Strong

biografi, biography

New stars shed light on the past

source: spacestelescope.org

This day was supposed to be my deadline day for all the three courses that I take during the Fall semester. It was supposed to be. Until I heard the news. Then, I got a discount, a postponed deadline for one of my courses from a professor, because of that matter.

In the States, I am used to talking and speak up about everything to professors lightheartedly. It is quite different from what students in Indonesia feel and experience towards the form of relation between students and professors. I still remembered how difficult at that time lobbying with a vice dean of a law department in one university in Central Java when I helped a student’s from a risk of drop-out.

ROYAL ANCESTRY REVEALS STRONG-WILLED WOMEN

arts and culture, biografi, biography, humaniora

By Utami Diah Kusumawati

I learned from my family that strong-willed and influential women of our royal ancestry had great roles in creating the history of my country, Indonesia.

I remember the day I first learned about this heritage from my father,  Raden Untung Subarkah.

“You are a Raden Rara,” he told me when I was an elementary student in Jakarta, the capital city of Indonesia. “That is why I give you name Diah, which means a royal daughter.”

Raven Rara is a nobility title given to Javanese women who have royal blood, especially from the eighth generation or after. Javanese is one of the largest ethnic groups in Indonesia, which has 300 ethnic and linguistic groups throughout its archipelago, according to worldpopulationreview.com.

I forget how beautiful it is to write..

biografi, biography, politik dan hukum

Lincoln, Nebraska. 11.08 PM.

It has been two weeks for me at Lincoln, the capital city of Nebraska, an US state which is famous for its corn and Husker team. 😀

Catatan Hari Lahir

biografi, biography

10.06.2017.

Di depan Malay Heritage Centre, Singapura. (Dok. Pribadi)

Kalau waktu ibarat jam pasir, dia akan terus menerus berkurang tanpa kita bisa menghentikan. Setiap detik, butir pasir waktu itu akan terus berkurang dan terjatuh entah ke mana muaranya.

Sementara kita, manusia, hanya bisa menjalani hidup sebaik-baiknya, semaksimal kita bisa, dan memanfaatkan segala pilihan dengan memutuskan bijak. Patut digarisbawahi di sini: Keputusan bijak.

Tulisan Profil Andara F. Moeis (Kelola)

biografi

Andara F. Moeis
Biografi
Andara F. Moeis atau akrab dipanggil Anggie merupakan penari dan koreografer kontemporer yang lahir di Jakarta pada 20 Januari 1986. Ibunya adalah seorang dokter gigi dan ayahnya bekerja di bank. Andara tak memiliki darah seni secara langsung tetapi sejak kecil ia sudah senang menari dan rajin mengikuti ekskul tari. Kecintaanya pada tari bertambah saat dia sekolah di SMA Islam, Al Izhar Pondok Labu, dan membentuk grup tari moderen Shakadelic bersama dengan dua teman perempuannya. Saat itu, Shakadelic sering diudang untuk pentas di acara pentas seni antar sekolah. Andarapun menyadari bahwa tari adalah jalan hidupnya.“Saya merasa senang berada di atas panggung dan menjadi pusat perhatian karena menari,” jelasnya saat diwawancarai. Oleh karena itu, lulus dari SMA, Andara mengemukakan keinginannya untuk melanjutkan sekolah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) bidang koreografi tari kepada orangtuanya. Ia beruntung, orangtuanya memberikan dukungan penuh atas cita-citanya tersebut. Meski demikian, sang Ibu, Ida Mediana, menekankan padanya bahwa jalur yang dipilihnya akan sulit untuk mendapatkan uang. Karena merasa sudah benar-benar jatuh cinta, Andara mengatakan pada Ibunya ia akan tetap bergabung sebagai mahasiswi tari IKJ. Pada tahun 2003 ia resmi diterima sebagai mahasiswa tari IKJ.

