal ini menyebabkan kesenian ini terus bertumbuh menjadi seni pertunjukan yang tetap mendapat tempat di hati masyarakatnya.

RINDU

seni dan budaya

Image

RINDU

10.10

Ketika pertama kali membuka kedua mata, rasa malas itu masih ada. Berat dan mengukung seperti tali yang diikatkan kencang pada tubuhnya.

Ia menarik nafas panjang seolah-olah kegiatan tersebut bisa menyuntikkan kekuatan untuk berdiri dari tidurnya. Tetapi, tidak ada yang terjadi. Tubuhnya masih telungkup seperti bintang laut merebahkan diri di atas pasir. Ia sadar sudah saatnya bangun sebab sekali ia membiarkan rasa malas itu menguasai, ia akan menjadi sulit untuk dilepaskan. Seharian ia bisa-bisa hanya berbaring.

Lantai terasa seperti udara malam hari di lereng gunung di pipinya, membangunkan rasa lapar di tubuhnya. Semalam, belum sempat meletakkan sehelai kasur di atas lantai kamar ia sudah terburu terlelap. Malam tadi masih sama seperti malam-malam panjang lainnya dengan kegiatan rutin latihan teater hingga tengah malam. Usai latihan yang biasanya diakhiri pukul dua belas, ia akan menulis naskah di kamarnya sebelum mengizinkan diri tertidur. Tetapi, semalam hujan turun deras. Usai merokok di luar kamar dan memperhatikan rasa dingin pelan-pelan menjadi sahabatnya, ia masuk ke kamar dan kalah oleh kuasa dingin yang menjadi di saat hujan turun. Ia tertidur.

Kini, ia terbangun empat jam sebelum ia memulai latihan teater. Biasanya ia akan berdiri dengan cepat usai membuka mata, terlebih saat menyadari matahari sudah naik nyaris di atas kepalanya. Lalu, ia akan melakukan olah tubuh dan pemanasan, merentangkan kedua tangan, menekuk tubuhnya, menggoyangkan kepala, merasakan seluruh otot tubuhnya tertarik dan darah mengalir lancar di tubuh mengusir rasa malas dan menyumbangkan kesegaran.

Sementara, setibanya di tempat latihan, ia akan mengkordinir teman-teman teater untuk melakukan pemanasan setelah bincang-bincang singkat mengenai apapun di dalam ruang latihan. Mereka biasa melakukan latihan pemanasan gerak tubuh selama kurang lebih sejam sebelum berlatih akting dan peran. Untuk kali ini, mereka semua sedang mendalami naskah terjemahan Oscar Wilde yang berjudul The Importance of Being Earnest. Kegiatan itu rutin ia lakukan nyaris setiap hari selama kurang lebih tiga jam dan akan meningkat frekuensinya tatkala grup teater mereka akan melakukan pementasan.

Dia tidak pernah merasa jenuh melakukannya setau yang ia sadari. Tetapi, tidak untuk beberapa hari ini. Seperti ada sesuatu yang menahannya. Sesuatu yang mengingatkan akan kekosongan ruang di kamarnya tidur setiap malam walaupun perkakas pementasan berserakan di sana. Naskah-naskah yang ditumpuk di sebelah komputer, koleksi film pertunjukkan, sketsa-sketsa gambar yang ia pajang di tembok lemarinya ternyata sudah dipenuhi debu waktu.

Ia memejamkan mata kembali. Terbayang olehnya pertemuan dengan perempuan itu di suatu pertunjukkan musikal. Ia sebenarnya tidak terlalu menyukai hadir ke acara musikal kecuali jika benar-benar terpaksa. Hari itu, ia datang karena temannya, salah satu produser film yang hendak memberikan peran utama di sebuah film major label, mengajak bertemu di acara tersebut. Maka, ia pun datang hanya dengan sebuah niat bertemu sang teman. Mengejar kebutuhan finansialnya yang semakin menipis hari demi hari, nyaris nihil.

Ketika ia memilih menunggu di sebuah kafe yang letaknya cukup jauh dari keriuhan pengunjung musikal, di satu pojok ruangan yang arah pandangnya terhalang oleh rindang pepohonan berukuran besar, datanglah perempuan itu. Ia memiliki rambut panjang dan ikal kecil menyerupai jalinan mi instan yang umumnya ia santap setiap hari tergantung di kepala sang perempuan. Tidak ada yang istimewa dari perempuan itu. Tubuhnya kurus dan kecil dan ia terlihat sangat sadar diri akan proporsi tubuhnya. Ada aura ketidakpercayaan diri terpancar dari gerak-gerik perempuan tersebut. Meski sebenarnya, lelaki itu menyukai pilihan baju yang dikenakan sang perempuan: sebuah setelah gaun selutut yang mengingatkannya akan Argentina era 1980an dengan motif bunga-bunga dan rok lebar.

