Obrolan

Gigi


Lincoln, Nebraska

Nov 9, 2017

Hari ini, saya berkunjung ke dokter gigi di klinik kampus untuk berkonsultasi soal gigi yang sakit. Cukup terkejut juga. Ternyata, pemeriksaan gigi di Amerika Serikat sungguh berbeda dengan di Indonesia.

Pertama kali datang, saya diminta mengisi satu formulir bolak-balik berisi aneka pertanyaan soal riwayat penyakit termasuk alergi, obat-obatan yang pernah dikonsumsi sebelumnya, pola makan dan gaya hidup, plus nama dokter yang biasa menangani serta kontak mereka.  Kalau di Indonesia, mah, boro-boro. Masuk ruangan dokter cuma ditanyain keluhannya apa, terus usai diambil tindakan baru ditanyai ada alergi atau enggak.

Terus setelah mengisi formulir tersebut, seorang dokter gigi memanggil masuk ke ruangan yang terdiri atas beberapa kamar periksa dokter. Saya disapa dengan ramah dan diminta melepaskan jaket dan menaruh tas di suatu tempat. Setelah itu, saya diminta masuk ke salah satu kamar periksa.

Dokter gigi yang kali ini menangani saya bernama Amber, seorang perempuan berambut pirang yang ramah dan komunikatif. Dia terus-menerus bertanya mengenai keadaan saya dan berbincang mengenai hal-hal kecil yang membuat ketegangan saya selama berada di ruang pemeriksaan sedikit berkurang.

“Nama kamu siapa? Saya suka sepatu boots kamu. Keliatan hangat dan nyaman, ya. Gak ada haknya, juga. Saya juga suka tas kamu. Gambar kucingnya keren,” Amber mengajak saya mengobrol sementara meminta saya berbaring di kursi pemeriksaan.

Dia memasang semacam celemek di dada saya dan bertanya tentang negara saya. Lalu, dia menyelipkan pertanyaan mengenai gigi kembali di tengah obrolan kecil tersebut. Tak beberapa lama kemudian, dia meminta saya untuk melakukan pemeriksaan foto pada gigi.

Saya berdiri dan menuju sudut ruangan untuk melakukan radiografi gigi dengan alat seperti di bawah ini, nih (kiri).

 

 

 

Lalu, setelah melakukan radiografi gigi, saya diminta kembali duduk di kursi periksa. Amber lalu meminta saya untuk membuka mulut dan dia lantas melakukan pemeriksaan gusi dengan menggunakan alat seperti gambar di bawah kanan, yang dikenal dengan Periodontal probe (sebenarnya untuk mengukur gusi, apakah bengkak dan seberapa besar bengkaknya) dan meminta seorang asisten untuk mencatat kondisi gusi saya gigi per gigi! (astaga detail sekali!).

“Maaf, ya, pengukuran gusi ini bakal menjadi yang paling sakit di antara pemeriksaan lainnya,” ujarnya sembari tersenyum. “Tapi, pemeriksaan lainnya hari ini, saya jamin enggak akan terasa sakit sama sekali.”

“Bakal sakit sekali?” tanya saya seperti biasa sudah panik terlebih dulu. He, he.

“Rasanya seperti membersihkan kutikula kukumu dengan alat pengelupas,” katanya menerangkan. Membayangkan kegiatan membersihkan kutikula kuku membuat saya sedikit lega. Saya pun menjawab,”ok, sepertinya tidak sakit.”

Ternyata, tidak sakit sama sekali. Cuma kamu akan merasa sedikit pegal karena diminta untuk membuka mulut selebar-lebarnya, dan juga merasa sedikit aneh karena gusimu ditekan-tekan titik demi titik.

Periodontalprobes09-09-2005

Close-up picture of a Michigan O probe with Williams markings (left) and a Nabers probe (right). Taken at the University of Tennessee’s Health Science Center: College of Dentistry in Memphis on September 9, 2005. (wikipedia)

Setelah itu, dia menjelaskan kepada saya mengenai kondisi gusi saya secara detil, termasuk beberapa hal lain seperti karang gigi (cavities) dan juga calculus atau plak gigi yang mengeras karena adanya bakteri.

“Sebenarnya, keberadaan bakteri itu lazim di dalam mulut manusia. Namun, mereka bisa berkembang biak dengan cepat dalam suatu kondisi dan membentuk rumah di sekitar gigi dalam bentuk enamel,” ujarnya menjelaskan.

Dia menambahkan, munculnya bakteri lantas mendorong kemunculan sel darah putih untuk maju dan melawan kuman yang tidak baik bagi tubuh tersebut. Ketika menggosok gigi, maka bulu sikat akan menyapu sel darah putih yang membludak akibat upaya perlawanan terhadap bakteri. Hal inilah yang menyebabkan terkadang gusi bisa berdarah saat kita menyikat gigi.

“Oh,” ujar saya sambil manggut-manggut. Baru kali ini saya mendapatkan penjelasan seputar gigi selengkap itu. Haha.  Bagaimana, nih, Pak, Bu, Dokter gigi di Jakarta??

“Kalau bakterinya sudah banyak dan sudah terlanjur membentuk rumah di sekitar gigi, maka adanya sel darah putih enggak akan berpengaruh lagi. Mereka seolah bilang,’terserah, deh, kamu mau ngapain. Saya bentuk rumah di sini.’,”ujarnya.

Amber lalu memegang leher saya dengan kedua tangannya untuk memeriksa kondisi kelenjar getah bening.

“Sedikit bengkak,” katanya sembari kedua tangannya menekan-nekan bagian leher ke arah dagu saya.

“Apakah berbahaya?”

“Oh, tidak. Kalau salah satu saja yang bengkak, maka saya akan bertanya-tanya. Namun, jika sama-sama sedikit besar di kedua leher, maka normal saja, tidak perlu cemas,” katanya. Saya pun menghela nafas. Syukurlah… hehe.

Setelah itu, Amber melakukan pemotretan X ray pada wilayah rahang dan juga bagian dalam mulut saya. Kali ini saya hanya diminta berbaring dan dia memasukkan semacam alat dengan kamera di ujungnya seperti gambar di bawah.

“Ini akan terasa sedikit aneh di mulutmu saat kamu mengigit benda ini. Maaf ya,” ujarnya ramah. Sudah beberapa kali dokter gigi ini mengatakan kata ‘maaf’ setiap kali dia merasa saya akan tidak nyaman dengan tindakan yang akan dilakukannya. Benar-benar nampak upaya Amber untuk membuat pasiennya merasa nyaman.

Lalu, sesudah itu dia menjelaskan beberapa hal lainnya kepada saya dan di akhir pemeriksaan, dia menyarankan saya untuk turut membersihkan gigi dengan floss atau semacam benang. Meski sebenarnya, beberapa artikel termasuk investigasi dari US Health Department menjelaskan bahwa flossing tidak berpengaruh untuk mencegah keberadaan penyakit gusi, atau lazim disebut Periodontal Disease.  (Saya mau bertanya soal efektifitas flossing ini di kunjungan berikutnya). Di akhir kunjungan, saya diberi kantong plastik berisi sikat gigi, pasta gigi dan floss dari Oral-B. (Kenapa enggak cokelat aja, ya, Dok? hehehe).

Secara keseluruhan, dari satu kunjungan ini, saya seperti mendapat kuliah singkat dari Amber soal beraneka macam persoalan gigi dan saya menjadi lebih paham mengenai seluk beluk gigi saya. Duh, beda banget, deh, sama pas dulu tindakan dan kunjungan ke dokter gigi di Jakarta. Pas datang, tiba-tiba saja saya diminta untuk operasi kecil gigi! Dokternya juga enggak kasih penjelasan banyak seperti yang dilakukan Amber hari ini. Padahal, harga perawatan gigi di Jakarta juga gak murah, loh.

Meski, kalau dibandingin sama harga perawatan gigi di U.S, masih jauh lebih murah. (Hiks). Untungnya saya dapat asuransi gigi dari kampus meski hanya 80 persen dicover asuransi. Namun, hal itu masih terbilang murah, karena setiap perawatan saya hanya membayar sekitar $40 (hanyaaa). Kalau enggak, wah, bisa-bisa ludes uang saku bulanan saya hanya demi membayar biaya perawatan gigi yang minimal sekali datang bisa $100 sampai $200 (jutaan).

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s