DATA VISUALIZATION: SCATTER PLOT HOLLYWOOD AGE GAP

arts and culture, gaya hidup, lifestyle

Unknown

Scatter plot of the age gap of relationship in the Hollywood movies. Plot by Utami Diah Kusumawati. For coding commands, visit /datavizUNL1(github)

Data Visualization: Dot Plot of the Top Ramen!

arts and culture, gaya hidup, lifestyle, seni dan budaya

utami world ramen dot plot

A dot plot of 2017 world’s top instant noodles version Ramenrater.com. Chart by Utami Diah Kusumawati. For coding commands, visit /datavizUNL1(github)

On Sadness

arts and culture, gaya hidup, humaniora, lifestyle

 

When interviewing refugees, I heard a lot of sad stories. Blue feeling was flowing like a filthy river on one sunny day. So much struggle, so much loss, so much adversity, so many tears. But then you realize, at the end, sadness is only a beginning of something beautiful and meaningful in your life.

TAM

 

Quote on Little Bee by Chris Cleave. Little Bee was shortlisted for the 2008 Costa Award for Best Novel. 

 

Sad words are just another beauty. A sad story means, this storyteller is alive. The next thing you know, something fine will happen to her, something marvelous, and then she will turn around and smile.

Fall and me

beauty, gaya hidup, lifestyle, seni dan budaya

IMG20171016160226

Photo taken by Utami Diah Kusumawati.

Photo taken by Utami Diah Kusumawati

Photo taken by Utami Diah Kusumawati

Photo taken by Utami Diah Kusumawati

Photo taken by Utami Diah Kusumawati

Photo taken by Utami Diah Kusumawati

Photo taken by Utami Diah Kusumawati

Photo taken by Utami Diah Kusumawati

IMG20171016160607

Photo taken by Utami Diah Kusumawati.

IMG20171109095847

Photo taken by Utami Diah Kusumawati.

IMG20171104150629

Photo taken by Utami Diah Kusumawati

Photo taken by Utami Diah Kusumawati

Photo taken by Utami Diah Kusumawati

Photo taken by Utami Diah Kusumawati

IMG20171109100151

Photo taken by Utami Diah Kusumawati.

IMG20171016160240

Photo taken by Utami Diah Kusumawati.

Gigi

gaya hidup, lifestyle

Lincoln, Nebraska

Nov 9, 2017

Hari ini, saya berkunjung ke dokter gigi di klinik kampus untuk berkonsultasi soal gigi yang sakit. Cukup terkejut juga. Ternyata, pemeriksaan gigi di Amerika Serikat sungguh berbeda dengan di Indonesia.

Sangsi

gaya hidup, humaniora, lifestyle, seni dan budaya

Beberapa hari lalu, perempuan itu mengetahui bahwa dia mendapatkan angka 33 dari skala 33. A plus. Nilai tertinggi untuk satu hal yang paling dia cemaskan selama ini: tata bahasa Inggris. Nilai itu bahkan diberikan oleh dosen yang terkenal paling susah dan ketat dalam urusan tata bahasa di kampusnya.

Sampai saat ini dia masih merasa tidak percaya. Pasalnya, dia merasa sudah terlalu sering mendapatkan komentar dari banyak orang betapa dia memiliki persoalan dengan tata bahasa Inggris.

Sebenarnya, dia selalu bisa melewati tes-tes bahasa Inggris dengan mudah. Dia bahkan lulus dari  ujian menulis di kampusnya di Amerika Serikat dan tidak perlu mengikuti pelatihan bahasa Inggris seperti teman-temannya yang lain. Nilai bahasa Inggrisnya, meski tidak istimewa, tapi tetap melampaui nilai dari teman-temannya yang lain.

Namun, untuk seseorang yang bercita-cita menjadi penulis skala global, standar saja tidak cukup. Dia harus mampu mengedit dengan bersih dan menulis jauh lebih baik dari  mereka yang tidak berprofesi sebagai pengarang ataupun jurnalis. Dan, dia tersandung.

Dia selalu saja merasa bahwa dia tidak cukup pintar dalam tata bahasa Inggris. Komentar selalu muncul: Kamu dulu lulusan Sastra Inggris dan kamu seorang penulis juga jurnalis. Kenapa bahasa Inggrismu tidak secanggih yang lain?

(Meski mereka tidak tahu, bahwa setelah lulus kuliah, perempuan itu tidak pernah menggunakan kemampuan bahasa Inggrisnya secara aktif karena dia selalu bekerja di perusahaan media berbahasa Indonesia).

Apakah kamu malas belajar?

(Dia tidak pernah mau mengutarakan betapa sering dia membaca koran-koran berbahasa Inggris, ataupun betapa dia sungguh menyukai membaca novel-novel bahasa Inggris dari pengarang favoritnya, dan selalu menuliskan kata-kata sulit dari setiap novel yang dia baca dan menerjemahkannya)

Seseorang bahkan pernah bertanya padanya: apakah kamu punya kelainan menulis karena kamu selalu menggunakan frasa Inggris secara terbalik?

Untuk pertama kalinya dalam hidup, dia mulai sangsi. Apakah dia benar-benar memiliki persoalan dalam menulis bahasa Inggris.

Dia mulai menelusuri riwayat akademis.

Nilai-nilai bahasa Inggris di kampus tidak termasuk tinggi. Bahkan, bisa dikatakan, dia berjuang untuk mendapatkan nilai antara B dan A. Kemampuan berbicara bahasa Inggris selalu bergerak di antara B dan C (Dia sungguh benci dengan kelas public speaking karena dia selalu merasa dikalahkan oleh kegugupan dirinya sendiri). Kemampuan membaca Inggris A minus, B atau C+. Sementara, dia mulai bisa mendapatkan nilai A untuk kemampuan menulis dalam bahasa Inggris.

Di luar dari itu, nilai-nilai mata kuliah sastra, mulai dari kritik sastra, penulisan populer (bahasa Indonesia), ataupun pengkajian drama dan puisi meraih nilai A.

Dia lantas mulai menimbang-nimbang. Apakah menulis dengan bahasa Inggris adalah sebuah karir yang sebaiknya dia pertimbangkan ulang? Apakah dengan keterbatasan kemampuan tata bahasa Inggris yang dia miliki, dia sebaiknya lebih fokus meningkatkan kemampuan penulisan bahasa Indonesia?

Beberapa tahun lalu, dia memutuskan untuk menghindar. Dia bekerja di perusahaan-perusahaan media yang berbahasa Indonesia dan menulis fiksi dalam bahasa Indonesia. Beberapa kali dia melakukan penerjemahan. Setiap kali menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, dia merasa percaya diri. Jika sebaliknya, dia butuh waktu cukup lama dari biasanya. Meski, dia terus saja mendapatkan pekerjaan sampingan menerjemahkan.

Namun, tiba di suatu masa di mana dia sadar tidak ada jalan lain untuk meningkatkan kemampuan dirinya selain mencoba bekerja sebagai jurnalis koran berbahasa Inggris. Hal ini dia lakukan setelah dia menerima saran dari editornya, seorang perempuan yang percaya bahwa dia layak mendapatkan tempat bekerja yang jauh lebih bagus dari kantor dia berada sekarang.

Dia masih ingat sang editor berkali-kali berkata,’kamu harus pindah. Cari tempat yang bisa membuatmu berkembang jauh.’ Lalu menambahkan,’jangan bilang siapapun, aku menyarankanmu pindah.’ Tak berapa lama kemudian, sang editor berhenti dan melanjutkan sekolah ke luar negeri.

Dia juga masih ingat ketika akhirnya dia diterima bekerja di perusahaan berbahasa Inggris tersebut, ada sebuah perasaan kehilangan muncul.

Editor seni budaya di koran tersebut merupakan salah satu sastrawan yang dia hormati. Setelah editor perempuan itu mengundurkan diri, editor seni budaya itu menjadi editornya. Dia senang karena bisa lebih sering belajar menulis kreatif. Dia semakin rajin menulis draf novelnya di sela-sela melakukan peliputan dan membayangkan suatu saat dia akan benar-benar memiliki novel perdana.

Namun, dia telah diterima bekerja di perusahaan baru tersebut. Perempuan itu sempat terombang-ambing antara memupuk kemampuan penulisan kreatif atau mencoba melawan keraguan tentang kemampuan menulis bahasa Inggris. Akhirnya, dia memutuskan untuk pindah.

Momen menyampaikan pengunduran diri kepada sang editor seni budaya adalah saat-saat yang paling berat. Dia masih ingat duduk di kubikelnya, merasa gelisah hendak menyampaikan kabar bahwa dia akan pindah dan mengundurkan diri, sekaligus merasa sedih karena dia kini akan mulai berenang-renang dalam lautan peliputan berbahasa Inggris. Dia tidak lagi berkutat dalam dunia penulisan kreatif sebagaimana selama ini dia lakukan.

Pikiran berkelindan. Apakah dia telah melakukan keputusan yang benar? Apakah dia benar-benar ingin mengembangkan kemampuan menulis bahasa Inggris atau menulis kreatif bersama sang editor seni budaya? Namun, hati kecilnya mengatakan pindah.

Diapun berjalan menuju kubikel editor seni budaya. Sang editor menyapanya, selalu ramah seperti biasa. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia siap mendengar pertanyaan atau diskusi apapun terkait seni budaya, seperti yang selama ini mereka lakukan bersama. Namun, tiba-tiba perempuan itu berkata,’saya mau mengundurkan diri.’

Sang editor sangat terkejut. Dia bertanya lebih detail mengenai alasan dan akan pindah ke mana setelah ini. Bahkan setelah perempuan itu menjelaskan dia akan pindah ke kantor media berbahasa Inggris, editor tersebut masih terkejut. Dia terdiam cukup lama. Mereka berdua saling diam dalam ruangan tersebut. Sama-sama mencerna rencana lain hidup yang akan membawa mereka melangkah.

Sang perempuan merasa editor itu, yang selama ini bersikap sebagai gurunya, masih bersemangat mendidik kemampuan penulisan narasi, namun di sisi lain editor tersebut sadar perempuan muda itu berhak mendapatkan tempat kerja yang jauh lebih baik. Akhirnya, sang editor berkata,”Selamat. Kamu dapat tempat yang sangat bagus. Sukses, ya.”

Sukses. Kata-kata itu justru menjadi momok baginya. Ketika pertama kali bekerja di koran berbahasa Inggris tersebut, dia merasa sungguh cemas.

Dia paham bahwa sejarah nilai-nilai bahasa Inggrisnya di kampus tidak pernah cemerlang. Lalu, selama ini, dia tidak pernah mengasah penulisan berbahasa Inggris melainkan fokus ke penulisan narasi bahasa Indonesia. Terakhir, perusahaan itu adalah koran yang berarti mengejar tenggat waktu dan kecepatan penulisan. Sementara, dia masih berada dalam tataran awal menulis berita berbahasa Inggris. (Dia sering dengar dari kawan-kawannya bahwa menulis berita dalam bahasa Inggris jauh berbeda dengan menulis dalam bahasa Indonesia).

Lalu, dia dan teman-teman seangkatannya yang sama-sama baru diterima bekerja diberikan waktu selama satu tahun kontrak. Dalam masa-masa kontrak itu, dia menikmati pekerjaannya. Meliput lalu menulis berita dan kemudian melakukan mentoring di malam hari. Dia bekerja dari pagi hingga malam. Setiap hari selama setahun berjalan demikian.

Saat itu, satu persatu teman-temannya sudah mendapatkan kabar bahwa kontrak mereka tidak diperpanjang. Dia masih terus berjalan meski dia selalu merasa gelisah karena setiap kali melakukan mentoring, tulisannya selalu saja mendapatkan banyak koreksian dalam persoalan tata bahasa. Kadangkala, dia merasa frustasi pada dirinya sendiri. Dia merasa telah melakukan apapun secara maksimal, namun ketika sesi mentoring tiba, dia selalu saja merasa dirinya bodoh.

Hingga akhirnya, berita itu datang. “Walaupun kemampuan jurnalistikmu tidak diragukan, kemampuan menulis bahasa Inggrismu tidak berkembang secara drastis dalam setahun ini.”

Dan semuanya runtuh. Di titik itulah, dia merasa dunia seolah memberikan tanda padanya: setop bekerja di media berbahasa Inggris. Jauhi penulisan bahasa Inggris dan kamu akan aman-aman saja.

Lalu, dia pun memutuskan kembali ke elemennya. Sebuah media internasional asal Amerika Serikat baru buka cabang di Indonesia. Semua penulisan berbahasa Indonesia. Saat temannya memberikan info tersebut, dia melamar dan diterima.

Namun, setelah dua tahun bekerja, semesta memutuskan dia mesti kembali berkutat dengan dunia penulisan berbahasa Inggris. Dia mendapatkan beasiswa program Master di Amerika Serikat. Awalnya dia kembali sangsi.

Apakah dia benar-benar bisa kembali lagi ke jalur tersebut setelah kegagalan yang menyakitkan beberapa tahun lalu? Apakah tata bahasa Inggris, kemampuan berbicara bahasa Inggris, akan membuatnya terjungkal kembali seperti dulu?

Awal-awal kuliah, semua kecemasan itu seolah mewujud menjadi kenyataan. Untuk nilai-nilai tata bahasa, dia selalu saja mendapatkan nilai rendah. Berkali-kali dia belajar dan membaca banyak, tetap saja selalu banyak koreksian atas setiap paper yang dia tulis. Maka, semua ketakutan itu, kegelisahan itu, perasaan tidak percaya diri, kembali membuncah.

Dia merasa lemah dan tidak berdaya atas ketidakmampuan dirinya sendiri untuk menguasai elemen bahasa Inggris secara mahir dan hebat. Namun, mereka yang ada di negeri ini, selalu memiliki perspektif lain yang membuatnya sedikit demi sedikit kembali percaya pada dirinya sendiri.

Komentar positif yang membesarkan hati bermunculan. “Bahasa Inggrismu bagus untuk ukuran non native.” “Wajar kamu seringkali bingung dengan tata bahasa kami. Bahkan, kami sendiri sering bingung dengan perpaduan tata bahasa kami yang kompleks.” “Tata bahasamu, kini lama-lama lebih bagus.”

Diapun belajar mempercayai hal-hal baik itu dan terus belajar, mengeyampingkan semua keraguan ataupun komentar-komentar negatif yang sebelumnya dia terima tentang dirinya sendiri. Hingga akhirnya, dia melihat nilai itu.

Nilai itu seolah penanda baginya untuk menghancurkan semua tembok-tembok kasat mata yang telah diciptakan akibat komentar-komentar yang diterima: bahwa dia bodoh dalam urusan tata bahasa, bahwa dia memiliki kelainan menulis, bahwa dia tidak akan bisa berkembang dan lain-lainnya. Kenyataannya, dia kini dia mendapat nilai tertinggi.

Bagi dia, bukan persoalan angka yang menjadi penting melainkan pencerahan bahwa manusia memiliki ketahanan hebat untuk berkembang dan mencapai potensi maksimal mereka. Ketika dia yakin dirinya bisa berkembang, maka dia akan berkembang seperti yang dia percayai. Ketika seseorang percaya dia bisa menjadi ahli Matematika, misalnya, maka dia akan menjadi ahli Matematika, atau sebaliknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Arundhati Roy on love

arts and culture, gaya hidup, lifestyle, quotes of the day

Naga’s pursuit of Tilo had not turned out as planned. She was meant to be just another easy conquest, yet another woman who succumbed to his irreverent brilliance and edgy charm and had her heart broken. But Tilo had crept up on him, and become a kind of compulsion, an addiction almost. Addiction has its own mnemonics- skin, smell, the length of the loved one’s fingers.

Photo via Visualhunt

Fear of losing you

arts and culture, humaniora, lifestyle, politik dan hukum, quotes of the day, seni dan budaya

Lincoln, Nebraska.

12:21 AM

Sometimes, I feel like I have lost you inch by inch.

Each time you speak or write, I am always afraid that I will find the fact there is too much difference between us that is not meant to be together. Threads that do not cross one another.

And that you do not want to unite those threads because it will require too much effort, too much time, in the end.