Obrolan

Menyamar di Korea Utara bersama Para Pemimpin Masa Depan


Oleh Suki Kim

Diterjemahkan Utami Diah Kusumawati dari buku All These Wonders: True Stories About Facing The Unknown
cropped-author-photo-photo-credit-Ed-Kashi-VII

Taken from Sukikim.com.

Aku sedang merapikan koperku ketika sebuah ketukan di pintu muncul. Aku tahu siapa itu, maka aku mengabaikannya dan tetap berkemas. Namun, dia terus mengetuk, maka akhirnya aku menyerah dan membuka pintu.

Perempuan itu merupakan salah satu dari kelompok Kristiani Evangelikan yang pernah bekerja bersamaku dalam enam bulan terakhir.

Dia berkata,” Lelaki itu telah meninggal.”

Saat itu, aku bingung. Aku kira maksudnya adalah Tuhan.

Ini adalah masa-masa Natal, dan belakangan ini telah banyak pertemuan telaah kitab, yang membuatku enggan membuka pintu. Sangat melelahkan, berpura-pura menjadi bagian dari mereka dalam beberapa bulan. Dan hari ini merupakan hari terakhirku mengajar. Aku hanya ingin pergi dari sini.

Lalu, dia menunjuk ke langit-langit, berbisik dan berkata,” Dia meninggal.”

Kemudian, aku tahu maksudnya tuhan lain dalam dunia itu, Kim Jong-il, si Pemimpin Hebat dari Korea Utara.

Kotanya adalah Pyongyang. Bulan Desember 2011. Aku telah mengajar di universitas khusus laki-laki di Pyongyang yang dibentuk dan didirikan oleh para kelompok Kristiani Evangelikan dari seluruh dunia.

Saat ini, agama tidak diperbolehkan ada di Korea Utara dan membelot merupakan kejahatan utama. Namun, grup Kristiani Evangelikan telah melakukan kesepakatan dengan rezim Korea Utara – yang tidak resmi- untuk membiayai pendidikan dari anak-anak para elit pemerintah sebagai ganti atas akses.

Mereka janji tidak akan menyebarkan agama, tetapi mereka bisa melangkahkan kaki di sebuah negara dengan 25 juta pengikut setia dari Pemimpin Hebat. Jika dia gagal, maka mereka akan membutuhkan Tuhan lain untuk menggantikannya.

Untuk bisa berada di sana, aku harus berpura-pura menjadi bagian dari mereka. Tetapi aku bisa kabur dari tugas itu, karena misionaris harus berpura-pura tidak menjadi misionaris.

Mengapa aku melakukan hal ekstrim dengan berada di sana? Menulis soal Korea Utara dengan dalam atau penuh makna adalah kemustahilan kecuali kamu menetap di sana. Menceburkan diri sepenuhnya adalah satu-satunya cara.  Aku telah mengunjungi Korea Utara sejak 2002, berulang kali kembali ke sana, tetapi yang kudapatkan hanyalah propaganda. Dan jika aku hanya akan menulis apa yang mereka tunjukkan padaku, maka aku akan menjadi tim publikasi rezim pemerintah.

Satu-satunya cara untuk mendapatkan kenyataan atas Korea Utara adalah melalui para penyintas yang kabur dari Korea Utara. Mereka menceritakan kisahnya kepada jurnalis, seringkali beberapa tahun kemudian. Aku merasa buruk mengatakan hal ini, tetapi aku telah berkunjung ke seluruh wilayah dan berbicara kepada banyak penyintas. Aku selalu sulit untuk mempercayai kisah-kisah ini. Hal ini karena, semakin buruk kisahnya, semakin bagus penghargaan yang didapatkan penyintas ini. Serta, hampir mustahil mendapatkan verifikasi.

Tetapi alasannya juga personal. Aku lahir dan dibesarkan di Korea Selatan dalam sebuah keluarga yang terkoyak oleh Perang Korea. Pada 1950, saat Korea Utara mengebom Korea Selatan, nenekku tinggal di Seoul. Dia membawa kelima anak-anaknya, termasuk ibuku (saat itu masih empat tahun) untuk menyelamatkan diri.

Semua kereta menuju wilayah selatan penuh sesak, maka keluargaku naik bagian belakang truk.

Saat truknya hendak berangkat, seseorang berteriak,”lelaki muda harus menyerahkan tempatnya untuk perempuan dan anak-anak.”