Terbiasa dengan kehidupan yang urban dan lekat dengan kegiatan bergaul, awalnya Andara merasa canggung dengan ritme kuliahnya yang sibuk dari pagi hingga malam. Ia mengaku sering cabut kelas dan memilih nongkrong dengan anak-anak dari jurusan lain. Kegiatan itu perlahan-lahan berubah seiring berjalannya waktu dan bertambah padatnya jadwal kuliah pada semester tiga. Andara semakin sibuk berkutat di ruang latihan. Tetapi, ia justru semakin menikmati proses mengkreasikan gerak tari. Perempuan muda ini banyak belajar tari langsung dari maestro tari seperti Sardono W. Kusumo, Hartati serta Jecko Siompo, yang masing-masing memiliki dasar tari tradisi kuat.

“Sekali kita memahami tubuh dan melihatnya dari sudut pandang lain, kita akan lebih menikmati proses menciptakan gerak itu sendiri. Suatu waktu saya pernah dilatih oleh Sardono W. Kusumo dan beliau meninggalkan saya selama beberapa jam agar saya menghayati tubuh dan bukan berpikir menciptakan gerak tari. Gerak akan muncul dengan sendirinya. Musikpun dipasang. Awalnya terpikir apa mungkin, tetapi lama kelamaan saya justru ketagihan dengan proses memahami tubuh itu,” jelasnya.

Di kuliah pulalah ia mulai belajar bagaimana membuat karya tradisi yang berangkat dari pengalaman sehari-hari. Meski di kemudian hari, Andara tidak berfokus pada karya tari tradisi melainkan tari kontemporer, dunia di mana ia tumbuh, namun belajar tari tradisi baginya sangat penting karena bisa memperkaya gerak tari. Andara membuat karya tari pertamanya “It’s Me” pada tahun (2005) sebagai ujian komposisi 5 dari jurusan tari IKJ. Karya itu kemudian ditampilkan kembali di Komunitas Salihara pada tahun 2009. Kemudian, koreografinya yang lain seperti Kosong (2007), “……” (2008) dan Covering With Colors (2009) yang ditampilkan di Praha, Ceko, S[h] elf (2010) dan iBody (2011). Andara F. Moeis juga sudah aktif mengikuti Indonesian Dance Festival (IDF), salah satu festival tari terbesar di Indonesia dan dihargai di lingkup internasional yang didirikan diantaranya oleh maestro tari Nungki Kusumastuti , Sal Murgiyanto dan Maria Darmaningsih, baik sebagai penari ataupun koreografer semenjak tahun 2006. Pada tahun 2011 lalu, Andara F. Moies bersama dengan tiga penari muda perempuan lainnya membentuk pekan tari bertajuk I Move yang diadakan di Taman Ismail Marzuki.

“Kami, sebagai penari muda, merasa masih jarang sekali ada medium yang memfasilitasikan kebutuhan kami untuk menari padahal sumber dayanya banyak. Sayang aja, udah belajar tari sekian lama, tetapi tidak dipentaskan karena keterbatasan sarana. Penari kurang percaya diri untuk pentas sendiri karena gak punya dana juga. Akhirnya, kami membentuk I Move, sebuah pertunjukan yang terutama memberikan kesempatan bagi penari muda tampil. Tahun 2012 ini, I Move diadakan kembali dan respon dari penari mudanya positif,” jelasnya.

Berkat konsistensinya di dunia tari, penari muda inipun mendapatkan penghargaan Empowering Women Artists (EWA) dari Yayasan Kelola untuk periode tahun 2012-2013 dan disebut-sebut oleh Nungki Kusumastuti sebagai penari muda Indonesia yang sudah layak untuk mendunia. Saat ini, selain mengajar tari di sekolah tari Gigi Arts Dance, Andara juga didaulat menjadi juru bicara IDF 2012.


Utami Diah Kusumawati – Penulis
Profil
Dari Ranah Tari KontemporerDalam sebuah wawancara, Andara menegaskan bahwa ia merupakan penari yang mengusung ciri kontemporer. Meski sempat belajar tari tradisi selama kuliah di IKJ dan pada guru seperti Sardono, Hartati dan Jecko Siompo, Andara tetap memutuskan untuk melaju di bidang tari kontemporer. Alasannya sederhana, ia besar dan tumbuh dalam lingkungan urban yang memperkuat modal kontemporernya.

