Asiknya Main Yoyo

gaya hidup

Image 

Hendra terdiam sejenak. Tangannya mengeluarkan mainan yo-yo dari dalam kantong celananya. Tak lama kemudian, benda bundar bertali itu meluncur ke lantai dan terpelanting lagi ke atas. Gerakan tangannya lincah dan matanya fokus.

Hendra merupakan salah satu anggota dari komunitas yo yo STAR (Spinner Tangerang) yang sering berlatih yo yo di Mall Lippo Karawaci bersama dengan anggota lainnya. Ia telah bergabung dengan STAR semenjak didirikan pertama kali pada awal tahun 2011.

“Saya senang main yo yo sejak kecil. Dulu kan sempat booming tuh permainan yo yo. Cuma karena dulu belum punya uang jadi belum bisa beli. Setelah besar, saya akhirnya bisa membeli yo yo pertama dan gabung sama komunitas yo yo,” jelasnya saat ditemui di Tangerang.

Sementara itu, menurut Dennis, STAR dibentuk tanggal 9 Januari 2011 dengan tujuan mengumpulkan para spinner (pemain) yo yo di wilayah Tangerang. Di daerah itu sudah banyak pemain yo yo yang cukup handal tetapi belum ada wadah yang menyatukan mereka. Dennis dan teman-temannya akhirnya membentuk STAR untuk lebih memudahkan komunikasi antar pemain yo yo Tangerang.

“Sebelum di STAR, saya sempat gabung sama komunitas yo yo Indonesia, terus karena melihat semakin banyak pemain yo yo asal Tangerang, STAR akhirnya dibentuk dengan anggota awalnya 10 orang,” jelasnya melalui telepon.

Para anggota kemudian saling berkumpul untuk berbagi ilmu dan juga berlatih yo yo bersama. Pada dasarnya, kata Dennis, ada lima divisi dalam permainan  yo yo. Divisi itu antara lain 1A, 2A, 3A, 4A, dan 5A. Divisi 1A merupakan divisi yang paling populer karena selain yang digunakan yo yo berukuran lebih besar juga pemain lebih fleksibel dalam menciptakan trik baru. Divisi 2A memainkan dua buah yo yo pipih yang dimainkan dengan mengatur kordinasi antara gerakan tangan kanan dan kiri.

Sementara divisi 3A, yang merupakan gabungan antara teknik 1A dan 2A kata Dennis merupakan yang tersulit karena dalam divisi ini banyak teknik dengan melibatkan tali dan dua buah yoyo. Lalu, ada divisi 4A yang paling unik karena menggunakan yo yo berukuran besar tanpa tali. Sementara 5A, tali yoyo diikatkan ke jari tangan dan bermain dengan bandul dan dadu. Pemain mesti mengatur kordinasi antara putaran yoyo dengan gerakan dadu.

“setiap pemain bebas mengeksplorasi divisi manapun sesuai dengan keinginannya. Mau langsung 4A tanpa 1A ya bisa saja, “ jelasnya.

Karena semakin berkembangnya yo yo di Indonesia, jumlah anggota komunitas STAR pun semakin banyak. Akhirnya, tahun kemarin, STAR memperingati hari jadinya dengan mengadakan kontes kecil-kecilan bagi para anggota STAR.  Di Indonesia sendiri permainan yo yo, meski perkembangannya belum lama, sudah banyak digemari oleh masyarakat muda. Banyak kreativitas dieksplorasi dan trik dihasilkan.  Tak heran, jika akhirnya, kata Hendra, salah satu pemain yo yo muda Indonesia diakui kualitasnya oleh para pemain yo yo dunia.

Melatih Refleks dan Konsentrasi

Salah satu dari sekian banyak manfaat bermain yo yo bagi Hendra, yang sudah mencintai yo yo sejak kecil dan mengidolakan Tyler Severance, adalah kemampuannya untuk melatih gerak refleks dan konsentrasi. Semenjak bermain yo yo tujuh tahun lalu, refleks Hendra menjadi meningkat, begitupula konsentrasinya. Ia sendiri telah bepergian keliling Indonesia serta ke Asiapasifik untuk menjadi demonstrator yo yo dan mengikuti kontes yo yo.

“Kuncinya ada pada teknik menyeimbangkan permainan tali, putaran yoyo, serta menciptakan trik. Kita mesti fokus dan juga melatih konsentrasi kita. Semakin kreatif trik yang diciptakan, semakin unggul permainan yo yo kita,” jelasnya.