Perempuan itu sadar kalau ia diamati. Berkali-kali ia mengintip dengan sudut matanya ke arah tempat duduk sang lelaki. Kadangkala tatapan mata mereka beradu dan perasaan yang muncul memberikan lelaki itu suatu kesenangan tersendiri. Sebuah peluang petualangan singkat selama ia menunggu sang teman. Ia mencondongkan tubuh untuk menu jukkan ketertarikan. Namun, sang perempuan semakin bertambah kikuk. Jelas terlihat gelombang ketidakpercayaan diri menyerbu perempuan itu. Sekonyong-konyong sang lelaki membayangkan kesulitan-kesulitan yang dialami sang perempuan dalam hidupnya. Ketersiksaan untuk berada di tengah-tengah orang asing yang menyulut rasa sadar kekurangan kepribadian pada diri sang perempuan.

Namun, malam itu, bulan dan langit terlihat menawan. Sejujurnya, ia bukan pria yang sangat romantis. Ia tidak senang bermain-main imajinasi dari alam dan hanyut terbawa perasaan. Tetapi, maam itu terasa sedikit berbeda. Ada sebuah keinginan yang mendesak muncul secara alamiah untuk lebih merasakan alam. Ia menikmatinya. Keinginan awal untuk berpetualang telah tergantikan dengan gairah lain yang uniknya memberikan rasa ketenangan tersendiri. Ia bisa merasakan gamblang bagaimana udara bergerak lambat menyapu tubuh, melihat sinar bulan menembis awan dan membentuk bayangan bundar di atas danau dekat kafe, mendengar daun bergesekan terkena angin, serta rasa sejuk yang menjalar dari dalam tubuh. Semua keheningan itu, sensasi yang tercipta secara alamiah saat ia menghayati, segera memunculkan sisi lain kepribadian dari sang perempuan.

Di balik kekikukan yang tidak mempesona dan membuat perempuan itu sungguh membosankan, ia bisa merasakan sebuah kehangatan api menyala. Api yang tidak dimiliki oleh semua orang, hanya bagi mereka yang telah menerima pengalaman pengalaman terpahit dalam hidup tetapi terus bertahan dan maju. Ia yakin perempuan itu pernah berada dalam satu titik di mana ia berdiri pada ambang keyakinannya, nyaris terjungkal ke jurang. Tetapi, api itu menyelamatkannya, membawanya terus ada hingga waktu ini. Kekuatan itu seketika terpancar dan ia merasakan merasuki tubuhnya, mencuri perhatian dan juga membuatnya malu. Kejujuran perempuan itu akan keseluruhan dirinya membuatnya gerah.

Ia telah menguliti perempuan itu ke batas terdalam imajinasi atau instingnya? Semestinya ia menghampiri perempuan itu dan mengajaknya berkenalan, tetapi ia hanya duduk di sana, menikmati malam sementara menunggu sang kawan, termangu dan memikirkan tindakannya. Ia tertarik pada perempuan itu tetapi lagak-lagaknya menunjukkan sebaliknya. Ia memainkan wajah lain.

Keesokan pagi, ia menemukan sapu tangan sang perempuan diantara genggaman tangannya. Ia tidak yakin telah mengajak perempuan itu mampir. Hanya ada bayangan singkat mereka jadi mengobrol malam itu di tepian danau. Mungkin saat itulaah saputangan sang perempuan tertinggal dan ia menyimpannya. Sapu tangan satin warna merah yang menguarkan aroma rempah kuat. Jantungnya berdegup kencang. Ia merindukan perempuan itu, yang pergi dengan menyisakan hanya satu buah sapu tangan merah.

Hari ini adalah hari kelima setelah malam pertemuan itu. Tubuhnya masih terasa lemas. Ia membalik badan dan telentang di atas lantai. Satu tangan diletakkan di belakang kepala, satu tangan lainnya memegang sapu tangan merah milik sang perempuan. Di satu titik pada ruang tempat ia berbaring, ia melihat perempuan mungil itu, duduk tersenyum menunggunya, menunggu ia untuk memberikan kembali sapu tangan merah tersebut. Lelaki itu tersenyum, rasa malas yang mengikatnya seperti tali tiba-tiba melepaskan diri tergantikan dengan dorongan perasaan yang bergejolak.

12.45
Lelaki itu bangun dan bersiap-siap menuju tempat latihan teater dengan langkah ringan. Ia belum sempat sarapan ataupun makan siang hari itu, tetapi perutnya terasa kenyang.
Ia akan berlatih naskah Oscar wilde dengan sepenuh hati.

Utami D.Kusumawati
Ciledug. 7.11.2011