Obrolan

Strong


New stars shed light on the past

source: spacestelescope.org

This day was supposed to be my deadline day for all the three courses that I take during the Fall semester. It was supposed to be. Until I heard the news. Then, I got a discount, a postponed deadline for one of my courses from a professor, because of that matter.

In the States, I am used to talking and speak up about everything to professors lightheartedly. It is quite different from what students in Indonesia feel and experience towards the form of relation between students and professors. I still remembered how difficult at that time lobbying with a vice dean of a law department in one university in Central Java when I helped a student’s from a risk of drop-out.

Baca lebih lanjut

Obrolan

ROYAL ANCESTRY REVEALS STRONG-WILLED WOMEN


By Utami Diah Kusumawati

I learned from my family that strong-willed and influential women of our royal ancestry had great roles in creating the history of my country, Indonesia.

I remember the day I first learned about this heritage from my father,  Raden Untung Subarkah.

“You are a Raden Rara,” he told me when I was an elementary student in Jakarta, the capital city of Indonesia. “That is why I give you name Diah, which means a royal daughter.”

Raven Rara is a nobility title given to Javanese women who have royal blood, especially from the eighth generation or after. Javanese is one of the largest ethnic groups in Indonesia, which has 300 ethnic and linguistic groups throughout its archipelago, according to worldpopulationreview.com.

Baca lebih lanjut

Obrolan

I forget how beautiful it is to write..


Lincoln, Nebraska. 11.08 PM.

It has been two weeks for me at Lincoln, the capital city of Nebraska, an US state which is famous for its corn and Husker team. 😀

Baca lebih lanjut

Catatan Hari Lahir


10.06.2017.

Kalau waktu ibarat jam pasir, dia akan terus menerus berkurang tanpa bisa dihentikan. 

Sementara kita, manusia, hanya bisa menjalani hidup sebaik-baiknya, semaksimal mungkin, dan memanfaatkan segala pilihan dengan bijak. Patut digarisbawahi di sini: Keputusan bijak.

There is always be a consequence behind any decision you make in life. However, in order to make your life become meaningful, you have to know yourself better. What you need in life, what you want to do and achieve, and what is the meaning of your life for you, not for others.

IMG_20170610_205849
Textagram, Utami.

Selama ini – celakanya, saya tidak pernah merasa sedikit pun tua  – saya bersyukur hidup memberikan saya banyak pelajaran berharga.

Tiga tahun terakhir, keadaan berjalan lebih berat dari biasanya. Namun, di masa masa di mana saya ingin lebih memerhatikan diri sendiri, ada saja kejadian yang membuat saya mesti merawat orang-orang di sekitar.

Inilah masa-masa di mana saya ibarat mendorong batu ke atas bukit namun batu itu terus berguling kembali ke dasar. Saya berjongkok memungutnya dan kembali mendorongnya ke atas. Terus menerus seperti itu. 😦

Satu kalimat pamungkas yang saat itu hanya ingin saya tekankan ke diri sendiri: bertahan.

Di tengah kesulitan yang dua tiga tahun kemarin lebih sering saya alami yang menyebabkan kekalutan perasaan, seperti ketidakberdayaan menghadapi situasi tidak terduga yang beruntun menimpa, atau terjebak situasi, entah mengapa saya merasa hening.

Keheningan itu bermuasal dari sebuah keyakinan bahwa ada sesuatu dari semua ‘chaos’ yang akan berbuah sesuatu. 

Saya yakin ada masanya semua gesekan dalam hidup akan membuahkan pencerahan dan kematangan. Bahwa akan ada hadiah buat semua kesabaran dan sikap welas asih yang selama ini saya tanam. Tentunya, semua ketidakteraturan akan kembali menemukan titik keseimbangannya, bukan?

Hal yang paling terpenting dari semua itu adalah saya belajar berdamai dengan semua yang terjadi dalam hidup.

Dreamcatcher. (Dok. Pribadi)

Berdamai di situ maksudnya adalah belajar mengikhlaskan bahwa hidup tidak selamanya berjalan sesuai yang kita inginkan.

