Michael Issenberg: Developing Human Resources Based on Career Opportunities

biografi

TODAY the hotel industry is becoming more competitive as indicated by the rapid growth of hotels and tourism around the world.  This development is not only taking place in European countries and the US but many hotel owners are also focusing on Asia which is the new gold mine for the industry especially as many people now travel to various Asian countries.

Asia has now become a flourishing market for hotels, so it is not surprising that the global hotel industry is also focusing on Indonesia which has many attractive tourism sites.

Michael Issenberg, chairman and chief operational officer of Accor Asia Pacific, agrees that there are great opportunities for the hotel business in Asia, including Indonesia.  Indeed while the recent natural disasters had a somewhat negative impact on the region’s economy the increased mobility of travelers has made the hotel business in Asia quite promising.

According to Issenberg the growing Indonesian economy has triggered more business and leisure travelling. “In my opinion the hotel industry in Asia including in Indonesia is developing rapidly and especially in Jakarta and Bali it is quite solid. However, in the next five to 10 years I am sure Indonesia can compete globally. Accor with its expansive and wide ranging hotel network in Indonesia strengthens the brand Accor while all available significant resources in Indonesia help develop Accor’s business further. Accor in Indonesia gives a unique experience to its customers so that they are attracted to come here again,” he said.

In view of the business opportunities available Accor plans to open 34 new hotels nationwide in Indonesia with a total number of 4,526 rooms within the next four years starting from 2011 and to be completed by 2014.

Some of the names of the hotels that will be built are as follows: Pullman Jakarta Central Park, Novotel Jakarta Gajah Mada, The Kuta Beach Heritage (McGallery), Ibis Bandung Supermall, All Seasons Bali Nusa Dua and Benoa, Novotel Banjarmasin, Mercure Palu, Mercure Serpong Alam Sutera, Ibis Makassar Losari, Ibis Jakarta Senen as well as Formule 1 Semarang. The huge number of hotels to be built by Accor in Indonesia highlights the promising market for the hotel industry in the country.

“I visited a number of cities here in Indonesia, such as Jakarta, Surabaya, Bali and Yogyakarta before deciding to open more hotels. What I see is a solid market and good business opportunity for hotels, so the Accor hotel network in Indonesia is to fulfill both business and tourism segments,” said Issenberg.

As COO of one of the world’s largest hotel operators Issenberg emphasized that he is ready to take his team to the global competition in the hotel industry.  The key, he said, is the uniqueness of Accor as a European company that incorporates European culture amid the mushrooming of hotels originating from US or having an American style. By European culture he means the unique French elegance, which albeit luxurious can be targeted at different market segments. This can be clearly seen from the wide range of Accor hotels that cater to the upper, middle as well as lower segments. “Although we have various classes the unique European design is the main key of Accor hotels,” he explained.

Issenberg, who is a graduate of Cornell University, acknowledged that he fell in love with the hotel industry during his university days. After graduating he worked for Westin Hotels & Resorts, Laventhol and Horwath & Horwath Services, Merlin Properties, Mirvac Pty Limited and finally Accor. He first joined Accor as general manager Accor Asia Pacific. “I found my true heartfelt desire for the hotel industry during my university days and I put into practice what I learned there which turned out to be very useful for my work,” he said.

One thing is really important in the service business, said Issenberg, and that is human resources. Human resources, he explains, is a vital asset and must be taken care of. He has one principle or philosophy for his work: enjoy your work. And this is what he transfers to Accor employees. “If you enjoy doing something the result will certainly be good and if you enjoy doing it you can also influence others to work seriously as well,” he explained.

Issenberg said at Accor it was not only this principle or philosophy — enjoy your work — but career opportunities or promotions were wide open and fast. So it is very possible to be promoted to a different hotel or to another country. “These opportunities make the employees feel better and more secure. They also come to realize more about themselves, their work and their purpose in work. All these things motivate them further,” he said.

Although having achieved quite an important position in his career Issenberg, who loves to swim and work out at the gym, is very much a family man and loves his family and leads a simple life. His busy schedule at the top position in the hotel industry does not make him forget his family. His children are a source of inspiration and he gets lots of knowledge and lessons in life from them. “I have two teenage kids, one is a boy and the other is a girl. I learn a lot from them and see points of view that I never thought of before. My son teaches me about current technology which he loves, while my daughter gives me lessons about femininity,” he said.

When he has the time he takes his family abroad for a quality vacation. As they love to ski there are a number of favorite places for Issenberg’s family like Colorado and Japan. Other favorite places are Bali, Sydney and Paris. Bali is a very special place for him because he was married there. Bali, especially Seminyak, is also a favorite place for his children as they like to do their shopping there.

However Issenberg acknowledges that his success as chairman and chief operational officer is possibly due to his sense of competition. For him success means winning in a match or competition.

However to win everyone must set a benchmark, but that is not easy, he said. It is the individual’s experience that takes him or her to success, he added. “But I don’t use my competitive trait in human relations. Winning or losing is not valid here. I only tell many people that I hope they can enjoy what they are doing and be happy,” he said in conclusion. (Isabella Jong)

The Jakarta Post, June 18, 2011

*this is one of some articles in which I used nickname as Isabella Jong for some reasons.

Shirley Lim & Pembelajaran untuk Perempuan

biografi

Image
Shirley Lim, Pembelajaran untuk Kaum Perempuan

Bagi penulis kelahiran Malaysia dan menetap di Amerika Serikat ini, tidak ada kata untuk diam. Perempuan mesti berbicara mengenai kehidupan mereka melalui tulisan.

Utami Diah Kusumawati

TIDAK MUDAH menjadi seorang imigran perempuan berasal dari Asia yang menempuh studi di California, Amerika Serikat pada tahun 1969. Saat itu, Shirley Lim, novelis dan juga profesor di salah satu universitas di Amerika Serikat merupakan satu-satunya pelajar Asia yang mendapatkan beasiswa belajar di negara itu. Kesepian menjadi satu-satunya teman keseharian perempuan berperawakan kecil ini di luar kesibukannya sebagai pelajar. Maka, ia pun berinisiatif membentuk sebuah komunitas penulis perempuan di daerah California, di mana mereka saling memberikan dukungan emosional bagi perkembangan karier kepenulisan setiap anggota.

“Waktu itu, kami saling berdiskusi satu sama lain, memberikan tanggapan atas tulisan kami, membaca puisi dan juga cerita pendek bersama-sama sampai akhirnya saya meninggalkan California. Sekarang, kami masih tetap menjadi teman satu sama lain yang memiliki keterikatan emosional yang kuat,” ujar Shirley yang ditemui di salah satu hotel di Jakarta Pusat ketika diundang sebagai pembicara di Ubud Writers and Readers Festival dan sebuah komunitas sastra di bilangan Jakarta Selatan.

Shirley memulai ketertarikan menulisnya pada saat usia sepuluh tahun, saat itu ia menulis sebuah kumpulan puisi yang diterbitkan di Malacca Times. Detik itulah, ia berkeinginan untuk menjadi seorang penyair. Namun, waktu berlalu dan Shirley mengalami perubahan roda kehidupan yang tak terduga. Keluarga besarnya yang merupakan keturunan pedagang kaya mengalami kebangkrutan total. Dari memiliki banyak pelayan, satu per satu barang di rumahnya di sita tukang kredit hingga akhirnya ia terpaksa tinggal bersama delapan keluarga lainnya di sebuah rumah kakeknya. Kejadian itu membuat Ibunya pergi meninggalkan anak-anak dan suaminya, sehingga dia beserta saudara lelakinya mesti diasuh oleh sang ayah yang pengangguran. Setiap hari, ia berkisah, mesti makan sehari sekali karena tidak adanya uang yang mencukupi. Kehidupan itu membekas sekali dalam ingatannya hingga akhirnya dia mendapatkan beasiswa belajar ke Amerika Serikat.

“Saya tahu saya harus pergi mengejar impian saya. Saat itu saya berpikir, kalau saya menetap di Malaka, saya tidak akan bisa menjadi apa yang saya inginkan saat ini. Saya akan menikah dan punya anak, sama seperti perempuan-perempuan lainnya yang hidup dalam sebuah kotak tertutup. Tidak ada yang bilang padamu bahwa hidup akan berjalan mudah bukan? Suatu saat kamu akan sukses tetapi hal itu diperoleh dari sebuah kerja keras,” katanya.

Shirley kecil memang sudah memiliki ketertarikan untuk berpetualang, mengetahui horizon cakrawala pengetahuan yang luas, dan kesempatan beasiswanya memberikan ia jalan menuju impiannya. Untungnya, dia dibesarkan dalam komunitas masyarakat China. Dia mendapatkan paradigma bahwa pelajaran merupakan hal yang paling utama harus dikejar sampai mana pun. Ayahnya merupakan salah satu pendukung terbesar karier akademis Shirley.

“Saat itu ayah menulis surat pada saya ketika saya baru mendapatkan beasiswa. Katanya, Shirley, kamu harus menyelesaikan pelajaranmu, jangan pulang dulu. Selesaikan sampai tuntas. Beberapa bulan kemudian, kakak saya mengirimkan saya surat yang berisi bahwa ayah terkena kanker tenggorokan dan meninggal. Bahkan saya tidak ada di sana di prosesi penguburannya karena ayah ingin saya terus belajar,” katanya bercerita sembari menitikkan air mata. Jelas sekali peristiwa itu sangat membekas dalam hati perempuan ini.

Ia mengatakan memiliki perasaan bersalah saat itu, tetapi tak ada yang bisa ia lakukan juga bila kembali ke China. Saat itu, ia masih menjadi seorang mahasiswa tahun pertama dan tak punya cukup uang untuk kembali ke China. Akhirnya ia memutuskan untuk serius pada studinya dan sang kakak, tak beberapa lama kemudian, mengirimkan kembali jurnal-jurnal yang dituliskan oleh sang ayah pada Shirley. Dalam jurnal itu, sang ayah bercerita betapa ia menyayangi Shirley dan menginginkan yang terbaik untuk anak perempuan favoritnya tersebut dan berpesan agar ia menjaga ibu tiri dan anak-anaknya yang masih muda sebaik-baiknya.

“Saat itu saya merasa hal tersebut sebuah ketidakadilan. Saya anak perempuan satu-satunya di keluarga dan semestinya bukan saya yang memegang tanggung jawab, tetapi ayah memberikan tanggung jawab itu pada saya. Ketika memperoleh uang pertama kali, saya kirimkan uang-uang itu untuk ibu tiri dan anak-anaknya juga kakak lelaki yang baru saja mendapatkan pemecatan sementara ia memiliki tanggungan anak. Saya terpaksa meminjam uang dari suami,” katanya.

Shirley menerbitkan buku pertamanya, kumpulan puisi, Crossing the Peninsula pada tahun 1980, yang memenangkan penghargaan Commonwealth Poetry Prize, penghargaan pertama yang diraih oleh seorang Asia dan juga perempuan. Koleksi bukunya yang lain adalah Another Country (1982), Life’s Mysteries (1985), No Man’s Grove and Other Poems (1985), Modern Secrets: New and Selected Poems (1989), Monsoon History (1994), Two Dreams: New and Selected Stories (1997), What The Fortune Teller Didn’t Say (1998), dan memoarnya yang terkenal, Among The White Moon Faces yang memenangkan penghargaan American Book Award pada tahun 1997.

“Saya lupa apa yang dikatakan oleh penghargaan itu, tetapi buku tersebut mendapatkan banyak review bagus dari media besar di Amerika Serikat seperti San Fransisco Chronicle dan The Washington Post. Tetapi saya tidak pernah menulis untuk mendapatkan penghargaan. Kamu pun menulis karena kamu menyukainya, tidak untuk sebuah penghargaan, bukan?” katanya.

Dari banyak tulisannya, Shirley banyak bercerita mengenai suka dan duka sebagai seorang imigran dan perempuan di dunia yang baru, yakni Amerika Serikat. Ketika berada di Malaka, ia berada di tengah sebuah komunitas yang saling dekat satu sama lain. Sementara, Amerika memiliki nilai yang berbeda, dengan individualitasnya tersendiri. Hingga pada suatu titik, ia ketakutan tumbuh dari dirinya, bahwa suatu nanti saat tua dan hendak menghembuskan napas-napas terakhirnya, ia justru akan meninggal seorang diri dan kesepian. Tak satu pun seseorang akan memerhatikan dan menjaganya, perasaan komunal yang tercerabut seperti yang ia rasakan selama berada di kampung halamannya. Perasaan-perasaan, kenangan-kenangan yang ingin ia bangkitkan dalam kehidupan masa lalunya itulah yang ia tuangkan dalam buku memoir karyanya.

“Tulisan inilah merupakan suaraku. Aku tidak ingin menjadi perempuan dan diam saja atas apa yang telah kulalui dan kulihat dalam duniaku. Awalnya aku merasa segan sebab kamu tahu sendiri perempuan Asia enggan bercerita banyak tentang keluarga mereka sendiri, karena kamu mencemaskan mereka dan mereka pun akan sedih. Tetapi, dengan menulis aku membangkitkan kembali kenangan-kenanganku akan mereka, aku merepresentasikan suara-suara mereka, pamanku, tanteku, ayahku yang hidup kembali melalui bahasa,” katanya bersemangat.

Meski demikian, Shirley terutama ingin mengisahkan kembali cerita tentang perempuan sebagai sebuah pembelajaran kepada para perempuan muda. Juga buat murid-muridnya di universitas untuk terus membuka horizon dan cara pandang yang kritis agar bisa terus maju dan bersumbangsih, tentunya terhadap kemanusiaan itu sendiri.

***

Biodata Shirley Lim

– Penulis cross genre kelahiran tahun 1944 di Malaka, Malaysia.

– Suami: Charles Bazerman

– Profesor dan Ketua Jurusan Sastra Inggris di Universitas California, Santa Barbara

– Kuliah S1 Sastra Inggris di Universitas Malaysia

– Kuliah S2 Sastra Amerika di Universitas Brandeis

– Dosen di Jurusan Sastra Inggris di Universitas California, Santa Barbara.

– Pengajar di Universitas Nasional Singapura, Institut Nasional Pendidikan Nanyang Technological University.

– Ketua Profesor di Universitas Hong Kong

– Penghargaan: “Fulbright Distinguished Lecturer Award” (1996), “American Book Award” (1989) dan dimenangkan kedua kali setahun kemudian (1997), “Asiaweek Short Story award” untuk “Mr Tang’s Uncles” (Feminist Press, 1997).

Jurnal Nasional | Minggu, 26 Feb 2012