Seni Ukir Stempel Tiongkok: Dari Cap Tandatangan Menuju Karya Seni

politik dan hukum

Seni Ukir Stempel Tiongkok: Dari Cap Tandatangan Menuju Karya Seni

Salah satu stempel terbuat dari batu soshuan hokkian terletak di salah satu lemari kaca yang ada di Museum Nasional Jakarta Pusat. Stempel tersebut memiliki dua warna yakni merah dan putih yang membentuk alur seperti sebuah labirin dengan motif bertuliskan aksara Tiongkok pada bagian tengahnya. Tertulis di bawahnya judul stempel tersebut “Kue (Kemasan yang berlebihan)”. Sang seniman, Li Lanqing, kemudian menjelaskan judul tersebut ke dalam sebuah penjabaran: dahulu kemasan diabaikan, sekarang dibungkus begitu mewah, bahkan lebih mewah dari kuenya (isinya). Baginya, hal tersebut merupakan sebuah pemborosan dan menjadi ironis.

Stempel tersebut merupakan satu dari sekian karya Li Lanqing yang ditampilkan dalam acara Stempel Tiongkok yang diadakan oleh Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Republik Indonesia, Balai Seni Rupa Tiongkok serta Museum Nasional Indonesia. Seni ukir stempel Tiongkok sendiri menurut sejarahnya sudah ada sejak 5000 tahun lalu. Dahulu seni ukir stempel digunakan umumnya untuk cap kekaisaran, sebagai lambang kekuasaan kaisar dan juga tanda bukti mengenai nama dan jabatan sang penguasa. Fungsinya tak lebih dari sekadar tanda tangan seperti zaman sekarang. Namun, sesudah Dinasti Ming (1368-1644 SM), ukiran stempel lantas berkembang menjadi sebuah karya seni yang diapresiasi oleh masyarakat luas. Tidak hanya untuk tujuan praktis tetapi stempel telah berkembang dari segi artistiknya.

“Stempel ini dimulai pada masa Dinasti Han. Sekitar tahun 66 Masehi ada belokan cukup penting yang menandai perkembangan seni ukir stempel Tiongkok, yakni seniman Dinasti Yuan menemukan batu untuk diukir, “ jelas Cui zhiqiang, maestro seniman seni ukir stempel tradisional  yang juga menjabat sebagai Sekjen dewan seni ukir stempel dan tergabung ke dalam Asiosiasi Kaligrafi Tiongkok, ketika ditemui di Museum Nasional.

Stempel tersebut diukir menggunakan pisau untuk mengukir motif yang ada di stempel. Bahan yang digunakan misalnya logam, giok, batu, keramik dan materi lainnya. Sesudah diukir menggunakan pisau maka pada material dioleskan Yinni atau tinta stempel dalam bentuk pasta kental warna merah, untuk kemudian dicetak di atas kertas.  Aksara Tiongkok yang diukir kebanyakan adalah gaya kaligrafi Zhuanshu, digunakan pada periode Negara Berperang dan Dinasti Qin. Karakteristiknya adalah aksara piktograf berbentuk bundar dan kaya variasi. Karya ukiran stempel tidak hanya menampilkan ukiran aksara di atas bahan, tetapi juga ukiran aksara di sisi bahan itu. Huruf-huruf yang diukir di sisi bahan disebut sebagai “Bian Kuan” (apendiks), isinya tentang nama, waktu pembuatan, dan konsep di balik ukiran.

“Bebatuan dari pegunungan Tiongkok, dapat mengukirkan aksara Tiongkok, penuh lekukan berkarakter, setelah diberi tinta ditaruh di atas kertas warna merah dan putih berpadu,” jelas Li Lanqing, yang saat itu tidak bisa hadir ke Jakarta, dalam wawancaranya di sebuah video yang ditampilkan di Museum Nasional.