Anak pertama nenekku, pamanku (saat itu tujuh belas tahun) berdiri dan berkata,”Aku akan mendapatkan tumpangan, dan aku akan bergabung dengan kalian di kota selanjutnya.”

Dia tidak pernah sampai.

Kemudian hari, para tetangga mengabarkan melihatnya dengan tangan terikat diseret oleh tentara Korea Utara.

Pada 1953, setelah jutaan warga Korea meninggal dunia dan banyak keluarga tercerai berai, sebuah gencatan senjata disepakati, dan Peran Korea ditunda. Sepanjang wilayah 38th parallel, yang merupakan pembagian artifisial yang diciptakan Amerika Serikat atas bantuan para sekutu, Kerajaan Korea yang berusia lima ribu tahun terbagi menjadi dua.

Sejak saat itu, seperti para ibu di kedua negara Korea, nenekku menunggu anak lelakinya tiba.

Tujuh puluh tahun telah berlalu dan perbatasan itu – warga Korea berpikir dibuat sementara – masih ada. Bahkan ketika aku pindah ke Amerika saat berusia 13 tahun, sejarah keluargaku menghantuiku. Lalu, sebagai seorang penulis, aku menjadi terobsesi dengan Korea Utara dan pencarian kebenaran atas apa yang benar-benar terjadi di sana.

Maka, aku menyamar sebagai seorang guru dan misionaris.

Saat aku tiba di sana pada 2011, mereka sedang mempersiapkan Tahun 100. Sistem kalender di Korea Utara dimulai dari kelahiran Pemimpin Hebat yang orisinal. Untuk merayakannya, para rezim menutup semua universitas dan menyuruh siswa bekerja di bidang konstruksi untuk membangun monumen Pemimpin Hebat.

Kenyataannya, bagaimanapun, Pemimpin Hebat sekarat, dan anak lelakinya yang masih muda akan mengambil alih. Mereka menyebar semua anak muda untuk mencegah pemberontakan terjadi. Di luar Korea, masa itu adalah masa Arab Spring, dan mereka tidak mau ada North Korea Spring.

Satu-satunya yang tidak dikirim pergi ke area konstruksi adalah murid-murid elitku. Namun, kampus ini adalah penjara bintang lima. Murid-murid tidak pernah diperbolehkan keluar. Para guru hanya diperbolehkan keluar berkelompok bersama penjaga untuk mengunjungi monumen Pemimpin Hebat. Setiap percakapan diperhatikan, setiap ruangan disadap. Setiap kelas direkam, dan setiap rencana pelajaran harus disetujui.

Aku makan dengan para murid, dan mereka tidak pernah menyimpang dari jalur. Mereka pergi kemanapun di area kampus berpasangan dan berkelompok dan harus saling mengawasi.

Untuk mengenal mereka lebih baik, aku menugaskan membuat surat dan esai. Meskipun banyak dari mereka siswa jurusan komputer, tetapi mereka tidak tahu adanya internet. Meskipun banyak dari mereka siswa sains, tetapi mereka tidak tahu saat manusia pertama melangkah di bulan.

Ketiadaan ilmu pengetahuan selain mengenai Pemimpin Hebat mereka mengejutkan, tetapi aku berada di bawah peraturan ketat untuk tidak pernah memberitahukan mereka apapun mengenai dunia luar.

Suatu malam di sebuah acara makan malam, seorang siswa berkata dia mendengarkan musik rock and roll saat hari ulang tahunnya (biasanya mereka semua berkata hanya mendengarkan lagu tentang Pemimpin Hebat). Saat dia mengatakannya, dia melihat ke sekeliling untuk memeriksa, siapa yang mungkin mendengarnya, dan dia mematung. Dan ketakutan yang kulihat di wajahnya begitu nyata sehingga aku tahu hukuman apapun yang akan didapatkan dari insiden terselip lidah ini merupakan sesuatu yang di luar imajinasiku, maka aku mengganti subjek pembicaraan.

Hal yang sangat menggangguku adalah bahwa aku telah menunggu kejadian terselip lidah itu untuk memahami dunia mereka secara lebih baik. Tetapi saat hal itu terjadi, aku menjadi sangat cemas dan khawatir padanya sampai aku mulai mempertanyakan apa yang kulakukan di sana.

Lalu, aku mulai mengamati sesuatu yang aneh pada murid-muridku. Mereka sering dan mudah berbohong. Kebohongan mereka muncul dalam tingkat berbeda.

Terkadang mereka berbohong untuk melindungi sistem mereka. Ada sebuah gedung di kampus bernama Kim Il-Sung-ism Study Hall, di mana mereka belajar tentang Pemimpin Hebat setiap hari, dan mereka harus menjaga gedung ini 24 jam dalam seminggu. Maka, aku akan melihat mereka menjaga gedung tersebut sepanjang malam, tetapi jika aku bertanya kepada mereka,” bagaimana malammu?” mereka akan berkata mereka tidur nyenyak dan pulas.

Terkadang mereka akan menceritakan kembali kebohongan yang telah diberitakan kepada mereka. Misalnya, mereka akan berkata bahwa ilmuwan di negara mereka bisa mengganti tipe darah dari A ke B.

Terkadang, mereka berbohong demi alasan yang tidak jelas, seolah batasan antara kebenaran dan kebohongan tidak pernah nyata bagi mereka. Mereka akan mengatakan padaku bahwa mereka semestinya bisa berbuat curang lebih baik lagi, atau mereka akan bilang bahwa peretas di negara mereka akan mendapatkan penghargaan jika meretas dengan sangat, sangat baik.

Awalnya, aku kesal dan terpukul dengan kebohongan yang merajalela ini. Namun, menghabiskan waktu berbulan-bulan dengan mereka dalam wilayah terpenjara itu, aku mulai memahami keadaan sulit mereka, dan aku berempati. Mereka sangat mudah untuk dicintai, tetapi begitu sulit dipercaya. Mereka tulus, tetapi mereka berbohong.

Namun, jika semua yang mereka tahu adalah kebohongan, lalu bagaimana kamu bisa berharap mereka melakukan hal sebaliknya? Seolah kemanusiaan mereka yang hebat selalu berada dalam konflik yang konstan dengan tidak manusiawinya sistem mereka.

Tetapi aku ada di sana, berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diriku, untuk mendapatkan kebenaran dari tempat itu. Dalam dunia itu, kebohongan sangat penting untuk dapat bertahan hidup.

Lalu, suatu saat seorang murid bertanya padaku mengenai majelis perwakilan nasional. Aku tidak mungkin bisa menjelaskan soal Kongres tanpa membawa isu demokrasi dan dunia luar. Dan aku gugup bahwa murid-murid lain di meja ini akan mengamati percakapan tersebut. Maka aku menjawab dengan jujur sebisaku dan sesamar mungkin.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku takut bahwa murid lain mencoba menjebakku untuk mengatakan sesuatu sehingga dia bisa melaporkanku.

Nyatanya, aku sedang menulis buku secara diam-diam. Aku punya catatan berlembar-lembar tersimpan dalam flashdisk, yang kutaruh di tubuhku setiap saat. Aku berpikir, jika hal ini terbongkar, akankah aku menghilang seperti pamanku, dan haruskah ibuku mengulangi lagi kehidupan yang telah dialami nenekku?

Berada di Korea Utara, jika kamu memahami rasa takut yang ada dalam propaganda, hal itu mengerikan dan membuat depresi. Malam itu, aku lebih merasa sendirian dan ketakutan dari sebelumnya.

Namun, hari berikutnya, aku bertemu dengan seorang teman muridku, dan dia berkata,”Sepertinya dia menyukaimu.” Lalu, aku sadar bahwa murid itu tidak membuat laporan tentangku. Namun, murid itu hanya murni penasaran.

Ini bahkan jauh lebih buruk. Aku sekarang takut akan konsekuensi dari rasa penasaran yang mungkin telah kuciptakan. Peranku di sana adalah untuk menanamkan bibit keraguan, tetapi apa yang akan terjadi terhadap siswa yang telah kurengkuh? Akankah dia dihukum untuk mempertanyakan rezim? Atau dia akan dikutuk hidup dalam ketidakbahagiaan? Aku tidak yakin jika kebenaran kami, kebenaran di dunia luar, akan benar-benar menolong mereka.

Aku mengagumi murid-muridku. Aku memanggil mereka ‘lelaki-lelakiku’, dan mereka terbuka padaku sedikit demi sedikit, melalui surat yang kutugaskan. Dan dalam surat-surat tersebut mereka berbicara tentang kerinduan akan ibu dan kekasih mereka. Mereka juga muak berada dalam kesamaan akan semua hal.

Hal itu karena hidup mereka hanyalah seputar Pemimpin Hebat. Satu-satunya rehat yang mereka miliki adalah bermain olahraga. Pada sore hari, aku akan melihat mereka bermain sepakbola dan basket, dan aku kagum akan keindahan mereka. Betapa masa muda yang penuh energi, kegembiraan dan kebersahajaan. Aku ingin mengatakan kepada mereka mengenai dunia luar yang hebat, yang dipenuhi dengan kemungkinan tidak terbatas yang layak mereka dapatkan.

Tapi, yang mampu aku lakukan hanyalah mengamati bahwa, sementara tubuh mereka bergerak, pikiran mereka tetap terjebak dalam sebuah kekosongan tanpa batasan waktu mengenai Pemimpin Hebat mereka.

Di hari terakhirku, kematian Kim Jong-il diumumkan ke seluruh dunia. Semua menuju akhir yang mendadak, dan aku melihat murid-muridku dari jarak jauh sebagaimana mereka digiring menuju sebuah pertemuan spesial.

Wajah mereka menghadapku, tetapi mata mereka tidak menatapku seolah-olah jiwa mereka telah dicabut. Mereka baru saja kehilangan Tuhan, orang tua, dan satu-satunya alasan mereka ada di dunia.

Aku tidak pernah berkesempatan mengucapkan selamat tinggal kepada mereka.

Hal yang mengerikan dari Korea Utara melebihi kelaparan dan sistem Gulag. Untuk bertahan hidup di sana, manusia tidak hanya harus percaya kebohongan Pemimpin Hebat tetapi juga mengabadikannya, yang merupakan siksaan mental. Ini merupakan dunia di mana semua warganya terlibat di dalam miskinnya nilai kemanusiaan mereka.

Menjelang akhir masa tinggalku, seorang murid berkata,”Kondisi kita berbeda, tetapi kami selalu memikirkanmu sama seperti kami. Kami benar-benar ingin kamu tahu bahwa kami benar-benar memikirkanmu sama seperti kami.”

Namun, apakah kami benar-benar sama? Mungkin kami sama dalam beberapa hal, tetapi sudah ada tiga generasi Pemimpin Hebat, dan selama 70 tahun dunia hanya duduk dan mengamati. Bagiku, diam tidak bisa ditolerir.

Kebohongan menjadi dalam karena pusatnya membusuk, dan kebusukan itu tidak bisa dibatalkan. Apa yang akan terjadi pada murid-muridku, lelaki-lelaki mudaku, sebagaimana mereka menjadi tentara dan budak dari Pemimpin Hebat, Kim Jong-un?

Kalau saja pamanku selamat, akankah dia menjadi lelaki yang sama yang melompat dari truk itu?

Suki Kim merupakan seorang novelis, jurnalis investigasi dan satu-satunya penulis yang pernah hidup menyamar di Korea Utara. Lahir dan dibesarkan di Korea Utara, Kim merupakan pengarang dari buku investigatif sastra nonfiksi terlaris versi New York Times, Without You, There Is No Us: Undercover Among the Sons of North Korea’s Elite. Dia telah berkunjung ke Korea Utara sejak 2002 serta menyaksikan perayaan ulang tahun Kim Jong-il ke enam puluh dan kematiannya pada 2011 di negara tersebut. Buku novel pertamanya, The Interpreter, merupakan finalis untuk penghargaan PEN Hemingway Prize dan karya nonfiksinya muncul di New York Times, Harper’s, The New York Review of Books, dan The New Republic, di mana dia menjadi kontributor editor. Dia juga seorang peraih penghargaan Guggenheim, alumni beasiswa Fulbright dan Open Society fellowship. Profilnya juga dimuat dalam tayangan CNN’S Fareed Zakaria’s GPS dan The Christiane Amanpour Show, serta Comedy Central’s The Daily Show with Jon Stewart. Pidatonya di TED Talk pada 2015, yang mendapatkan tepuk tangan berdiri dari para hadirin termasuk Bill Gates dan Al Gore, telah menarik perhatian jutaan pemirsa online.

Satu respons untuk “Menyamar di Korea Utara bersama Para Pemimpin Masa Depan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s