Dennis juga mengakui hal tersebut. Bagi seorang pemula, keahliannya bermain yo yo juga ditentukan atas seberapa cepat ia mampu menangkap trik, memahami gerak, serta berkonsentrasi.

“Kadang ada yang pahamnya cepat banget dan tangkas, dalam tiga bulan aja udah bisa kuasai teknik dasar,” jelas Dennis.

Menurut situs hobbiesandhobbies.com beberapa manfaat bermain yo yo antaranya adalah  mengembangkan kemampuan motorik, meningkatkan kordinasi mata dan tangan, mengembangkan kemampuan fisik karena yo yo mempelajari gravitasi, inersia, perputaran energi dan dorongan sentrifugal, meningkatkan kesadaran ruang akut, sampai mengurangi mental stress.

Tak hanya banyak manfaatnya, bermain yo yo juga tidak membutuhkan dana yang banyak, Harga yo yo moderen di pasaran kini dijual mulai dari 50 ribu hingga 15 juta rupiah dan yo yo bisa dimainkan di mana saja serta dibawa serta ketika pergi liburan. Yang pasti, bentuknya yang mini dengan kemampuannya untuk menciptakan gerak sentrifugal menjadikan yo yo permainan yang asik untuk dieksplorasi. Tertarik mencoba?

Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional, 25 Maret 2012

 

Image

 

 


WAYANG BEBER

Image

Wayang Beber merupakan narasi roman cinta sejati yang tertuang dalam sebuah bentangan kertas

Alkisah Prabu Bramawijaya dari Kerajaan Kediri panik. Puterinya, Dewi Sekartaji, menghilang dari istana karena enggan dijodohkan oleh lelaki yang tak sesuai hatinya. Prabu Bramawijaya lantas memerintahkan Jaka Kembang Kuning, Raden Panji Asmorobangun yang menyamar jadi rakyat jelata,  menemukan Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana. Akhir cerita, sang raja yang menyamar akhirnya jatuh cinta pada sang puteri. Demikian pula sang puteri padanya.

Itulah penggalan kisah dalam lakon Joko Kembang Kuning yang ditampilkan oleh grup tradisional Wayang Beber Pacitan dalam pementasan yang diadakan di Bentara Budaya Jakarta akhir Maret ini. Sang dalang dengan fasih menceritakan kisah demi kisah dalam gulungan wayang yang bisa dibeberkan atau dibentangkan sepanjang tiga sampai empat meter di atas sebuah ‘ampok’.

Kisah roman atau cerita tentang cinta sejati memang biasa disajikan dalam pertunjukkan wayang beber tradisional. Menurut sang dalang, Rudi Prasetyo, lakon Panji yang bertema roman (kisah percintaan antara Raden Panji Asmorobangun dengan Dewi Candrakirana) merupakan pakem yang sering dipentaskan dalam pagelaran wayang beber tradisi di Pacitan, Jawa Timur.

“Dalam cerita itu terdapat pesan sebuah cinta sejati, yakni satu untuk setiap orang,” katanya ditemui sebelum pementasan.

Karena seorang dalang tak menjadi sekadar penutur cerita tetapi juga penyampai moral, dalang wayang beber, katanya, mesti menganut kesetiaan sebuah cinta sejati. Jika melanggar, misalnya menikah dua kali, maka jabatan wayang akan dicopot.

Wayang beber sendiri merupakan suatu pertunjukan wayang menggunakan gulungan gambar sebagai penyampai cerita yang bermula dari zaman kerajaan Majapahit. Setiap pertunjukkan biasanya terdiri atas enam gulungan dan setiap gulungan berisi empat kisah cerita. Sehingga, total adegan yang dibawakan dalam satu pementasan biasanya 24 buah. Tetapi, menurut sang dalang, gambar ke 24 biasanya tak ditampilkan. Alasannya adalah gambar tersebut tidak lazim, bisa karena gambar kosong, gambar luar biasa bagus, atau gambar mengandung adegan pornografi. Wayang beber kemudian dibesarkan di Pacitan dan Wonosari dengan masih memegang kuat pakem-pakem tradisi yang ada.

“Tidak sembarang orang bisa menjadi dalang wayang beber. Mesti keturunan langsung atau diangkat anak, seperti saya, oleh sang dalang terdahulu. Prosesnya juga panjang dan membutuhkan banyak ritual tertentu. Makanya proses regenerasinya langka dan sulit,” ujar Rudi yang belajar mendalang pada Mardi Guno Utomo.

Image

Wayang beber menggunakan kertas gedok dan dilukis dengan teknik lukis tradisional, yang disebut teknik sungging. Dalam teknik pewarnaan tersebut, tampak gradasi untuk satu warna. Misalnya untuk menampilkan warna langit yang biru, bisa dibutuhkan hingga lima warna, mulai dari putih, biru muda, biru, biru gelap, dan hitam. Wayang-wayang lukisan ini kemudian digulung dan diletakkan di dalam sebuah ‘ampok’ atau kotak penyimpanan wayang yang terbuat dari kayu suren. Kayu jenis ini merupakan kayu yang tak gampang didapatkan sehingga pada perkembangannya, para pecinta wayang beber di perkotaan membuat ampok dari berbagai macam media, seperti kayu, bambu, ataupun bahan lainnya.

Selain dikenal karena teknik pewarnaannya yang rumit, wayang beber juga terkenal akan nuansa magisnya. Misalnya saja, sebelum pementasan, sang dalang mesti melakukan aneka ritual magis tertentu untuk kelancaran pertunjukan. Rudi menjelaskan sebelum pementasan hari itu berlangsung, dia telah meletakkan sesajen, meminta izin dari leluhur serta membaca mantera-mantera. Lalu, ketika izin telah diturunkan dari leluhur, berupa tanda-tanda tertentu yang diketahui oleh keseluruhan tim, wayang beber baru bisa digelar di atas panggung.

“Percaya gak percaya, tetapi sudah empat kali kita mengalami kejadian tidak enak karena ada yang kurang dalam melakukan proses ritualnya,” jelas lelaki kelahiran 1984 yang telah menekuni dunia wayang beber semenjak tahun 2003 ini.

Tak hanya itu, ketika pementasanpun, di depan wayang beber diletakkan aneka sajian mulai dari nasi, ayam, telor, kelapa yang ia sebut sebagai sajen. Sementara di bagian kanannya, ia meletakkan dupa yang berbau khusus. Kuatnya nuansa mistis ini, pelakonan yang monoton serta visual tanpa gerak, membuat wayang beber seringkali ditinggalkan oleh generasi muda dan membuat proses regenerasi dalang berjalan alot di daerah asalnya.

Menurut budayawan, Taufik Razen, beber sendiri memiliki arti bentara atau bentangan dan tradisi wayang beber muncul sebagai sebuah upaya menunjukkan budaya tandingan oleh masyarakat pesisiran. Dari catatan perjalanan kalifah cina pada zaman Majapahit, terdapat sebuah pertunjukkan wayang pertama, yakni wayang beber yang ditulis di lontar pada abad 9 dan 10 dengan menggunakan narasi nusantara.

Image

“Kisah dalam wayang beber dituliskan oleh Darmawangsa Teguh di Kediri dengan elemen Sanskrit dan versi Kediri. Cerita Panji yang dikisahkan oleh dalang merupakan cerita yang berasal dari khasanah asli nusantara, hubungan antara matahari dan bulan, hide and seek, pencarian dan penemuan, digubah dalam cerita panji. Tak heran kalau peradaban pesisiran diikat oleh cerita panji,” jelasnya.

Saking pentingnya kisah Panji dalam narasi wayang beber, banyak negara tertarik untuk memamerkan koleksi wayang beber Indonesia. Salah satunya adalah Moscow yang berniat memamerkan koleksi wayang beber sepanjang 60 meter. Bagi masyarakat internasional, kisah Panji yang terbentuk dalam wayang beber merupakan representasi kebudayaan masyarakat pesisiran di daerah Asia Tenggara. Kisah ini nyatanya telah tersebar luas mulai dari Sulawesi, Batam, Timor, Vietnam, Thailand sampai Kamboja.

“Kisah panji ini bagi masyarakat dunia penting karena merupakan bayangan kebudayaan pesisiran. Oleh karena itu pemeliharaan wayang beber sangat penting. Diperlukan inovasi agar wayang ini bisa terus lestari di era digital ini, “katanya.

Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional, Minggu 25 Maret 2012

gaya hidup, humaniora

Wayang Minus Gaya Klasik

humaniora, seni dan budaya

TRADISI

Wayang Minus Gaya Klasik

Agar mampu bertahan di tengah gempuran modernisasi dan kehidupan masyarakat urban yang serba cepat, seni tradisi harus mampu membuka diri terhadap perubahan zaman.

Salah satu bentuk seni tradisi yang terus dicari relevansinya dalam konteks kekinian adalah wayang. Sebagai jenis seni tradisi yang paling tua di Tanah Air, wayang telah menapaki lapisan zaman. Di masa pra sejarah, wayang hadir dalam bentuk boneka-boneka kayu yang diukir menyerupai wajah dan sosok para leluhur. Ketika agama Buddha, Hindu dan Islam masuk ke Nusantara, wayang mejadi media siar agama dan pengajaran moral kepada masyarakat. Selama berabad-abad, wayang terbukti mampu beradaptasi melintasi zaman dan terus menemukan aktualisasinya di tengah masyarakat.

Upaya aktualisasi seni tradisi wayang terus dilakukan hingga abad millennium ini. Melalui pendekatan teknologi multi media, misalnya, wayang dikemas menjadi tontonan yang tidak lagi terkesan kuno,  ketinggalan zaman, dan hanya ditonton oleh orang-orang tua. Salah satu yang menggunakan pendekatan ini untuk mempopulerkan wayang kepada generasi saat ini adalah Mirwan Suwarso. Mirwan bersama dengan rumah produksinya, Mirwan Suwarso Production (MSP) Entertainment membuat pertunjukkan wayang dengan gaya sinematik.

Pertunjukkan pertama yang dihasilkan oleh Mirwan adalah Jabang Tetuko (2011) yang diproduksi dengan gaya klasik sinematik. Kemudian, dalam Gatotkaca Jadi Raja (2012) ia menambah sentuhan moderen dengan memasukkan jenis musik kekinian seperti hip hop dan jazz. Setelah itu, ia bereksperimen kembali mempopulerkan wayang sinematik dalam pertunjukkan yang akan ditampilkan pada akhir Maret tahun ini di Senayan City, Arjuna Wiwaha. Dalam pertunjukkan yang terakhir, ia mengaku akan menampilkannya jauh lebih kontemporer dari pertunjukkan-pertunjukkan sebelumnya dengan memadukan tarian kontemporer, musik sinematik, teknologi terkini berupa laser serta layar multimedia. Tak hanya itu, ia juga menyertakan ikon kebudayaan pop untuk bermain sebagai salah satu tokoh wayang diantaranya Tora Sudiro, Happy Salma, serta Marcella Zalianty.

“Gak banyak orang yang pernah melihat pertunjukkan wayang dan merasa tak ingin menonton wayang karena mereka bukan orang Jawa. Dengan pendekatan seperti ini, penonton yang tertarik melihat wayang jadi beragam,” jelasnya ketika ditemui di kediamannya di bilangan Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Mirwan mengaku tidak terlalu tertarik untuk mengangkat wayang dengan pendekatan klasik. Akunya karena telah ada kelompok-kelompok yang menampilkan pertunjukkan wayang orang dengan gaya klasik. Selain itu, persoalan kepraktisan menjadi landasan mengapa ia menampilkan pertunjukkan wayang ala kontemporer.

“Kalau menggunakan alat musik gamelan suatu saat dibawa ke luar negeri bakal ribet dan lama format musiknya. Lagipula saya gak terlalu suka mendengarkan gamelan. Kalau pakai musik masa kini, kan, gampang diingat oleh anak-anak muda,” jelasnya.

Mengenai isi cerita, ia mengaku mengambil sumber cerita dari buku wayang karangan Ronggo Warsito, yakni berjudul Pustaka Raja Purwa. ‘Kitab’ petunjuk cerita wayang ini, yang terdiri atas sembilan jilid dan berbahasa Jawa, diambil dari perpustakaan Surakarta. Tidak semua kisah dipilih melainkan hanya cerita menarik saja yang diambil. Kemudian, ia menyesuaikan dengan kekinian atau menambahkan ritme agar cerita tidak berjalan panjang dan membosankan. 

“Dalam Arjuna Wiwaha, ada beberapa adegan yang kita singkat dan langsung ke inti persoalan cerita karena keterbatasan durasi pementasan. Meski demikian, benang merah cerita tetap sama,” ujarnya.

Selain Mirwan, nama lain yang juga terobsesi untuk memodernkan cara mempertunjukkan wayang adalah Wawan Gunawan atau lebih akrab dikenal dengan Wawan Ajen. Wawan, yang merupakan seniman jebolan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung ini, menciptakan ‘wayang ajen’ pada tahun 2000. Wayang ajen merupakan nama yang ia berikan untuk pertunjukkan wayang golek dengan konsep pertunjukkan ala teater. Ia memasukkan dramaturgi, manajemen panggung ala teater, serta menggaet pelaku-pelaku seni dari bidang tari dan teater untuk berpartisipasi dalam pertunjukkan wayang goleknya.

“Wayang ajen sebenarnya merupakan keprihatinan saya akan cara mengembangkan wayang di masyarakat. Tak ada kebebasan ruang untuk berkreasi bagi para dalam saat itu. Oleh karena itu, saya memberanikan diri membuat sesuatu yang beda. Agar kiblat wayang tidak terpaku pada satu hal semata. Tujuannya agar tradisi wayang terus lestari dan diminati di tengah kekinian,” jelasnya saat ditemui di Bentara Budaya Jakarta beberapa hari lalu sebelum melakukan pementasan kolaborasi bersama Sol Project berjudul ‘No Estes Siempre Mabok Bae Mi Amor!’.

Dalam wayang ajen, yang dimodifikasi oleh Wawan, selain dalam pengemasan juga dalam karakter wayang. Ia mengatakan tidak pernah mengutak-atik karakter wayang tradisional yang ada dalam cerita tradisi, seperti Gatotkaca dan lainnya. Untuk karakter tradisional, ia malah memberikan penegasan dalam hal karakter serta tampilan wajah wayang goleknya serta membuat karakter wadasan serta mega mendung untuk menunjukkan ciri Jawa Barat. Sementara itu, upaya untuk mendekatkan dengan kekinian, ia tampilkan dalam wujud wayang-wayang baru seperti wayang ikon yang dekat dengan masyarakat. Misalnya, ia pernah membuat wayang Dedi ‘Miing’ Gumelar, wayang Punk, wayang Orang Mabuk, wayang Gayus, wayang Nazarudin serta wayang Artalita.

Membuat wayang-wayang dengan karakter kekinian juga mulai banyak diikuti oleh kelompok-kelompok wayang lainnya, salah satu yang terkenal adalah Wayang Kampung Sebelah yang didirikan oleh Ki Jlitheng Suparman. Dalam wayang Kampung Sebelah, semua tokoh-tokoh wayang kulitnya bahkan sudah moderen dan dekat dengan kekinian. Misalnya saja wayang-wayangnya, merupakan tokoh-tokoh penduduk sebuah desa BangunJiwo dengan beragam profesi seperti lurah, tukang jamu, penarik becak, dan lainnya. Setiap hari mereka membicarakan isu-isu yang beredar di masyarakat dan dekat dengan konteks kekinian. Cara penyajian yang mengangkat isu-isu terkini merupakan salah satu strategi yang dipilih oleh banyak dalang untuk mendekatkan wayang dengan masyarakat moderen yang terlalu banyak digempur dengan budaya pop yang instan.

 

“Wayang-wayang dengan karakter baru ini, saya masukkan ke dalam bagian sisipan atau sindiran, di tengah isi cerita. Tujuannya untuk mengangkat kembali tempo dan menarik minat penonton. Strategi ini dibutuhkan untuk mendekatkan wayang dengan masyarakat masa kini. Anak muda bukan tak suka wayang, mereka hanya tidak menyukai pengemasannya,” jelas Wawan.

Baik Mirwan ataupun Wawan, yang sama-sama mencintai wayang sejak mereka kecil, sadar bahwa upaya untuk melestarikan seni tradisi di tengah kekinian memerlukan sebuah keberanian menghubungkan jembatan antara masa lalu dengan masa kini. Bahkan, terkadang mereka mesti keluar dari pakem umum atau hal klasik yang telah dipatuhi selama bertahun-tahun. Pengemasan seni pertunjukkan wayang dengan penggunaan berbagai media dan teknologi serta modifikasi tokoh ataupun isi cerita menjadi salah satu cara yang dipilih oleh para pelaku seni ini untuk mempertahankan semangat penonton atas pertunjukkan yang berangkat dari ranah tradisi.

 Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional, 18 Maret 2012