The departure – NY



La Guardia, New York City, NY.

One week ago.

“Make into groups and get someone coming to the front to pick up something.”

Kami mulai bergerombol, memilih berada di grup dengan teman-teman dekat yang terbiasa menghabiskan lebih banyak waktu bersama setiap harinya di Columbia University.

Aku melihat anggota kelompokku. Ada Dominik, jurnalis asal Sweden, duduk tepat di belakangku. “Kamu saja, Dominik,” ujarku padanya. Dia menggeleng dan kami mulai memilih ‘korban’ lagi.

“Chikezie?” tanyaku pada Chikezie, jurnalis investigatif asal Nigeria. Lelaki yang gemar mengenakan kemeja setiap menghadiri kelas di musim panas yang terik dan menyengat dengan cepat menggeleng. “Oh, jangan, jangan, aku. Kamu saja?” Tawanya melebar.

Aku menggeleng, dan kami mulai melihat Ming, wartawan asal China yang sudah lama bekerja di Xin Hua New York City, dan juga Anuja, seorang data scientist asal India yang gemar naik gunung dan backpacking. Mereka sama-sama menggeleng. Grace, wartawan asal Hongkong yang sudah lama meliput untuk Reuters Hongkong, juga menggeleng.

Lalu, kami sama-sama bertanya kembali ke Dominik dan lelaki itu mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Aku tahu sejak awal dia akan mau. Dominik lantas maju dan kembali dengan membawa dua boneka Pinata besar. Sebuah spiderman dan kuda poni kecil. Kami mesti memukul dua pinata itu hingga terkoyak untuk mengambil puluhan cokelat dari dalamnya. Lily, wartawan senior asal Amerika Serikat yang pernah bekerja untuk Vanity Fair, memegang dua pinata sementara yang lain bergantian menggebuk pinata.

Aku tidak ikut memukul Pinata. Aku hanya tertawa-tawa sembari mengambil video dan foto. Lalu, tidak lama kemudian, Jonathan Soma, program director Lede, mengatakan kami bisa mengambil sertifikat kelulusan untuk program summer di meja depan. Semua bergegas mengambil dan saling berfoto bersama dengan membawa sertifikat.

tom-coe-A7KD1kdXD-o-unsplash
Statue of Liberty I Photo by tom coe on Unsplash

***

Ketika memegang sertifikat tersebut, aku mulai sedih. Bahkan, ketika kelas sudah benar-benar usai, beberapa dari kami, masih saling bergerombol dan mengobrol satu sama lain, lalu bersama-sama menuju kedai susu teh atau bubble milk tea untuk lanjut berbincang-bincang. Siapa tahu ada yang tidak datang dalam acara perpisahan nanti malam? Siapa tahu saat itu hari terakhir kami bersama di New York City setelah beberapa bulan menghabiskan waktu bersama?

Kami berkerumun di depan Gong Cha, kedai teh susu favoritku dan Ming. Kami biasa mengerjakan tugas usai kelas sembari mengobrol di sana. Ketika sedang mengantri, tiba-tiba aku menerima sebuah pesan dari Humera, mahasiswa jurnalistik asal Amerika Serikat keturunan India. Dia bilang ingin bertemu dan mengadakan perpisahan buatku. Aku tidak bisa membendung perasaanku. Aku menangis tersedu-sedu di antara Fahmida, Lily Liu Krason, Anuja, Chikejie, Ming dan Arun. Ming dan Arun menanyakan kabarku. “Ada apa?” “Kamu baik-baik saja?”

Aku bilang ke mereka kalau aku hanya terlalu sensitif selama beberapa hari terakhir. Mendengar itu, Arun memberikan kaca mata hitamnya. “Pakai ini.” Aku memakai kacamatanya dan menutupi mataku yang sembab karena air mata.

Kami semua kembali mengobrol soal gaji jurnalis, bekerja sebagai seorang jurnalis data di Amerika Serikat, dan juga soal hal-hal kecil lainnya.

snapbythree-my-z_PUcaqe8EA-unsplash
Photo by SnapbyThree MY on Unsplash

***

Berkali-kali aku mengatakan lewat telepon ke Silka, salah satu sahabatku yang ada di Jakarta, kalau akhir-akhir ini, selama di NYC, aku menjadi lebih perasa.

Aku mudah sekali menangis akan hal-hal kecil dan sepele. Perasaanku menjadi luar biasa dalam, halus, dan peka tetapi di satu sisi susah sekali bagiku untuk mengontrol. Mungkin aku sudah terlalu letih, begitu ujarku pada Silka.

Semua perjuangan ini. Kelas lanjutan yang menuntut tenaga ekstra, pekerjaan yang menguras tenaga, hingga teman sekamar yang mengorbankan kewarasan. Demi apa? Demi menjadi seorang yang membawa keilmuan yang masih jarang dimiliki di Indonesia. The path is definitely not easy. Aku bisa saja memilih jalur lain. Hidup mapan dengan gaji dua digit, sebuah apartemen yang nyaman dan mobil. Lalu, suami dan anak-anak. Tetapi, Tuhan justru menuntunku ke jalur yang lain. Mengapa? Sampai saat ini aku masih belum mengerti. Mengapa, dia mengarahkan hatiku ke arah the road less travelled.

“Aku capek hidup seperti hippies. Pindah satu tempat ke satu tempat lainnya,” suatu sore di Bryant Park, kalimat itu meluncur begitu saja pada Rianne Subijanto, dosen di CUNY yang dulu adalah pengajarku di Universitas Indonesia. Aku menatap Kak Anne. Berharap dalam waktu dekat, aku bisa berada di posisinya. Bersama seorang suami dari negara berbeda yang mencintai Indonesia, seorang anak mixed race yang lucu dan pekerjaan tetap.

“Tapi, itulah indahnya hidup, Utami. Menanti. Dinikmati saja semuanya.”

Aku tertawa, mencoba mencari tahu sejauh mana kewarasanku sendiri akan bertahan selama berada di the Big Apple ini. Berkali-kali, setiap berjalan menuju ke restoran atau kembali dari restoran, aku melihat kerumunan penduduk New York City berjalan dengan langkah tergesa-gesa di jalanan, di subway bawah tanah, di jembatan, di mana-mana. Aku adalah bagian dari mereka, saat itu.

Aku bekerja sementara belajar sebagai seorang mahasiswa Columbia University dan membaur di antara penduduk asli New York City dan mulai memahami seluk-beluk kota serta jadwal dan rute kereta api di salah satu kota tertua di dunia tersebut. Aku juga memulai berkencan dengan beberapa New Yorker – pergi menonton film bersama, melihat eksibisi seni di museum dan pergi ke bar speakeasy yang terkenal di NYC- menjadi bagian dari geliat anak muda yang tinggal di NYC. Sayangnya, waktu tiga bulan terlalu cepat untuk belajar menyelami seseorang dengan benar.

Diluar semua kegiatan yang kulakukan, kenyataannya, aku bukanlah mereka. Aku bukanlah bagian tetap dalam kerumunan New Yorkers yang benar-benar mencari pekerjaan di kota ini, yang bekerja untuk menabung demi mendapat apartemen yang jauh lebih baik, mendapat pasangan tetap, mungkin membeli rumah di pinggir New York City dan hidup bahagia di masa tua membesarkan anak.

Dalam tiga bulan, aku akan kembali ke tempat lainnya. Aku tidak akan menetap. Aku akan kembali menenteng koperku. Kembali menjadi nomaden. Ketika perasaan dan semua energi dalam tubuhku sudah mulai seirama dan selaras dengan gerak New York, tiba-tiba satu sertifikat sudah berada di tanganku dan malamnya, kami – para peserta terpilih Columbia data program – berkumpul di sebuah bar, saling berpelukan dan menangis.

It’s really coming to an end. 

lerone-pieters-vF6mSAWAzzU-unsplash
Photo by Lerone Pieters on Unsplash

***

Beberapa hari sebelum masa kontrak apartemenku habis, aku masih belum memesan tiket pesawat terbang. Aku masih belum mencari tempat tinggal lain untuk ditempati seandainya aku memilih untuk memperpanjang masa menetapku di NYC. Perasaanku mulai gelisah.

Aku mesti segera memutuskan. Apakah akan terus di NYC, kembali ke Lincoln, atau lainnya. Informasi mengenai beasiswa untuk Fall Semester masih tidak pasti, tetapi pihak Foreign Press Association sudah menelepon dan mengatakan kalau pengumuman akan dilakukan pada akhir September atau awal November. Jelas-jelas, aku tidak akan bisa menggunakan dana beasiswa tersebut untuk membayar perkuliahan di Columbia.

Mungkin, sudah saatnya kembali. Cukup untuk menempuh ilmu. Mungkin, Tuhan mengatakan, sudah saatnya mengabdikan ilmu untuk Indonesia.

***

Mungkin. Karena seminggu terakhir, terutama setelah menerima sertifikat professional development dari Columbia University, hari-hariku di New York berjalan penuh dengan chaos. Seolah-olah ada tangan kasat mata yang membuat semuanya berjalan serba salah. Mulai dari hubungan dengan teman sekamar yang semakin meruncing, teman kencan yang mulai berulah dan mulai menunjukkan rupa aslinya seperti ketahuan berbohong setelah mengatakan,” I really want to work on to be boyfriend with you,” ketidakpuasan terhadap tempat kerja dan atasan, lalu hal-hal kecil lain yang membuatku berkata,”Oh, God. What else?”

Semua terjadi bersamaan dalam seminggu sebelum – aku terbang ke Lincoln.

Hingga suatu malam, aku duduk di sofa di apartemen seorang teman kampus yang menawarkanku tempat tinggal gratis semalam sebelum aku terbang ke Lincoln. Sendiri. Menatap ke arah sebuah lukisan dengan gambar pohon dan kaligrafi Arab. Aku pun berkali-kali melakukan dialog dengan Tuhan di antara keletihan baik fisik dan emosional yang tidak terbendung.

“God, whatever you throw at me, I will accept it. I have tried my very best with determination. But, please make sure that it will give me a valuable lesson that I will learn for the rest of my life and that all of these struggles – the things that others do not experience – may lead me to enlightenment. I am being barenaked now in front of you and I am completely surrender.”

***

Dari semua perjuanganku selama berada di New York City, aku melihat rupa asli banyak orang. Meski banyak yang tidak peduli dengan orang lain dan bersikap seenak-enaknya sendiri, tetapi banyak juga yang masih memiliki hati dan mau menolong orang lain cuma-cuma. Misalnya, seorang rekan kerja, berbaik hati memberikanku makanan setiap kali bekerja di restoran.

Lalu, seorang teman FLTA Fulbright menawarkan bantuan untuk menggotong koperku, satu koper kecil dan satu koper besar, ke tempat temanku. It’s a hard work. Koper besarku kelebihan beban hingga 75 pounds dan kami berdua menggotong dua koper itu ke lantai tiga apartemen seorang teman dan juga menentengnya turun keesokan paginya. Namun, wajahnya tidak ada menunjukkan keletihan. What a rare quality of a person that you can find in a city like NYC. Lalu, ada juga teman yang lain, yang menawarkan tempat tinggal gratis di apartemennya yang kecil sekali – dia bisa saja keberatan tetapi dia tidak melakukannya – ketika aku baru pertama kali datang sehingga aku tidak perlu membayar Air BnB.

Lalu, ada sahabat-sahabat, yang tidak pernah keberatan untuk mengangkat teleponku ketika aku menangis tersedu-sedu merasa letih atas semua yang terjadi di New York City. Mereka selalu sabar mendengarkan semua ceritaku dan rajin memberikanku semangat. It has been like a roller coaster life for me, tetapi dari semua itu, aku menemukan kebaikan dan sadar manusia sesungguhnya memiliki ketahanan luar biasa yang tidak diduga-duga. From all the adversities, they survive and evolve.

***

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.