Dan Jarak yang Membentang Diantara Kami



Lincoln, Nebraska.

06.00 AM

Sudah sebulan aku berada di negeri Paman Sam dan mengejar mimpiku. Setiap hari berlalu, aku merasa semakin terbiasa dan mulai familiar tinggal di kota yang terletak di bagian tengah Amerika Serikat ini. Kota yang dinamai dari Abraham Lincoln, salah satu presiden Amerika Serikat yang terkenal gigih menghapuskan perbudakan dan rasialisme di AS.

Hari demi hari, aku mulai menemukan keteraturan di ibukota negara bagian Nebraska ini.

Kota ini tidak sesibuk dan sebesar Jakarta. Penduduknya bahkan hanya 280.364 penduduk, menurut sensus penduduk dari the United States Census Bureau tahun 2016. (Bandingkan dengan Jakarta yang mencapai angka 10 juta penduduk). Namun, kota kecil ini ramah dan hangat seperti seorang teman baik yang selalu terbuka dan menerima kedatanganmu kapan saja dan dalam kondisi apapun.

Setiap hari, aku mulai akrab bepergian dengan moda transportasi mereka (tidak 24 jam) yang terbatas namun gratis sepenuhnya bagi mahasiswa, berjalan kaki selama 10 menit hingga satu jam dari kampus ke apartemen atau ke pusat kota Lincoln, bergulat dengan angin yang berhembus sungguh kencang dan seringkali mengacaubalaukan rambutmu, atau bajumu (Aku belajar untuk tidak pernah memakai rok selama di sini).
Aku terbiasa pula wara-wiri diantara udara dingin (seperti suhu malam hari di Puncak, Indonesia) yang membuatmu menggigil setibanya di apartemen, memakan pizza mereka yang tipis dan tanpa pinggiran tebal ataupun sajian menu Asia seperti Panda Express yang harganya cukup mahal bagi kantung mahasiswa, hingga berada di ruang perpustakaan kampus yang sungguh nyaman dan membuatmu betah berlama-lama membaca buku atau mengerjakan tugas di sana, khas mahasiswa.

Kota ini pelan-pelan menjadi rumah keduaku, dan lingkungannya menjadi bagian dari diriku, menyumbang pemikiran dan ‘rasa’ku sebagai manusia.

Jarakpun perlahan menipis. Kesadaran akan jarak menguat dan dominan pada awal-awal kedatanganku di kota ini. Kamu tiba dan melakukan segala sesuatunya sendiri, mencoba bertahan hidup dan menyesuaikan ritme hidupmu dengan cepat. Lalu, malam hari, tidak ada satupun yang bisa kau ajak bicara.

Kamupun rindu dengan kampung halaman, keluarga, teman, ataupun kebiasaanmu di Indonesia. Sepenuhnya kamu menjadi sadar bahwa negeri ini sungguh jauh dari negeri kelahiranmu. Tak hanya jauh, namun budaya dan wajah orang-orangnya juga berbeda. Tidak ada lagi sapaan-sapaan yang sama yang kamu dapatkan begitu kamu melangkahkan kaki keluar dari rumah. And at that moment, you realize that you are alone, by yourself. Maka, jarak menjadi begitu nyata bagimu.

Hal itu perlahan melebur, ketika hari demi hari kamu mulai menyatu dengan aktivitas yang kamu jalani di kota ini:

Kamu menjalin hubungan dengan orang-orang lokal serta pengungsi di kota ini, berkunjung ke rumah mereka dan tertawa sampai larut malam, pergi nongkrong dan mengetahui kebudayaan bersosialisasi penduduk di warung makan lokal, mendatangi tempat-tempat hiburan, mulai dari teater, bioskop, konser musik, dengan penduduk Lincoln lainnya, dan melalui jalan yang sama dilalui warga lokal setiap harinya. Seringkali, kamu berpapasan di jalan dan saling melempar senyum atau berkata,”hai!”, meski kalian tidak saling kenal.

Kamu merasa mulai bisa menikmati keberadaan dan kekinianmu. Nafasmu perlahan menyatu dengan denyut kota Lincoln. Kamu adalah bagian dari kota ini.

Kamu mulai bisa menikmati keberadaan dan kekinianmu. Nafasmu perlahan menyatu dengan denyut kota Lincoln

Namun, ada kalanya, rasa akan ‘jarak’ kembali menguat. Terutama ketika kamu mendengar kabar tentang orang terdekatmu.

***

Berita kematian itu datang tiba-tiba. Pukul tiga sore waktu Amerika Serikat, dan tiga dini hari waktu Indonesia. Bapak memberitahu di grup Whatsapp grup keluarga, suami dari bule kami (adik Bapak) telah meninggal. Aku sedang mengerjakan tugas menulis di Quiet Room Love Library kampus saat pesan itu tiba.

Aku lalu melontarkan pertanyaan singkat di grup chat dan pesan-pesan berdatangan dari adik-adik. Sementara Ibu menjawab singkat. Tiba-tiba, Ibu mengirim satu video. Dan aku langsung tahu ada sesuatu yang Ibu pikirkan. Kabar kematian selalu membuatnya demikian.

I wish I could be there to soothe her.

Semasa masih di Jakarta, setiap pulang ke rumah, Ibu biasa bercerita padaku. Mungkin karena aku satu-satunya anak perempuan di keluarga inti kami, dia merasa bisa melemparkan unek-unek khas perempuan padaku, umumnya soal tingkah polah Bapak. Pertengkaran tidak penting kakek-nenek yang selalu membuatku tergeli-geli sendiri.

Kami – Bapak, Ibu, saya — biasanya akan pergi keluar dan makan bersama di sebuah rumah makan. Bapak tidak biasa makan di tempat makan mewah, tetapi setiap kali aku pulang Bapak akan mengajak makan di restoran.

Kata Ibu, Bapak bilang,” sekali-kali makan di restoran, mumpung Diah lagi di rumah.” Rupanya, Bapak merasa kasihan kalau anak perempuan satu-satunya makan di rumah makan sederhana di mana mereka biasa makan berdua. Ibu selalu bilang,” Kalau anak wedhok (perempuan) pulang, Bapak sibuknya bukan main.”

Sibuknya Bapak mulai dari bersih-bersih rumah, menyalakan saluran berita, sampai menggoreng lauk pauk atau membuatkan teh! Pernah suatu waktu aku begitu lelah sampai rumah mau tidur, tetapi Bapak tiba-tiba ke garasi rumah menenteng ember dan sikat.

Aku kaget dan bertanya,”Bapak mau apa?” Dia menjawab dengan riang sambil berlalu,” Mau cuci mobil kamu. Kotor sekali.” Aku lantas batal tidur dan berlari-lari kecil menyusul Bapak ke garasi, “Sudah, Pak. Besok saja aku cuci. Hari ini lagi capek sekali.” Dan Bapak berkukuh,”Sudah kamu istirahat saja, gak papa. Kasihan Bapak liat mobilmu begitu.” Akhirnya, kami berdua mencuci mobil bersama-sama, deh. haha.

Balik mengenai makan, padahal di luar rumah, aku terbiasa makan di warung tegal. Anak perempuan Bapak Ibu bukan tipe gadis ‘mewah’ dan tahan banting hidup sederhana.

Punya mobil juga kebetulan karena tuntutan pekerjaan sebagai jurnalis yang mesti siap ke mana-mana, dan terkadang pulang saat malam atau dini hari. Kalau lagi tidak menyetir, aku selalu naik ojek, kereta ataupun bis.

Pegal karena naik ojek lebih dari satu jam, sudah biasa. Kecopetan di bis atau nyaris dilecehkan sama penumpang kelainan seksual, sudah pernah mengalami. Berhimpit-himpitan dan keringatan di gerbong kereta, sering. Ini seni hidup di kota besar macam Jakarta.

Enggak kayak beberapa orang yang sudah terbiasa naik mobil terus sekali-kalinya naik angkutan umum lantas mengeluh.

Ketika mendengar alasan itu, aku bilang ke Bapak bahwa aku ingin makan di warung makan di mana mereka sering datang berdua. Bapak menyebut nama ‘Mbah Kung’. Kami lantas tertawa. Mbah Kung adalah panggilan keluarga Jawa untuk Eyang Kakung, atau kakek. Dan, nama warung makan di mana Bapak Ibu biasa makan berdua, favorit Bapak kalau kata Ibu, adalah Mbah Kung.

Warung makan itu memang kecil, hanya seukuran ruang keluarga kami. Namun, makanannya enak dan murah. Pelanggan bisa memilih duduk di kursi atau duduk lesehan. Pantas Bapak senang makan di situ. Menunya sederhana khas rumahan: nasi putih, sambal, kangkung, ayam goreng, ayam saus padang, lele goreng, sayur asem, tempe, tahu, dan lain-lainnya. Cocok dengan selera Bapak. Dan Bapak biasanya ‘nambah’ kalau makan di situ.

Usai makan, sampai rumah, Ibu biasanya akan lanjut bercerita, soal adik-adik dan juga hal-hal lain. Seringkali, dia meminta pendapatku, terutama kalau Ibu sedang cemas. “Kalau sudah jadi nenek, seringkali hal-hal kecil suka bikin gampang nangis. Enggak tahu kenapa.” Tapi, aku suka bilang padanya,” Bahkan sebelum jadi nenek juga, Ibu selalu mudah cemas dan nangis.”

Makanya, kali ini ketika kabar berita itu datang, aku langsung merasa, ada yang dipikirkan oleh mereka. Sebagai anak, kadang kamu merasa ingin bisa berbuat lebih untuk itu. Kamu ingin ada di sana, berbicara dari hati ke hati, dan mengajak mereka jalan ke luar.

Saat-saat ini, lah, kamu sadar betapa jarak menjadi sangat nyata buatmu. Aku di Lincoln, Amerika Serikat dan mereka di Jakarta, Indonesia. Kami terpisah puluhan ribu kilometer dan benua saat hidup menyentil kami dengan rindu…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.