“Seluruh karyaku tidak ada yang berangkat dari tradisi melainkan pengalaman sehari-hari yang kemudian dijadikan pengalaman universal, sesuatu yang lekat denganku. Bagiku membuat karya bukan persoalan semata-mata eksistensi melainkan sebuah pemikiran atas apa yang akan disumbangsihkan pada masyarakat dan kita mesti jujur untuk itu,” jelasnya.

Ciri kontemporer itu tercermin dalam karya-karyanya. Misalnya dalam karya “It’s Me” (2005) yang menceritakan tentang dirinya, sebagai anak remaja yang baru memasuki dunia tari. Ada perjuangan di sana. Dalam karya ini juga ditampilkan gambaran kehidupan sosial anak muda di Jakarta secara umum yakni, dekat dengan teknologi dan informasi, pesta, budaya pop urban (direpresentasikan oleh produk-produk seperti misalnya sepatu keds, tanktop) serta sosialisasi. Andara menggunakan latar musik pop moderen yang ikonik seperti Britney Spears untuk mengentalkan atmosfer tempo kini. “Karya ini terinspirasi dari pengalaman pribadi saya sebagai anak muda yang besar dan tumbuh di kota Metropolitan seperti Jakarta yang sangat kompleks, multikultural dan moderen.Karya “Its Me” ditampilkan pertama kali sebagai Ujian Komposisi 5, festival tari “next traces” oleh Dewan Kesenian Jakarta di Graha Bakti Budaya, festival tari kontemporer di Padang, dan di Komunitas Salihara.

Sementara itu, tarian kedua berjudul “Kosong” merupakan tarian koreografi Andara F. Moeis yang mengisahkan tentang kondisi individu yang tidak lagi mengetahui apa yang diinginkan dan tidak lagi memiliki kekuasaan terhadap apa yang terjadi dan dialaminya. Kekosongan membuat individu-individu menjadi outer directed yakni mengarahkan diri pada orang lain dalam rangka mencari pegangan dan petunjuk untuk menentukan hidup. Karya ini dipentaskan dalam gelar koreografi kota oleh Dewan Kesenian Jakarta kerjasama dengan Japan Contemporary Network di Goethe Haus (2007). Karya ini dipentaskan oleh Siti Ajeng Soelaeman serta Nur Hasanah. “Karya ini terinspirasi atas masalah yang dialami manusia di Jakarta yang menjadikan mereka manusia yang bergerak seperti robot dengan rutinitasnya,” jelasnya.

Karya Andara F. Moeis selanjutnya adalah “….” (2008) yang dipentaskan pertama kali sebagai karya akhir ujian S1 Institut Kesenian Jakarta di Teater Luwes (2008) kemudian di Komunitas Salihara (2009). Karya ini menurutnya merupakan pengembangan dari karya kosong yang ide dasar berangkat dari Jakarta yang menjadikan manusia bergerak bagaikan robot dengan rutinitas dan mobilitas yang tinggi sehingga manusia tersebut tidak tahu lagi apa yang diinginkan.

Tarian berikutnya berjudul “S[h]elf” (2010) yang dikoreografikan oleh Fitri Setyaningsih dengan dramaturgi Yudi Ahmad Tajudin. Dalam tarian ini, Andara ‘Anggie’ F. Moeis berkolaborasi bersama Siti Ajeng Soelaeman mengisahkan perjalanan mereka sebagai dua penari muda yang lahir dari kebudayaan urban dan lekat dengan kegiatan gaul urban seperti kongko, pesta dan bergaul dengan ringan. Meski demikian, tidak berarti mereka tanpa kerja keras karena anak-anak muda ini juga memiliki kesungguhan berkarya, kompetensi bekerja yang ditunjukan lewat kiprah mereka di dunia seni tari. S[h]elf ditampilkan dalam acara pembukaan IDF 2011 dan Komunitas Salihara (2010).

Kemudian karya “Covering With Colors” merupakan tarian karya Andara F. Moeis yang dipentaskan di Praha Ceko pada acara malam tari kontemporer Indonesia oleh Institut Kesenian Jakarta bekerjasama dengan kedutaan Republik Indonesia (2009). “Karya ini terinspirasi dari lukisan-lukisan prof. Sardono W. Kusumo. Di sini saya mencoba bermain warna dari lukisan beliau. Karya ini merupakan hasil eksplorasi,” jelasnya.

