Obrolan

Dingin yang Tiba di Bulan Oktober


Lincoln, Nebraska.

Tuesday, October 10.

Musim perlahan berganti. Kini, cuaca tidak lagi sehangat saat pertama kali aku datang ke kota ini. Meski masih masuk ke dalam periode Musim Gugur, namun suhu sudah menurun drastis. Salju bisa tiba-tiba saja datang di tengah bulan Oktober ini.

Setiap hari, dari pagi hingga malam, udara terasa dingin. Kamu tahu seperti apa rasanya?

Saat ini terasa seperti memasukkan satu tanganmu ke dalam freezer tetapi bedanya ini seluruh tubuhmu. Bahkan, jaket tebal yang kamu beli tidak mampu menghangatkan karena angin kencang membuat dingin terasa berkali lipat.

Aku sungguh tidak terbiasa dengan musim ini. Bagiku, suhu di Puncak yang tidak sedingin ini saja masih terlalu menyiksa, apalagi suhu di Lincoln yang bisa mencapai 2 derajat celcius di waktu pagi. Saat-saat musim gugur menjelang dingin inilah perjuangan sebenar-benarnya sebagai seorang mahasiswi dimulai.

Aku mesti berupaya keras untuk mengatasi perubahan yang dialami tubuh, seperti menggigil, kelambanan berpikir, malas akibat tubuh yang terasa tidak enak dan nyaman, perasaan ingin meringkuk terus di tempat tidur berlindung di bawah selimut tebal, ataupun ngantuk yang terus menerus menyerang.

Hal ini menjadi berat karena tugas-tugas akhir yang mulai meningkat intensitasnya: mengejar data dari institusi pemerintah Nebraska, mencari narasumber ataupun berkelana mewawancarai narasumber dengan bis, membaca buku-buku, serta membuat artikel dan berpikir keras mengenai struktur kalimat Inggris yang benar dan minim kesalahan grammar.

Cuaca dingin membuat perjalanan semenit terasa seperti satu jam. Nafas menjadi pendek dan berat, sendi-sendi mulai terasa ngilu, tangan dan wajah dingin seperti es, dan pikiranmu mulai tidak fokus.

Berkali-kali aku mesti mengusap kedua tangan meskipun sudah mengenakan sarung tangan, ataupun menutup hidung dengan kedua tangan untuk meminimalisir dingin yang membuat hidung ataupun mata selalu basah.

Tubuh menjadi berkali lipat terasa letih dari biasanya. Terkadang aku bahkan merasa jengah dan kesal setiap kali berjalan sedikit jauh atau menunggu bis terlalu lama. Karena hal itu berarti memperpanjang upaya untuk menjaga tubuh tetap hangat.

Inilah saat di mana kau sadar betapa kau cinta terik matahari di negara di mana kau dilahirkan. Udara yang tidak pernah terlalu dingin meskipun kadang panas matahari bisa membuat kepala cukup pusing, tapi di Amerika Serikat pun matahari tidak kalah terik dari Indonesia saat Musim Panas.

Kau ingat suhu dingin di kala hujan, namun tidak pernah membuatmu mengigil setiap saat ataupun membuatmu seolah kehabisan nafas. Dan kau selalu menikmati hujan turun, bau tanah rumput basah yang muncul setiap hujan tiba.

Musim dingin datang terlalu cepat bagiku. Seperti semua hal lainnya yang belakangan ini terjadi dalam hidupku, dia tiba-tiba saja datang, memaksamu untuk beradaptasi dengan cepat, dan mengikuti irama hidup. Aku pun tertatih-tatih, meski sadar bahwa aku harus selalu melangkah maju ke depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s