Bahwa hidup dengan segala kekurangannya, menurut perspektif kita, adalah sempurna dan diberikan Tuhan untuk mempersiapkan kita menjadi pribadi yang lebih matang dan kokoh.

Dengan itu, saya belajar untuk menundukkan ego dengan lebih banyak bersabar.

Tak hanya itu, saya juga belajar menerima diri secara apa adanya. Dengan belajar berdamai inilah, hidup menjadi lebih ringan buat saya. Hingga alhamdulillah, setahun yang lalu, keadaan berangsur membaik.

Kesabaran saya perlahan membuahkan hasil. Bahkan, apa apa yang saya harapkan satu persatu terwujud.

Khusus urusan pekerjaan, saya akhirnya berani memutuskan dan bersikap untuk melangkah keluar dari zona (tidak) nyaman. Zona (tidak) nyaman apakah? Bekerja di perusahaan-perusahaan ternama di Indonesia dengan gaji di atas angka rata-rata. Sehingga, saya mampu hidup berkecukupan, bahkan sanggup mencicil mobil kelas menengah atas.

IMG20170519155610.jpg
Singapore Contemporary Art Museums. (Dok. Pribadi)

Mengapa memutuskan untuk keluar dari zona (tidak) nyaman? Meski sesungguhnya menikmati pekerjaan tersebut, namun yang terakhir membuat saya kehilangan diri sendiri. Saya jadi lebih sering sakit-sakitan, karena tuntutan untuk selalu update dalam hitungan detik serta bekerja hampir nonstop.

Saya juga tidak memiliki waktu bersama keluarga dan teman-teman. Ketika tidak memberi apresiasi lebih atas diri sendiri, masalah satu demi satu bermunculan.

Hingga akhirnya, di suatu titik, setelah pertimbangan yang matang dan upaya mendengarkan diri sendiri, saya memutuskan untuk melangkah keluar dari zona (tidak) nyaman tersebut.

Ternyata, Tuhan malah membuka jalan ke pintu yang lain. Dari sana, tawaran bermunculan.  Puncaknya saya diminta bertugas meliput festival sastra anak internasional dan menjadi bagian delegasi Indonesia yang berada di kancah internasional. Tak hanya itu, saya juga ditawari menulis buku biografi seorang petinju papan atas meski akhirnya batal karena saya keburu kuliah ke luar negeri.

Intinya, ketika kita berani dan tegas menghargai diri sendiri, maka kita akan dipertemukan Tuhan dengan orang-orang yang benar-benar menghargai diri dan talenta kita apa adanya.

Alhamdulillah hingga kini, tawaran menulis masih terus berdatangan.

Indahnya lagi, kini saya memiliki banyak waktu untuk menikmati hidup, seperti bangun sedikit lebih siang atau bertemu lebih sering dengan keluarga (dalam hal ini orangtua dan adik-adik), kucing saya tersayang, dan teman-teman. Sesuatu yang saya impikan sejak dua tahun lalu sejak saya memasuki dunia jurnalisme online ala detik 🙂

Tak hanya itu, Tuhan juga sedang bermurah hati pada saya. Setelah semua musibah yang menimpa saya dua tahun lalu, tiba tiba saya mendapatkan panggilan wawancara untuk beasiswa Master Program dari lembaga Amerika Serikat, Fulbright.

Wawancara ini lalu berlanjut ke serangkaian tes lainnya dan tiba-tiba…zaaaaap! Saya sudah akan berangkat ke Amerika, insya allah pertengahan Juli ini. Meski masih menunggu wawancara visa, tapi saya sudah menjadi bagian dari grup Fulbright scholars yang orang-orangnya penuh talenta dan berpikiran terbuka.