Terakhir, karyanya adalah iBody (2011) yang dipentaskan dalam acara iMove (2011) atau Indonesian Movement Platform for the Youth di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Karya ini ditampilkan juga pada acara Internasional Dance Festival (IDF) 2012 . Menurutnya, karya ini berangkat dari anatomi tubuh dan ia mencoba bereksplorasi dengan anatomi tubuh dan properti-properti yang dekat dengannya seperti bantal, kaus kaki serta lampu.

Andara mengaku banyak mendapatkan inspirasi dari kejadian kesehariannya selain pengalaman masa lalunya yang banyak memperkaya rasanya sebagai seorang penari.

 

Utami Diah Kusumawati — Penulis
Karya
Its Me (2005)
Kosong (2007)
“….” (2008)
Covering With Colors (2009)
S[h] elf (2010)
iBody (2011)
Kontak
Andara F. Moeis
Apt. Sudirman Park Jl. KH. Mas Mansyur Kav. 35 Tower B Unit 35 CB Jakarta
Phone : 08568935194
Email : miss.andara@gmail.com

Michael Issenberg: Developing Human Resources Based on Career Opportunities

biografi

TODAY the hotel industry is becoming more competitive as indicated by the rapid growth of hotels and tourism around the world.  This development is not only taking place in European countries and the US but many hotel owners are also focusing on Asia which is the new gold mine for the industry especially as many people now travel to various Asian countries.

Asia has now become a flourishing market for hotels, so it is not surprising that the global hotel industry is also focusing on Indonesia which has many attractive tourism sites.

Michael Issenberg, chairman and chief operational officer of Accor Asia Pacific, agrees that there are great opportunities for the hotel business in Asia, including Indonesia.  Indeed while the recent natural disasters had a somewhat negative impact on the region’s economy the increased mobility of travelers has made the hotel business in Asia quite promising.

According to Issenberg the growing Indonesian economy has triggered more business and leisure travelling. “In my opinion the hotel industry in Asia including in Indonesia is developing rapidly and especially in Jakarta and Bali it is quite solid. However, in the next five to 10 years I am sure Indonesia can compete globally. Accor with its expansive and wide ranging hotel network in Indonesia strengthens the brand Accor while all available significant resources in Indonesia help develop Accor’s business further. Accor in Indonesia gives a unique experience to its customers so that they are attracted to come here again,” he said.

In view of the business opportunities available Accor plans to open 34 new hotels nationwide in Indonesia with a total number of 4,526 rooms within the next four years starting from 2011 and to be completed by 2014.

Some of the names of the hotels that will be built are as follows: Pullman Jakarta Central Park, Novotel Jakarta Gajah Mada, The Kuta Beach Heritage (McGallery), Ibis Bandung Supermall, All Seasons Bali Nusa Dua and Benoa, Novotel Banjarmasin, Mercure Palu, Mercure Serpong Alam Sutera, Ibis Makassar Losari, Ibis Jakarta Senen as well as Formule 1 Semarang. The huge number of hotels to be built by Accor in Indonesia highlights the promising market for the hotel industry in the country.

“I visited a number of cities here in Indonesia, such as Jakarta, Surabaya, Bali and Yogyakarta before deciding to open more hotels. What I see is a solid market and good business opportunity for hotels, so the Accor hotel network in Indonesia is to fulfill both business and tourism segments,” said Issenberg.

As COO of one of the world’s largest hotel operators Issenberg emphasized that he is ready to take his team to the global competition in the hotel industry.  The key, he said, is the uniqueness of Accor as a European company that incorporates European culture amid the mushrooming of hotels originating from US or having an American style. By European culture he means the unique French elegance, which albeit luxurious can be targeted at different market segments. This can be clearly seen from the wide range of Accor hotels that cater to the upper, middle as well as lower segments. “Although we have various classes the unique European design is the main key of Accor hotels,” he explained.