Nampaknya Li Lanqing memahami, stempel ukir Tiongkok, tidak sekadar hadir sebagai suatu pekerjaan tukang. Ia pada akhirnya adalah sebuah karya seni dan membutuhkan penghayatan serta kecermatan dalam menorehkan pisau untuk membentuk motif dan menciptakan filosofi dari motif yang tercipta. Gambar-gambar pada stempel Tiongkok pada dasarnya sederhana namun demikian membutuhkan keterampilan serta kecermatan yang tinggi. Dalam hal menciptakan pesona artistik yang menawan, sang seniman memperhatikan kaligrafi dan penataan aksara, teknik penggunaan pisau, serta estetika huruf dan garis. Material yang digunakan dalam pembuatan stempel tidak hanya menjadi sekedar objek melainkan sebuah aspirasi seperti yang ia tulis “batu suarakan keindahan, batu suarakan aspirasi. Batu suarakan perasaan, batu suarakan ketertarikan. Batu suarakan kisah.”

Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional, edisi Minggu, 03 Desember 2011

Karinding dan Pergerakan Kaum Muda Sunda Menjaga Seni Musik Tradisi

seni dan budaya

Karinding dan Pergerakan Kaum Muda Sunda Menjaga Seni Musik TradisiImage

KEMAJUAN teknologi serta perkembangan zaman di era globalisasi membuat tradisi seringkali tercerabut dari akar kebudayaannya. Alhasil, ia menjadi tersisih dan kemudian terancam punah. Hal ini berlaku di seluruh ranah tradisi, salah satunya adalah alat musik tradisional Sunda, Karinding. Ketika budaya populer masuk dan menyergap ruang gerak anak muda Bandung, maka ruang bagi Karinding untuk semakin dikenali oleh warganya sendiri semakin menyempit.

Modernitas menyebabkan kaum muda Bandung lebih mengenali idiom-idiom atau memakai simbol-simbol berbau barat tanpa memahami apa artinya. Hal ini menyebabkan munculnya kegelisahan bagi sejumlah budayawan serta kaum muda Bandung yang peduli akan kesenian tradisional. Bersama-sama mereka mengembangkan alat musik tradisional Sunda, Karinding, dan mulai mempopulerkannya ke masyarakat muda Bandung.

Karinding mengacu pada wikipedia merupakan sejenis alat musik atau perkusi khas Sunda yang terbuat dari pelepah kawung (batang pohon aren) dan bambu. Menurut buku Karinding Attack terbitan Minor Books, karinding konon merupakan alat musik yang telah digunakan di dataran Sunda terutama Tasikmalaya sejak abad ke 15.

Alat musik ini terbuat dari pelepah kawung atau bambu berukuran 20 x 1 cm yang dibuat menjadi tiga bagian yaitu bagian jarum tempat keluarnya nada (cecet ucing), pembatas jarum, dan bagian ujung panenggeul (pemukul). Jika ujungnya dipikul, maka bagian jarum akan bergetar dan ketika dirapatkan ke rongga mulut, maka akan menghasilkan bunyi khas. Bunyi tersebut bisa diatur tergantung bentuk rongga mulut, kedalaman resonansi, tutup buka kerongkongan, atau hembusan dan tarikan nafas.

“Dahulu Karinding dimainkan di acara yang menyangkut hajat hidup, ritual, silaturahmi juga acara berkaitan dengan alam seperti gerhana bulan, gempa, dan lainnya. Karinding juga biasa dipakai untuk mengusir hama dan pemujaan terhadap roh nenek moyang. Nadanya yang mengandung desibel rendah ternyata ampuh mengusir hama. Namun, meski umumnya dipakai untuk mengusir hama, alat musik ini pada dulunya juga sering digunakan bagi para pria untuk menarik perhatian gadis-gadis, ” jelas Iman Rahman Angga Kusumah atau akrab dipanggil Kimung, salah satu seniman Karinding, ketika ditemui di Bandung.

Ia mengatakan kalau jenis bahan dan desain Karinding menunjukan perbedaan usia, tempat, jenis kelamin pemakai. Karinding menyerupai susuk sanggul dibuat untuk perempuan, sedang yang laki-laki menggunakan pelepah kawung dengan ukuran lebih pendek, agar bisa disimpan di tempat tembakau. Bahan juga menunjukan tempat pembuatan karinding. Di Priangan Timur, misalnya, karinding menggunakan bahan bambu. Sementara penyebutannya juga mengalami variasi seperti misalnya di daerah Yogyakarta Karinding dikenal dengan “Rinding”, di Bali disebut “Genggong”, di Kalimantan disebut “Dunga” atau “Karindang”, di Nepal bernama “Jawharp” dan di China bernama “Chang”.

Menurut Kimung, selain di Tasikmalaya, perkembangan Karinding juga menyebar ke daerah Parakan Muncung dan juga Ujungberung. Di daerah Ujungberung, Karinding digunakan sebagai alat musik pengiring warga belajar silat. Sementara di daerah Parakan Muncung, ada satu sosok yang mempopulerkan alat musik ini, yakni Abah Olot. Abah Olot yang berasal dari Parakan Muncang ini merupakan anak dari Entang Sumarna yang merupakan seorang pembuat dan musisi Karinding di kawasan Manabaya, Cimanggung, Parakan Muncang. Bersama grup Giri Kerenceng, Karinding kemudian menyebar di Cicalengka dan menginspirasi seniman muda untuk turut berpartisipasi mengeksplorasi Karinding serta memperkenalkannya ke publik.

Ketekunan Abah Olot pun membuahkan hasil. Karinding yang tadinya dikenal sebatas kalangan tertentu kini dilirik juga oleh kelompok musik metal di Ujungberung, yakni komunitas Ujungberung Rebels. Tertarik akan nilai-nilai kesederhanaan, falsafah, serta nada yang dihasilkan oleh alat musik karinding. Ujungberung Rebels pada tahun 2009 mendirikan Karinding Attack, yakni sebuah grup metal yang mengeksplorasi nada menggunakan berbagai jenis alat musik tradisional Sunda.

“Grup musik ini merupakan sebuah fusion atau perpaduan antara gaya keras, tempo cepat, dengan lantunan nada Sunda yang halus,”jelas Kimung.

Dalam grup KARAT atau Karinding Attack terdiri atas sembilan personel, yakni Ki Ameng (karinding), Wisnu (karinding), Kimung (celempung indung), Hendra (celempung anak), Papay (celempung renteng dan kohkol), Okid (gong tiup), Zimbot (suling), Yuki (suling), serta Man Jasad (vokal). Ketika mendengarkan penampilan grup ini, saya menemukan sebuah perpaduan yang unik. Pada salah satu lagu yang ditampilkan, nada dimulai dengan permainan suling yang kemudian dilanjutkan dengan tabuhan gendang, dan dilanjutkan dengan nada yang tiba-tiba metal. Sang vokalis berteriak dengan semangat menyuarakan kritik-kritik sosial dalam lagu ‘Maap’, ‘Lapar Mak’, serta ‘Numora’. Perpaduan karakter metal dengan sentuhan karinding yang meditatif menghasilkan sebuah pertunjukan yang jauh lebih meresapi maknanya.

“Karinding sendiri pada dasarnya memang memiliki banyak filosofi. Bagian pertama dari karinding, pancepengan, merupakan bagian di karinding di mana pemain mesti memegangnya dengan baik. Jangan dipegang terlalu erat tetapi pas dan mantap. Bagian ini mengandung filosofi yakin, bahwa sang pemain harus yakin dengan apa yang ia pegang sebelum kemudian ia mainkan. Yakin bahwa apa yang dimainkannya akan berguna bagi orang banyak,” jelasnya.

Lalu, setelah yakin maka pemain karinding bisa mulai menabuh karinding dengan sabar, tidak tergesa-gesa. Dalam hubungan dengan diri, kesabaran ini mengacu kepada ketekunan dan juga disiplin diri serta manajemen waktu yang baik. Kesabaran berhubungan erat dengan upaya terus menerus mencapai yang terbaik, pantang menyerah dan kreatif dalam menyusun berbagai langkah-langkah yang telah diyakini dengan benar. Setelah itu, karinding bisa dirapatkan ke rongga mulut sampai mengeluarkan bunyi. Ketika bunyi itu hadir, sudah bisa diatur secara sadar oleh sang pemain. Sadar bahwa sang pemain sebaiknya memainkan apa yang harus dia mainkan sebaik mungkin, mengisi kekosongan kawannya, dan juga menyadari posisinya dalam grup.

“ Pola harmonisasi serta prinsip yakin, sabar, dan sadar ini yang menarik untuk diketahui karena ternyata bermuasal dari kearifan lokal masyarakat Sunda. Kalau dalam istilah Jawa Tengah, Eling Lan Waspada,” jelasnya di akhir obrolan.

Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional Edisi Minggu, 11 Desember 2011

Transformasi Tarling: Sinergisme Tradisi dengan Industri

humaniora, seni dan budaya

Transformasi Tarling: Sinergisme Tradisi dengan Industri

N. Riantiarno dalam sebuah acara diskusi buku Kitab Teater beberapa waktu lalu di Gedung kesenian Miss Tjitjih mengatakan pentingnya sinergisme antara dua hal yakni idealisme dengan bisnis untuk mengembangkan dunia pertunjukan di tanah air. 

Hal ini terutama penting diperhatikan ketika membicarakan ranah tradisi, bukan karena grup-grup kesenian pertunjukan tradisi, yang mengusung konsep ‘masa lalu’ terancam punah akibat industri bisnis terkait pasar dan komodifikasi yang berkembang pesat. Melainkan, ditilik dari kemampuan mereka untuk bertahan, grup-grup kesenian tradisi ini mau untuk mengkompromikan dua dunia, masa lalu dan masa sekarang, tradisi dan industri, tanpa meninggalkan esensi isi.  Salah satunya misalnya saja kesenian tradisional asal Jawa Barat, tarling.

Musik tarling (merupakan kependekan dari kata guitar atau gitar dan suling) adalah jenis seni untuk janggrungan atau hiburan yang semula biasa dilakukan oleh anak-anak muda pesisir utara di malam hari. Mereka biasa naik ke atas panggung, menyawer sembari mendengarkan lagu yang berisi pesan moral yang mencerahkan jiwa. Dalam era selanjutnya, tarling berkembang menjadi seni pertunjukan panggung, juga industri hiburan. Asal-usul tarling, menurut Wikipedia, mulai muncul sekitar tahun 1931 di Desa Kepandean, Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Alunan gitar dan suling bambu yang menyajikan musik Dermayonan dan Cirebonan popular sekitar tahun yang sama dan menjadi gaya hidup, sesuatu yang digemari, bagi anak-anak muda di daerah tersebut.

Saat itu, nama tarling belum digunakan untuk menyebut seni tradisi ini. Nama yang digunakan untuk merujuk kesenian musik daerah pesisir utara adalah Melodi Kota Ayu untuk daerah Indramayu serta Melodi Kota Udang untuk daerah Cirebon. Nama Tarling kemudian baru diresmikan saat Radio Republik Indonesia sering memperdengarkan musik ini. Kemudian oleh Badan Pemerintah Harian (DPRD), nama tarling diresmikan untuk seni musik ini pada tanggal 17 Agustus 1962.

Tarling berkembang di wilayah yang dipengaruhi unsure Cirebon, khususnya Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan Subang. Instrumen  yang  dahulu dipakai biasanya gitar dan suling. Sekarang telah berkembang dengan menambahkan gitar melodi, ritmis, bas, suling, kendang, gong, kecrek, dan vocal. Lirik yang biasa dipakai adalah bahasa Jawa dialek Cirebon atau Dermayon. Instrumen banyak mengubah idiom musik dalam gending-gending tari  Cirebon, wayang kulit, dan kliningan Sunda (Telisik Tradisi, Kelola).

Menurut Anton Rustadi Mulyana dalam artikelnya Tarling Cahaya Muda, buku Telisik Tradisi, tarling semula merupakan jenis seni untuk janggrungan atau hiburan yang umumnya dilakukan oleh anak-anak muda pesisir utara pada malam hari. Tetapi karena alasan minat dan sikap kreatif serta respon yang bagus dari masyarakat pendukungnya, tarling kemudian bertransformasi menjadi seni pertunjukan panggung sekaligus industri hiburan.

Hal ini tampak pada misalnya bergesernya perangkat instrumen yang dipakai dalam seni tarling menjadi lebih kompleks.  Saat ini musik tarling telah menggabungkan unsur musik, sastra lagu, serta teater untuk menghasilkan jenis pertunjukan yang popular. Terkadang, musik dangdut, yang masih menimbulkan pro dan kontra diantara para seniman, juga diselipkan di dalam tarling untuk lebih menarik perhatian dengan memunculkan bintang-bintang biduan tarling seperti diantaranya H. Dariyah dari Cahaya Muda atau Nunung Alvi, Tia Permatasari, atau Sri Avista.

Meski demikian, kekhasan tarling dalam pemuatan kisah-kisah lokal yang biasanya diceritakan dalam cerita rakyat, dongeng, legenda, atau kisah keseharian penduduk Jawa Barat tetap dimasukkan selain tentunya menggunakan gitar dan suling. Misalnya saja yang dilakukan oleh Yoyo Suwaryo dari grup tarling Dharma Muda yang mengangkat fenomena sosial eksploitasi perempuan dalam seni tarling dalam lagunya Dongbret.  Hal ini menyebabkan kesenian ini terus bertumbuh menjadi seni pertunjukan yang tetap mendapat tempat di hati masyarakatnya.

Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional Edisi Minggu, 18 Desember 2011Image

LENGGER LANANG

politik dan hukum

ImageLENGGER LANANG

Di tangan para penari lelaki ini, Lengger Lanang berhasil menyuguhkan pesonanya

Seorang penari memasuki tubuh panggung. Ia berdiam di sudut dekat grup pemusik. Tubuhnya terlihat ringkih saat ia berbalik menghadap penonton. Tulang menonjol dari balik kulitnya yang kendur, kedua lengannya kurus, keriput menaungi wajahnya. Melihat semua itu, kecemasan sempat terselip. Apakah tubuh yang renta itu mampu menarikan Lengger  Lanang yang terkenal akan goyangan dan geraknya yang dinamis?

Ternyata, Dariah (83 thn) mampu melakukannya. Ia bahkan menarikan tarian Lengger dengan kepercayaan diri luar biasa. Panggung seolah ia taklukan, ia beri nafas, ia rengkuh untuk kemudian dipersembahkan kepada penonton. Aura ini tidak sembarang dimiliki oleh setiap penari. Dan Dariah adalah salah satu dari segelintir penari yang mampu membuat setiap mata tak berpindah untuk menatap lenggoknya.

“Menari itu bawaannya jadi senang, “ celetuk Dariah dengan sumringah saat ditemui usai pentas di belakang panggung.

Tak heran jika pada tahun 2011 lalu, pemerintah, di bawah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (sekarang Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), memberikan penghargaan terhadap kiprahnya. Dariah mendapatkan penghargaan salah satu maestro yang dinilai mempunyai peran besar dalam melestarikan seni tradisi, yakni tarian Lengger Lanang. Untuk itu, Dariah mendapatkan bantuan dana dari pemerintahan pusat sebesar 1,25 juta per bulan seumur hidup.

Lengger Lanang menurut  penjelasan Yusmanto, pemerhati budaya dari Banyumas, muncul dari kebudayaan yang bermuasal di sepanjang aliran sungai Sedayu. Pada masa dahulu, muncul kebudayaan dan kesenian pada bagian barat dan timur aliran Sungai Sedayu. Di bagian barat sungai Sedayu, muncul dan berkembang tarian Ronggeng. Sementara, di bagian timurnya, Lengger hidup dan berkembang.

“Lengger merupakan pertunjukan rakyat, bukan berasal dari kebudayaan keraton, yang  lazim dilakukan di daerah Banyumas, Kedu, Kebumen, Purbalingga. Karena berasal dari kebudayaan rakyat, tarian ini jarang sekali memiliki pakem gerak dan setiap penari bebas menafsirkan gerak sesuai dengan ekspresi personal mereka, ” jelas Yusmanto.

Sesuai namanya, tarian ini ditarikan oleh penari lelaki dan bukan perempuan. Latar belakangnya adalah ketika masa lalu kebudayaan kesenian masih patriarki. Kebudayaan ini menyebabkan ruang bagi perempuan dalam kesenian menjadi minim dan terbatas. Sehingga, banyak peran yang semestinya dilakukan oleh perempuan, akhirnya dilakukan oleh lelaki. Lengger Lanang adalah salah satunya. Meski demikian, uniknya, para lelaki ini tidak malu berubah dan berdandan menjadi perempuan dan melatih gerakan tubuh mereka jadi gemulai. Masyarakat pun merespon dengan baik pertunjukan dari para penari lelaki yang ‘cantik’ dan ‘gemulai’ ini.

 “Peran lelaki dalam menarikan Lengger bergeser saat memasuki tahun 1970. Saat itu ada kepentingan politis yang dilakukan pemerintah terkait dengan kebudayaan daerah sebagai penopang kebudayaan nasional. Sehingga, perempuan menjadi lebih banyak menarikan Lengger,” jelasnya.

Mulai dari tahun tersebut, selain perempuan banyak yang mulai menarikan Lengger, perubahan juga terjadi terutama pada tujuan diadakannya pertunjukan tari. Jika dahulu, tarian Lengger biasa dilaksanakan sebagai pemujaan terhadap dewi Sri (bersifat ritual) sekarang tarian ini dipentaskan untuk tujuan hiburan. Oleh karena itu, terdapat percampuran dan adaptasinya sendiri dengan budaya pop serta tujuan komersil untuk mendapatkan uang.

“Sayangnya, regenerasinya berjalan lambat. Saat ini saja, di daerah Banyumas hanya ada tiga penari muda Lengger Lanang tetapi salah satunya sudah berhenti menari dan menjadi PNS,” jelasnya.

 Yusmanto mengatakan sampai saat ini belum ada bantuan diberikan oleh pihak pemerintah daerah terkait dengan keberlangsungan tari Lengger Lanang Banyumas. Pemda menurutnya masih semata-mata fokus terhadap pembangunan fisik. Sehingga, tak banyak generasi muda yang tertarik menekuni Lengger Lanang. Selain itu, permintaan pementasan tari Lengger Lanang pun juga semakin sedikit yang akhirnya mengancam keberlangsungan hidup para seniman Lengger Lanang tersebut. Hal ini menjadi miris karena beberapa penari Lengger Lanang tidak memiliki anak dan tidak berkeluarga demi menekuni profesi sebagai seniman Lengger. Sehingga proses regenerasi pun mesti mengandalkan pihak luar.

“Anak-anak saya ya kalian semua,” ujar Dariah.

 Mungkin Dariah saat itu sedang bercanda, mengemukakan bahwa kami semua yang bersama dengannya saat itu adalah anak-anaknya. Tetapi, bisa jadi kakek tua ini berharap, pernyataannya bukan sekadar angin lalu semata. Ia ingin benar-benar ada anak-anak atau penerusnya kelak yang menghargai serta merespon seni tari tradisi seperti yang ia telah lakukan di semasa hidupnya.

 Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional Edisi Minggu 07/01/2012