Omong-omong tentang Fulbright scholars, ini merupakan salah satu impian terbesar saya selain menerbitkan novel solo, yang hingga kini belum rampung. 😪

Sejak kuliah di Sastra Inggris Universitas Indonesia, saya sudah sering mendengar tentang beasiswa ini karena memang cukup banyak senior dan dosen sastra Inggris UI yang mendapatkan beasiswa bergengsi tersebut.

Diantaranya adalah I Yudhi Soenarto yang merupakan pembimbing skripsi saya (Drama Shakespeare) sekaligus pelatih di Teater Sastra yang sempat saya ikuti semasa kuliah. Selain Mas Yudhi, ada juga bu Melanie Budianta, dosen Cultural Studies, dan Kak Intan Paramadhita, pengarang Sihir Perempuan sekaligus dosen saya di kelas Kritik Sastra Feminis.

Hingga dua tahun lalu, saya masih berpikir tidak mungkin bisa mendapatkan beasiswa ini. Pikir saya, beasiswa ini, kan, hanya untuk orang-orang cerdas dengan IPK cumlaude, alias mereka yang paling pinter seangkatan.

Sementara saya? Meski memiliki IPK di atas 3 dan pernah sekali meraih IPS 3,8 karena nilai-nilai mata kuliah sastra yang A semua, tapi saya tidak pernah berpikir layak untuk mendapatkan beasiswa ini. Apalagi, saya punya sejarah nilai Linguistik (bleh) yang selalu pas-pasan.

Selama kuliah nilai speaking, writing dan listening saya enggak pernah dapat A. Paling banter B+. Itu aja bagi saya sudah cukup dan bagus banget. Jadi, yah, beasiswa ini masih cuma kayak angin lalu saja.

Saya pikir kalaupun sekolah di luar negeri, mungkin tidak dengan beasiswa Fulbright. Tapi, toh, saya tetap iseng-iseng aja mengirim pada 2016 lalu. Pokoknya sebar ke semuanya, mulai Chevening, LPDP dan Fulbright. Tiga itu. Hati kecil saya meyakini kemungkinan yang paling besar ada di LPDP.

But who can guess someone’s path??
Ternyata dari beberapa beasiswa yang saya apply, justru pihak Fulbright yang menjawab cepat doa saya. Chevening belum keluar kabar sementara LPDP salah memasukkan saya ke dalam penerima beasiswa afirmasi.

Rasanya seperti tiba tiba naik ke atas jet coaster, meliuk liuk dengan cepat lalu tiba-tiba semenit kamu sudah sampai di tujuan. Whoaaa! That is what I feel when getting this scholarship.

Mulai dari urusan meminta rekomendasi yang berjalan secepat kilat (saya berutang budi pada banyak orang hebat dan baik hati seperti Kak Gietty Tambunan dari Sastra Inggris UI, Mas Alex Junaidi dari SEJUK dan The Jakarta Post, Bang Near Patria dari Dewan Pers dan The Jakartapost.com, Mbak Maria Hartiningsih dari koran KOMPAS, dan Pak Hafid Abbas mantan Ketua Komnas HAM), melakukan wawancara, hingga semua persiapan keberangkatan ke Amerika Serikat.

Apakah ada pertanda sebelumnya? Tidak sama sekali. Namun ketika saya mengirimkan proposal dan dokumen ke AMINEF, lembaga yang mengurus beasiswa Fulbright di Indonesia, saya hanya berkata dalam hati” Tuhan, saya butuh beasiswa ini.” Ternyata, kehendak Tuhan selaras dengan hati saya.

Apa yang bisa saya pelajari dari semua ini?

Selalu ada momentum (waktu yang tepat, kbbi) atas sesuatu. Momentum merupakan hal yang tidak bisa kita prediksi kapan datangnya, tetapi sebaiknya kita mempersiapkan diri sebaik mungkin hingga momentum itu tiba.

Kamu tahu? Kita bisa saja menginginkan sesuatu sepenuhnya. Kita berdoa siang dan malam atau berusaha sekeras mungkin. Namun, ketika memang belum saatnya, ya belum saja.

Sebaliknya, jika sudah saatnya, maka semua pintu akan terbuka cepat, seolah semesta mendukungmu, dan kamu tiba-tiba sudah sampai di tujuan masih tercengang, seperti seseorang menjentikkan jari dan kamu berpindah tempat dalam sekejap dengan perasaan, “Apakah ini benar-benar nyata?”

Hal ini juga dialami oleh dua sahabat saya. Mereka cerita kalau sempat putus asa sekali untuk menikah. Tekanan sosial baik dari orang tua ataupun melihat teman-teman yang sudah berkeluarga, membuat mereka ingin cepat berumah tangga.

Maka, mereka berupaya sekeras mungkin. Cari kenalan dan calon lewat berbagai medium, baik medsos ataupun situs dating online. Tak terkira jumlah pendekatan ataupun pertemuan, yang semua berakhir.. dengan kegagalan.

Hingga, ada ketakutan muncul bahwa mereka akan melajang seterusnya.

Namun, di tengah kekalutan itu, datanglah momentum.  Tak disangka, pinangan datang dari lelaki yang mereka suka. Tak lama itu…. setelah pertemuan singkat dengan keluarga, mereka pun menikah.  Kini, mereka bahkan sudah memiliki anak! It happens so fast. They said that they could not believe it. Just like what I feel about this scholarship.

Intinya, sabar, terus percaya dan berusaha. Jika belum berhasil saat ini, suatu saat akan tiba momentumnya. Selalu ada waktu tepat untuk semua hal. Jika belum juga membuahkan hasil, setidaknya kamu sudah tambah pengalaman dan percaya suatu saat kamu akan sampai juga di titik tersebut. 🙂

Sikap ini yang akan saya terapkan juga dalam menyikapi urusan asmara. Saya pernah ingat kata-kata Erica Jong, salah satu penulis novel favorit saya: kalau kamu seorang penulis atau novelis, jangan berpikir aneh jika urusan asmaramu atau hidupmu berjalan seperti benang ruwet, dibandingkan dengan mayoritas orang. Karena justru ‘keruwetan’ itulah yang akan menjadi modalmu untuk bisa menulis lebih kaya. 

Yah, kalau mau dilihat, sih, seperti gambar di bawah ini….. 😛

FIX YOU

Kembali lagi soal momentum. Ketiga tahun terakhir memberikan saya sebuah pelajaran penting untuk tidak pernah berhenti mengejar apa yang menjadi mimpi saya.

Alhamdulillahnya, saya punya teman teman yang sangat supportif dan memahami persoalan ini sebaik baiknya. Tidak sedikitpun mereka membuat saya merasa down akan situasi ini. (Thank God I’m blessed!) bahkan mereka selalu mengatakan hal-hal yang membesarkan hati. 💗💗

Sementara itu, kedua orang tua dan adik adik juga mulai supportif. Ketika menyampaikan berita soal beasiswa pertama kali ke keluarga, Ibu bereaksi seperti dulu pertama kali menerima kabar anak sulungnya memutuskan untuk menjadi jurnalis dan penulis.

Awalnya dia cemas berlebihan, dan tidak memberikan restu. Dia lalu mencecar saya dan kalimat pertama yang terucap dari bibir Ibu adalah,”Nanti kapan kamu nikah?”.

Namun, salah satu adik saya justru dengan cepat membantah,”udah, sih, enggak apa-apa, Ma. Nanti Mbak diah juga bakal ketemu jodohnya. Didoain aja semoga semua urusan beasiswanya lancar. Maju terus Mbak. Udah jalannya beasiswa dulu mungkin.”

Pernyataan adik membuat saya cukup terharu. Mungkin kalimat itu berkesan bagi Ibu hingga akhirnya pas kemarin pulang ke rumah, Ibu sudah lebih terbuka menanggapi beasiswa saya dan soal ketakutan dan perasaan-perasaannya sendiri.

Dia bilang,”Mama ingat kamu pernah duduk di sofa ini dan bilang ke Mama kamu ingin sekolah di luar negeri. Tapi waktu itu Mama bilang kita enggak punya uang dan sebaiknya adik adikmulah (yang lelaki) yang sekolah S2 bukan kamu. Ternyata Tuhan kabulkan doamu sekarang. Awalnya Mama memang enggak ikhlas. Kapan mau nikah? Tapi Mama sadar ini jalan Tuhan dan Mama enggak berhak protes melainkan bersyukur ”

Screenshot_2017-06-05-16-51-58-86

Rasanya campur aduk saat nyokap bilang seperti itu. Ada haru bahwa nyokap akhirnya mau ikhlas dan terbuka mengenai ketakutannya dan membuat hubungan kami jadi merenggang tapi juga sedih bahwa saya akan meninggalkan orangtua dan ketiga adik adik saya selama dua tahun ke depan.

***

Semakin dewasa kamu akan semakin sadar untuk memilih mana yang benar-benar berharga buat kamu dan mana yang tidak, mulai dari pekerjaan, teman dan hal lainnya.

Maka, teman yang baik buatmu adalah mereka yang tidak pernah berprasangka padamu ataupun menjauhimu hanya karena kamu salah, berlaku bodoh, atau mengesalkan sekali dua kali.

women_garden_party_sisters__24x24_on_wood__325_opt

Mereka akan tetap di sampingmu dan tidak akan pernah mau membuatmu merasa tidak nyaman tentang dirimu sendiri. Teman teman seperti ini yang dikasih alam semesta untukmu dan sebaiknya kamu manfaatkan dan hargai dengan baik.

Jika kamu bertemu dengan orang orang yang hanya mau tertawa saja denganmu namun meninggalkanmu di saat susah,  ataupun berpraduga tentang sikap sikapmu, maka mereka bukanlah teman yang baik untukmu dan tidak usah habiskan waktumu untuk mereka.

Lalu, soal passion. Jangan pernah membuat alasan apapun untuk mengejar passion-mu. No matter what people may say about you. 

Dulu, orang tua saya sempat tidak memberikan restu ketika saya pertama kali memutuskan bekerja sebagai jurnalis. Ibu bahkan tidak mau saya salami ketika saya berangkat kerja dan tidak mau memberikan uang untuk biaya kos. Namun, setelah melihat semua pencapaian dan kegigihan saya, Ibu pun luluh dan menyadari, this is the world whom her daughter loves so much. 

Making no excuses. Saya masih harus bersikap lebih tegas terhadap diri sendiri untuk tidak membuat alasan, terutama dalam menyelesaikan novel. Seperti yang dikatakan Erica jong, dalam novel Fear of Flying, bagaimana kita mau jadi penulis yang sukses kalau kita selalu memberikan alasan apapun untuk menulis novel.

Selama ini, saya selalu saja memberikan alasan entah waktu yang tidak ada, ataupun finansial susah, dan lain-lainnya, dan tidak menulis dengan keyakinan… suatu saat novel ini akan tetap selesai.

Ngelesnya, sih, gini, biar hati enak: Arundhati Roy aja nerbitin novelnya pas usia sudah kepala 40-an, Stephen King di usia 60-an dan Jumpa Lahiri di usia 30-an, hahaha. Intinya, sih, memang enggak ada batas waktu. Namun, kalau enggak diniatkan, bagaimana mau selesai  juga?

textgram_1497217565

Satu hal yang pasti saya akan terus menulis karena itulah hal yang membuat saya menemukan tujuan dalam hidup.

Intinya, saya cinta hidup saya dan terima kasih Tuhan buat semuanya. Thank God! 🙂 ❤

IMG_20170426_123115

sarahjeong dot net

thoughts longer than five tweets or so

JEROME MARCIANO

Manise-Manise

Perempuan Aksara

tetap membumi meski dunia membuatmu melambung tinggi

Dongeng si Abu-Abu

ku tinggalkan namaku di sini, dengan ujung jarinya ia menuliskan cerita, sebuah dongeng untuk dikisahkan.

%d blogger menyukai ini: