politik dan hukum

Foto: Utami D. Kusumawati

HANG OUT: KEMIRI

MEMASUKI kawasan jalan raya Mampang, ada sebuah mall yang dibangun belum lama ini, yakni PEJATEN VILLAGE. Meski baru didirikan, mall ini memiliki cukup banyak pilihan tempat nongkrong bagi anak muda. Tempat ini juga pilihan yang tepat bagi Anda yang hendak melarikan diri sementara dari kemacetan Jakarta pada jam pulang kantor sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke rumah.  Salah satu tempat yang direkomendasikan di mall ini adalah KEMIRI.

Kemiri merupakan sebuah areal foodcourt yang dikonsep mengambil tema pasar Betawi tempo doloe. Konsep tersebut tampak bahkan sudah ditampilkan semenjak pengunjung memasuki pintu depan: sebuah becak tua serta gerobak dipajang di dekat pintu masuk. Dari sini, pengunjung sudah bisa menilai atmosfer apa yang hendak ditampilkan di KEMIRI.

“KEMIRI didirikan akhir Desember 2009 di bawah pengelolaan PT Prima Cipta Lestari. Perusahaan ini pada dasarnya berfokus pada dua grup makanan, yakni Indonesia dan Chinese. KEMIRI merupakan salah satu lini kami yang berfokus pada masakan nusantara,” jelas Ilham Mayadi, manajer resto, ditemui di KEMIRI, beberapa waktu silam.;

Konsep yang diusung oleh tempat ini, dengan mengambil atmosfer Betawi tempoe doeloe, adalah untuk memunculkan nostalgia kembali akan masa lalu Jakarta. Oleh karena itu, pada sisi interior foodcourt ditemukan pernak-pernik seperti warung jajan pinggir jalan lengkap dengan kaleng kerupuk serta jajanan anak-anak masa lalu, jendela besar khas bangunan Batavia, lampu antik, serta tembok dengan finishing yang seolah belum selesai. Pemilihan pernak-pernik dan elemen masa lalu ini unik mengingat sekarang ramai bermunculan foodcourt yang mengusung konsep futuristic serta minimalis.

Di KEMIRI, pengunjung bisa bebas memilih makanan atau minuman yang mereka mau, semua di corner atau stall yang tersebar di seluruh ruangan. Ada 20 stall dengan aneka jenis makanan dan minuman khas nusantara dibagi per tema. Pengunjung bisa membeli makanan atau minuman di stall dengan menggunakan kartu yang akan dibayar di dekat pintu keluar. Harganya bervariasi mulai dari sekitar Rp 10.000 hingga Rp. 40.000.

Misalnya saja  stall Aneka Sate yang menyajikan berbagai macam sate diantaranya  sate ayam warung jati, sate sapi maranggi serta sate kambing muda tegal. Sementara,  bagi Anda yang kangen dengan menu makanan Jawa, ada stall Mie Jawa yang menawarkan Mie Jawa ataupun Bakmi Goreng Jawa. Selain Mie Jawa, ada juga stall Gudeg di mana Anda bisa mencicipi menu Nasi Liwet Solo ataupun Gudeg Yogya dengan isi lauk yang beragam.

“Selain masakan nusantara, setahun lalu, kami mulai juga mengangkat menu makanan Asia. Makanya, di sini sudah ada Teppanyaki Corner, Thaifood Corner, ataupun stall Roti Prata di bagian belakang sana,” jelas Ilham.

Penyajian menu Asia di KEMIRI, oleh Ilham, dikatakan menyesuaikan dengan pangsa pasar pengunjung PEJATEN VILLAGE. Meski demikian, ia menolak kalau KEMIRI dikatakan telah keluar dari konsep kelokalan. Hal itu dibuktikan, kata Ilham, untuk setahun ke depan ini, yakni di tahun 2012 ini, KEMIRI akan fokus untuk mengeksplorasi makanan dari Indonesia. Pada akhir bulan Januari nanti, KEMIRI akan menghadirkan stall Balinese khusus bagi mereka yang rindu dan menggemari makanan dari pulau Dewata tersebut.

“Yang pasti, akan ada nasi ayam dan bebek betutu dan sate lilit. Menu lainnya, masih dipertimbangkan,” jelasnya.

Pemilihan makanan yang khas nusantara serta desain interior yang membawa kenangan kita akan sesuatu yang berbau lokal di tengah geliat dan hiruk pikuk kota, sedikit banyak mampu memberikan kesan tersendiri. Terlebih, ukuran tempat yang cukup luas sehingga selain makan , pengunjung juga masih bisa bercengkerama dan mengobrol dengan rekan, teman, atau keluarga dengan akrab. Urusan rapat pun masih bisa dilakukan di tempat ini sembari mendengarkan lagu-lagu jadul ataupun tembang Jawa yang menenangkan.

“Untuk urusan rapat, ulangtahun, gathering, reuni, pesta, ataupun acara khusus lainnya, kita bisa fasilitasi. Tempat ini memiliki kapasitas hingga 600 orang. Untuk harga paket, kami serahkan saja ke pengunjung mau mengisi ulang kartu seberapa besar,” jelasnya.

KEMIRI dibuka dari pukul 10 pagi hingga 10 malam namun masih bisa disesuaikan sesuai kebutuhan pemilik acara. Untuk ke depannya, Ilham mengatakan KEMIRI akan terus mengeksplorasi makanan nusantara dari daerah-daerah di Indonesia lainnya.

Alamat

KEMIRI

PEJATEN VILLAGE lantai 3

Jl. Warung Jati Barat 39, Jati Padang

Pasar Minggu, Jakarta Selatan

(021) 7819860

Jam buka: 10.00 – 22.00

Kapasitas: 600 orang

Utami D. Kusumawati

politik dan hukum

The Flying Swords of Dragon Gate (3D)

Jet Li kembali beraksi, kali ini dengan misi menghabiskan antek-antek Kaisar Dinasti Ming  yang korupsi

Alkisah, pada masa pemerintahan Dinasti Ming yang otoriter, terbagi dua kelompok pemerintahan, yakni Blok Barat dan Blok Timur yang bertugas membantu Kaisar. Namun, kedua blok saling bersiteru satu sama lain dan mereka juga melakukan korupsi hebat yang merugikan rakyat. Dari kalangan rakyat, muncul seorang pemberontak, yang berpihak kepada rakyat. Ialah Zhou Huai’an (Jet Li). Bersama dengan dua rekannya, Huai’an melakukan aksi untuk menumpas mereka yang melakukan kejahatan terhadap rakyat.

Di tengah aksi, Huai’an bertemu dengan pendekar perempuan Lin Yanqiu (Zhou Xun) dan bekerjasama dengan para perompak yang mengincar harta karun terpendam di Gerbang Naga. Gerbang Naga dulunya merupakan sebuah istana tempat menyembunyikan tawanan perang yakni perempuan, anak-anak, dan emas. Ketika badai gurun pasir melanda, istana ini terkubur jauh di dalam pasir.  Tertarik dengan emas yang melimpah ruah, para perompak mengupayakan strategi untuk masuk ke dalam Gerbang Naga. Niat mereka ternyata serupa dengan niat para pejabat pemerintahan, termasuk salah satunya, Yu Hua Tian (Kun Chen), musuh bebuyutan Huai’an.

Dalam film yang disutradarai oleh Tsui Hark ini, seni bela diri merupakan fokus kekuatan utama dan merupakan genre khas dari film-film China.   Sebelumnya, Tsui sudah sering menggarap film-film bela diri termasuk diantaranya New Dragon Gate Inn, yang sukses di pasaran. Pada film kali ini, Tsui masih konsisten mengusung semangat seni bela diri, yakni kesetiaan, fokus pada tujuan, dan hasrat menolong yang lemah. Melihat film dari Tsui sebelumnya, kita tahu bahwa sang sutradara paham mengenai semangat bela diri ini.  Misalnya saja tampak pada karakter Huai’an. Sebagai seorang ahli silat, dia merasa perlu untuk membersihkan Dinasti Ming dari pemerintahan yang korup. Fokus pada tujuannya, dia juga menghindari cinta yang datang dari Yanqiu.

Meski demikian, Tsui tidak hanya menggarap aspek tradisinya semata.  Ia juga mencari sisi kreatif lainnya dengan membuat versi 3D IMAX. Diwawancarai di salah satu situs film, Tsui mengatakan teknologi sangat membantunya untuk mengembangkan kemampuan membuat filmnya, terutama dalam genre seni bela diri. Hasil dari penerapan teknologi 3D ini adalah para penonton bisa lebih merasakan ketegangan yang terjadi ketika pertarungan antara para pendekar, tokoh protagonis dengan antagonis berlangsung. Pedang seolah benar-benar menusuk penonton, serpihan-serpihan besi, tali atau kayu beterbangan, belati dilemparkan ke penonton, semua adegan pertarungan terasa lebih klimaks dengan teknologi ini.

Sayangnya, aksi laga tersebut tidak diimbangi dengan cerita yang rapih. Banyak hal terasa dipaksakan dan terjadi secara tiba-tiba. Misalnya saja, adegan ketika pelayan perempuan Kaisar yang tadinya membelot dan dikejar-kejar oleh pasukan kerajaan berubah menjadi musuh Huai’an. Motif sang tokoh perempuan untuk tiba-tiba mendukung Kaisar tidak jelas di sini. Tiba-tiba di akhir cerita, ia berbelot dan mengatakan bahwa ia mendukung Kaisar. Hal seperti ini juga ditemui pada beberapa adegan lainnya, sehingga jalinan cerita terlihat seperti kurang digarap dan dipikirkan secara mendetail dan baik. Namun, di luar persoalan itu, dari segi hiburan film ini sudah mencukupi.

Review The Help

politik dan hukum

The Help

Eugenia “Skeeter” Phelan (Emma Stone) merupakan seorang perempuan yang baru saja lulus dari Universitas Mississippi dan menetap kembali di perumahan orangtuanya di Jackson, Mississippi . Tidak seperti teman-teman perempuannya, yang umumnya setelah lulus menikah dan punya anak, Skeeter berkeinginan untuk lebih dari itu. Menjadi seorang novelis dan juga jurnalis.

Untuk meraih mimpinya, ia mendaftar di sebuah koran lokal, menulis artikel tentang para pekerja rumah tangga. Ia pun bertemu dengan seorang pekerja rumah tangga, Aibileen Clark (Viola Davis), dan mewawancarainya. Ternyata, pekerjaannya membuat perempuan muda ini sadar banyak hal: ada banyak ketidakadilan terutama berkaitan persoalan rasialisme sedang terjadi di lingkungannya tinggal dan semua orang berusaha menutup mata mereka dengan kenyataan tersebut.

Disetir oleh perasaan kehilangan atas pekerja rumah tangga yang mengasuhnya sejak kecil, Skeeter berniat membongkar ketidakadilan yang berlangsung di kota kecil kelahirannya. Perjalanannya tidak mudah. Ia ditentang oleh teman-teman dekatnya dan bahkan ibunya sendiri. Salah seorang temannya bahkan mendorong disahkannya undang-undang yang meminta pemisahan dan pembedaan bagi kulit putih dan kulit hitam, diantaranya pembuatan toilet khusus bagi para pekerja kulit hitam, hal yang ia tentang sedari awal.

Namun, di tengah perjalanan, para warga kulit hitam terutama pekerja rumah tangga yang sering mendapatkan perlakuan tidak adil akhirnya mau angkat bicara. Mereka satu persatu mengisahkan pengalaman mereka selama bekerja di rumah majikan mereka yang berkulit putih serta perlakuan apa yang mereka dapatkan selama ini.  Kisahpun berhasil dituliskan dalam satu buku berjudul “The Help”.

Film The Help ini merupakan  karya adaptasi dari sebuah novel dengan judul dan isi cerita yang sama karya penulis Kathryn Stockett. Stockett menyelesaikan novel tersebut selama lima tahun dan mengalami penolakan dari 45 penerbitan sebelum Susan Ramer dari Don Congdon mau untuk mewakili karya Stockett.  The Help telah dipublikasikan di 35 negara dan dalam tiga bahasa. Pada bulan Agustus 2011, novel ini terjual sebanyak lima juta kopi dan bertahan dalam daftar buku terlaris versi The New York Times. Novel ini juga mendapatkan penghargaan diantaranya buku terbaik Amazon (2009), Orange Prize Longlist (2010), Indies Choice Book Award (2010), Townsend Prize (2010), Exclusive Books Boeke Prize (2009), serta International IMPAC Dublin Literary Award Longlist (2011).

“Saya menulis setelah kejadian 11 September. Awalnya tidak direncanakan sebagai sebuah buku, hanya sebuah tulisan tentang suara dalam hati saya, yaitu saya rindu kampung halaman dan tidak ada yang bisa saya lakukan karena layanan telepon terputus. Kemudian, cerita ini berkembang menjadi draft sebuah novel dan saya kirimkan ke berbagai penerbitan setelah lima tahun dikerjakan,” jelas Kathryn dalam wawancaranya dengan Life.

Sementara itu, sang sutradara, Tate Taylor, yang juga teman dekat Kathryn mengatakan latar belakang novel tersebut difilmkan adalah ketika Kathryn menyerahkan naskah novelnya kepada Tate. Diskusi pun terbuka di sana. Tate melihat potensi naskah tersebut untuk dijadikan sebuah film. Dalam proses lebih lanjut, Kathryn tidak ikut campur tangan dalam pembuatan novel ke film. Proses kreativitas sepenuhnya berada di tangan Tate. Beberapa adegan terdapat dalam novel mesti dipotong oleh Tate agar film lebih terasa efisien dan efektif.  Selain itu, suara narator juga diubah oleh Tate menjadi satu suara (dalam film ini diwakilkan oleh Aibileen) dari banyak suara perempuan kulit hitam.

“Menyenangkan membuat film ini karena selama prosesnya ada sebuah atmosfer kekeluargaan yang tercipta antara para kru dan pemain. Film ini juga dibuat di Mississippi, tempat di mana Kathryn dan saya dibesarkan. Mengenai naskahnya saya mesti menulis ulang sebanyak 30 halaman dari total keseluruhan 200 halaman tetapi tidak ada kesulitan yang berarti. Proses penulisan selesai dalam jangka waktu dua tahun,” jelas Tate dalam sebuah wawancara di website film.

Proses penulisan naskah yang cukup lama, yakni selama dua tahun, berimbas kepada hasil film yang matang dari segi isi. Pertama, film ini mampu mengisahkan secara baik kegelisahan yang dialami oleh para pekerja domestik kulit hitam ketika pembedaan ras terjadi sekitar tahun 1960’an.  Adegan yang ditampilkan oleh Tate secara konsisten berfokus pada ketegangan yang terjadi antara warga kelas atas kulit putih dengan para pekerja rumah tangga kulit hitam serta ironi dalam hubungan penuh kasih sayang dari para pekerja rumah tangga dengan anak kulit putih yang mereka asuh. Kedua, sang tokoh protagonist, Skeeter, mampu tampil secara proporsional sebagai seorang jurnalis dan tidak ditonjolkan secara berlebih sebagai seorang ;pahlawan’ kulit hitam. Tokoh Aibileen serta Minny (kulit hitam) diangkat oleh Tate dalam akhir cerita sebagai ‘pahlawan’ sesungguhnya perjuangan melawan perbedaan ras tersebut.

Meski demikian, sayangnya dari segi karakter, film ini masih terlihat seperti ‘sinetron’ atau opera sabun dengan penggambaran yang hitam-putih. Misalnya saja, tokoh-tokoh perempuan sosialita Mississippi, diwakilkan oleh Hilly dan teman-temannya, tampil begitu kejam dan tidak berperasaan. Sementara, para pekerja rumah tangga ditampilkan sebagai sosok yang tertindas. Walau pada kenyataannya mungkin saja terjadi demikian tetapi penggambaran karakter yang terlalu hitam ataupun putih justru mengurangi kesan alamiah serta manusiawi dari film tersebut.

Tetapi setidaknya film ini diisi dengan dialog-dialog yang mampu memberikan inspirasi sendiri serta ruh dari isi cerita, seperti salah satu yang paling saya ingat, dialog Aibileen di akhir cerita, “ orang tidak pernah menanyakan bagaimana rasanya menjadi saya. Dan sekali saya bilang kejujuran mengenai itu, saya merasa bebas.”

Utami D. Kusumawati