Issenberg, who is a graduate of Cornell University, acknowledged that he fell in love with the hotel industry during his university days. After graduating he worked for Westin Hotels & Resorts, Laventhol and Horwath & Horwath Services, Merlin Properties, Mirvac Pty Limited and finally Accor. He first joined Accor as general manager Accor Asia Pacific. “I found my true heartfelt desire for the hotel industry during my university days and I put into practice what I learned there which turned out to be very useful for my work,” he said.

One thing is really important in the service business, said Issenberg, and that is human resources. Human resources, he explains, is a vital asset and must be taken care of. He has one principle or philosophy for his work: enjoy your work. And this is what he transfers to Accor employees. “If you enjoy doing something the result will certainly be good and if you enjoy doing it you can also influence others to work seriously as well,” he explained.

Issenberg said at Accor it was not only this principle or philosophy — enjoy your work — but career opportunities or promotions were wide open and fast. So it is very possible to be promoted to a different hotel or to another country. “These opportunities make the employees feel better and more secure. They also come to realize more about themselves, their work and their purpose in work. All these things motivate them further,” he said.

Although having achieved quite an important position in his career Issenberg, who loves to swim and work out at the gym, is very much a family man and loves his family and leads a simple life. His busy schedule at the top position in the hotel industry does not make him forget his family. His children are a source of inspiration and he gets lots of knowledge and lessons in life from them. “I have two teenage kids, one is a boy and the other is a girl. I learn a lot from them and see points of view that I never thought of before. My son teaches me about current technology which he loves, while my daughter gives me lessons about femininity,” he said.

When he has the time he takes his family abroad for a quality vacation. As they love to ski there are a number of favorite places for Issenberg’s family like Colorado and Japan. Other favorite places are Bali, Sydney and Paris. Bali is a very special place for him because he was married there. Bali, especially Seminyak, is also a favorite place for his children as they like to do their shopping there.

However Issenberg acknowledges that his success as chairman and chief operational officer is possibly due to his sense of competition. For him success means winning in a match or competition.

However to win everyone must set a benchmark, but that is not easy, he said. It is the individual’s experience that takes him or her to success, he added. “But I don’t use my competitive trait in human relations. Winning or losing is not valid here. I only tell many people that I hope they can enjoy what they are doing and be happy,” he said in conclusion. (Isabella Jong)

The Jakarta Post, June 18, 2011

*this is one of some articles in which I used nickname as Isabella Jong for some reasons.

Shirley Lim & Pembelajaran untuk Perempuan

biografi

Image
Shirley Lim, Pembelajaran untuk Kaum Perempuan

Bagi penulis kelahiran Malaysia dan menetap di Amerika Serikat ini, tidak ada kata untuk diam. Perempuan mesti berbicara mengenai kehidupan mereka melalui tulisan.

Utami Diah Kusumawati

TIDAK MUDAH menjadi seorang imigran perempuan berasal dari Asia yang menempuh studi di California, Amerika Serikat pada tahun 1969. Saat itu, Shirley Lim, novelis dan juga profesor di salah satu universitas di Amerika Serikat merupakan satu-satunya pelajar Asia yang mendapatkan beasiswa belajar di negara itu. Kesepian menjadi satu-satunya teman keseharian perempuan berperawakan kecil ini di luar kesibukannya sebagai pelajar. Maka, ia pun berinisiatif membentuk sebuah komunitas penulis perempuan di daerah California, di mana mereka saling memberikan dukungan emosional bagi perkembangan karier kepenulisan setiap anggota.

“Waktu itu, kami saling berdiskusi satu sama lain, memberikan tanggapan atas tulisan kami, membaca puisi dan juga cerita pendek bersama-sama sampai akhirnya saya meninggalkan California. Sekarang, kami masih tetap menjadi teman satu sama lain yang memiliki keterikatan emosional yang kuat,” ujar Shirley yang ditemui di salah satu hotel di Jakarta Pusat ketika diundang sebagai pembicara di Ubud Writers and Readers Festival dan sebuah komunitas sastra di bilangan Jakarta Selatan.

Shirley memulai ketertarikan menulisnya pada saat usia sepuluh tahun, saat itu ia menulis sebuah kumpulan puisi yang diterbitkan di Malacca Times. Detik itulah, ia berkeinginan untuk menjadi seorang penyair. Namun, waktu berlalu dan Shirley mengalami perubahan roda kehidupan yang tak terduga. Keluarga besarnya yang merupakan keturunan pedagang kaya mengalami kebangkrutan total. Dari memiliki banyak pelayan, satu per satu barang di rumahnya di sita tukang kredit hingga akhirnya ia terpaksa tinggal bersama delapan keluarga lainnya di sebuah rumah kakeknya. Kejadian itu membuat Ibunya pergi meninggalkan anak-anak dan suaminya, sehingga dia beserta saudara lelakinya mesti diasuh oleh sang ayah yang pengangguran. Setiap hari, ia berkisah, mesti makan sehari sekali karena tidak adanya uang yang mencukupi. Kehidupan itu membekas sekali dalam ingatannya hingga akhirnya dia mendapatkan beasiswa belajar ke Amerika Serikat.

“Saya tahu saya harus pergi mengejar impian saya. Saat itu saya berpikir, kalau saya menetap di Malaka, saya tidak akan bisa menjadi apa yang saya inginkan saat ini. Saya akan menikah dan punya anak, sama seperti perempuan-perempuan lainnya yang hidup dalam sebuah kotak tertutup. Tidak ada yang bilang padamu bahwa hidup akan berjalan mudah bukan? Suatu saat kamu akan sukses tetapi hal itu diperoleh dari sebuah kerja keras,” katanya.

Shirley kecil memang sudah memiliki ketertarikan untuk berpetualang, mengetahui horizon cakrawala pengetahuan yang luas, dan kesempatan beasiswanya memberikan ia jalan menuju impiannya. Untungnya, dia dibesarkan dalam komunitas masyarakat China. Dia mendapatkan paradigma bahwa pelajaran merupakan hal yang paling utama harus dikejar sampai mana pun. Ayahnya merupakan salah satu pendukung terbesar karier akademis Shirley.

“Saat itu ayah menulis surat pada saya ketika saya baru mendapatkan beasiswa. Katanya, Shirley, kamu harus menyelesaikan pelajaranmu, jangan pulang dulu. Selesaikan sampai tuntas. Beberapa bulan kemudian, kakak saya mengirimkan saya surat yang berisi bahwa ayah terkena kanker tenggorokan dan meninggal. Bahkan saya tidak ada di sana di prosesi penguburannya karena ayah ingin saya terus belajar,” katanya bercerita sembari menitikkan air mata. Jelas sekali peristiwa itu sangat membekas dalam hati perempuan ini.

Ia mengatakan memiliki perasaan bersalah saat itu, tetapi tak ada yang bisa ia lakukan juga bila kembali ke China. Saat itu, ia masih menjadi seorang mahasiswa tahun pertama dan tak punya cukup uang untuk kembali ke China. Akhirnya ia memutuskan untuk serius pada studinya dan sang kakak, tak beberapa lama kemudian, mengirimkan kembali jurnal-jurnal yang dituliskan oleh sang ayah pada Shirley. Dalam jurnal itu, sang ayah bercerita betapa ia menyayangi Shirley dan menginginkan yang terbaik untuk anak perempuan favoritnya tersebut dan berpesan agar ia menjaga ibu tiri dan anak-anaknya yang masih muda sebaik-baiknya.

“Saat itu saya merasa hal tersebut sebuah ketidakadilan. Saya anak perempuan satu-satunya di keluarga dan semestinya bukan saya yang memegang tanggung jawab, tetapi ayah memberikan tanggung jawab itu pada saya. Ketika memperoleh uang pertama kali, saya kirimkan uang-uang itu untuk ibu tiri dan anak-anaknya juga kakak lelaki yang baru saja mendapatkan pemecatan sementara ia memiliki tanggungan anak. Saya terpaksa meminjam uang dari suami,” katanya.

Shirley menerbitkan buku pertamanya, kumpulan puisi, Crossing the Peninsula pada tahun 1980, yang memenangkan penghargaan Commonwealth Poetry Prize, penghargaan pertama yang diraih oleh seorang Asia dan juga perempuan. Koleksi bukunya yang lain adalah Another Country (1982), Life’s Mysteries (1985), No Man’s Grove and Other Poems (1985), Modern Secrets: New and Selected Poems (1989), Monsoon History (1994), Two Dreams: New and Selected Stories (1997), What The Fortune Teller Didn’t Say (1998), dan memoarnya yang terkenal, Among The White Moon Faces yang memenangkan penghargaan American Book Award pada tahun 1997.

“Saya lupa apa yang dikatakan oleh penghargaan itu, tetapi buku tersebut mendapatkan banyak review bagus dari media besar di Amerika Serikat seperti San Fransisco Chronicle dan The Washington Post. Tetapi saya tidak pernah menulis untuk mendapatkan penghargaan. Kamu pun menulis karena kamu menyukainya, tidak untuk sebuah penghargaan, bukan?” katanya.

Dari banyak tulisannya, Shirley banyak bercerita mengenai suka dan duka sebagai seorang imigran dan perempuan di dunia yang baru, yakni Amerika Serikat. Ketika berada di Malaka, ia berada di tengah sebuah komunitas yang saling dekat satu sama lain. Sementara, Amerika memiliki nilai yang berbeda, dengan individualitasnya tersendiri. Hingga pada suatu titik, ia ketakutan tumbuh dari dirinya, bahwa suatu nanti saat tua dan hendak menghembuskan napas-napas terakhirnya, ia justru akan meninggal seorang diri dan kesepian. Tak satu pun seseorang akan memerhatikan dan menjaganya, perasaan komunal yang tercerabut seperti yang ia rasakan selama berada di kampung halamannya. Perasaan-perasaan, kenangan-kenangan yang ingin ia bangkitkan dalam kehidupan masa lalunya itulah yang ia tuangkan dalam buku memoir karyanya.

“Tulisan inilah merupakan suaraku. Aku tidak ingin menjadi perempuan dan diam saja atas apa yang telah kulalui dan kulihat dalam duniaku. Awalnya aku merasa segan sebab kamu tahu sendiri perempuan Asia enggan bercerita banyak tentang keluarga mereka sendiri, karena kamu mencemaskan mereka dan mereka pun akan sedih. Tetapi, dengan menulis aku membangkitkan kembali kenangan-kenanganku akan mereka, aku merepresentasikan suara-suara mereka, pamanku, tanteku, ayahku yang hidup kembali melalui bahasa,” katanya bersemangat.

Meski demikian, Shirley terutama ingin mengisahkan kembali cerita tentang perempuan sebagai sebuah pembelajaran kepada para perempuan muda. Juga buat murid-muridnya di universitas untuk terus membuka horizon dan cara pandang yang kritis agar bisa terus maju dan bersumbangsih, tentunya terhadap kemanusiaan itu sendiri.

***

Biodata Shirley Lim

– Penulis cross genre kelahiran tahun 1944 di Malaka, Malaysia.

– Suami: Charles Bazerman

– Profesor dan Ketua Jurusan Sastra Inggris di Universitas California, Santa Barbara

– Kuliah S1 Sastra Inggris di Universitas Malaysia

– Kuliah S2 Sastra Amerika di Universitas Brandeis

– Dosen di Jurusan Sastra Inggris di Universitas California, Santa Barbara.

– Pengajar di Universitas Nasional Singapura, Institut Nasional Pendidikan Nanyang Technological University.

– Ketua Profesor di Universitas Hong Kong

– Penghargaan: “Fulbright Distinguished Lecturer Award” (1996), “American Book Award” (1989) dan dimenangkan kedua kali setahun kemudian (1997), “Asiaweek Short Story award” untuk “Mr Tang’s Uncles” (Feminist Press, 1997).

Jurnal Nasional | Minggu, 26 Feb 2012

sarahjeong dot net

thoughts longer than five tweets or so

JEROME MARCIANO

Manise-Manise

Perempuan Aksara

tetap membumi meski dunia membuatmu melambung tinggi

Dongeng si Abu-Abu

ku tinggalkan namaku di sini, dengan ujung jarinya ia menuliskan cerita, sebuah dongeng untuk dikisahkan.

%d blogger menyukai ini: