The Rose Painter

seni dan budaya

The rose painter
*terinspirasi oleh karya Rose oleh pematung China Chai Zhisong
Utami D. Kusumawati
Farida berdiri menatap belasan patung bunga mawar di hadapannya dengan perasaan campur aduk seperti saat beberapa tahun lalu mengadakan pameran pertama. Puluhan kali telah mengadakan pameran, masih saja perutnya mulas setiap pembukaan.
Selalu saja ia berpikir bahwa puluhan orang yang datang malam itu akan mencecarnya hingga ia terjun ke jurang tanpa dasar tak peduli betapa bagus karya-karyanya. Meski, ia sadar bukan itu sumber dari segala kecemasannya.
Sementara, karya-karya patung mawar terlihat elegan di dalam ruangan luas bercat putih. Mawar-mawar tersebut dibingkai ke dalam empat pigura terbuat dari kayu jati. Setiap pigura memiliki jumlah, bentuk serta kepadatan mawar yang berbeda-beda satu dengan yang lain.
Ia sengaja memahatnya berbeda untuk menunjukkan esensi penciptaan adalah keberagaman. Melihat mawar-mawar itu dari jauh, kau seperti melihat eros, sang dewa cinta dan seksualitas, mengejawantah hadir dalam tubuh mawar.
Uniknya, mawar-mawar yang biasanya memiliki warna merah kali ini ditampilkan dengan warna perak mengilat. Efeknya, suram dan dingin. Ia sendiri senang dengan ide mempertunjukkan antitesis dalam apa yang biasanya dipikirkan orang umum.
Tak mudah melakukan hal yang berkebalikan dari opini umum. Bertahun-tahun ia melatih dirinya hingga kini mulai terbiasa.
Mawar itu lazimnya merah. Tetapi di matanya, mawar tidak pernah merah. Ia lantas menjelaskannya dengan sebuah tulisan kecil di bawah karya:
“Semua cinta berakhir dengan luka tanpa terkecuali.”
Beberapa pengunjung mulai ramai memenuhi ruangan pameran. Ia merasakan tangan dan kakinya gemetar. Keringat dingin mulai keluar. Tubuh-tubuh yang lalu lalang di sekitarnya menghempaskan angin dan menyadarkan bahwa ia tidak sendirian di sana.
Beberapa mencoba tersenyum padanya. Kurator melambaikan tangan, memintanya mendekat. Tetapi, ia mengacuhkan dan meredakan gejolak dengan sesekali menatap jendela, menjauhkan perhatiannya dari orang kebanyakan.
Mengapa tak kau hancurkan saja bunga-bunga mawar itu Farida?
Di tengah hiruk pikuk orang ataupun pikirannya sendiri, terbersit satu ide gila. Menghancurkan karya sendiri.
Ia menggelengkan kepala. Masih segar di pikiran tentang berita yang beberapa lama ini baru saja dibacanya. Seorang seniman terkenal asal Amerika Serikat menghancurkan karya-karyanya di sebuah pameran.
Sesaat sebelum kurator memberikan sambutan, seniman itu maju ke depan tiba-tiba sembari membawa satu buah kapak. Orang-orang menggiranya akan melakukan pertunjukkan seni. Ternyata, ia berkeliling dan menghacurkan seluruh lukisannya dengan kapak. Tak ada satupun yang berkomentar saat itu, semua diam karena syok.
Namun, beberapa hari kemudian, muncul berbagai spekulasi. Beberapa surat kabar menduga pria itu tidak puas dengan karyanya, depresi serta ragu akan diri sendiri, terlalu cemas terhadap eksekusi publik, dan bahkan terparah, menyebutnya lelaki tua gila. Padahal, lelaki itu hanya berusaha melepaskan keterikatannya, obsesinya akan lukisan.
Di lain waktu, ia tahu seorang nama besar yang pernah melakukan hal serupa: Willem de Kooning. Lucunya, tak satupun menyebut seniman ini gila dan menganggapnya menjadi sebuah kewajaran. Padahal, lelaki itu menghacurkan karya karena keputusasaan mencari identitas karya sendiri. Jelas-jelas mengalami depresi dibanding sang seniman tanpa nama.
Apakah mereka akan menyebutku gila? Menulis aku depresi berat karena tak sanggup hadapi publik?
Ia sekonyong-konyong merasa pusing. Kegelisahannya pada malam itu bukan tanpa alasan. Ia tahu karakter beberapa dari mereka yang datang. Bagaimana mereka akan memperlakukan karya seni itu seperti sampah.
Mereka akan membelinya setinggi langit hanya untuk menaruhnya di gudang-gudang mereka, dibiarkan membusuk bersama dengan kecoak-kecoak dan rayap. Mawar-mawar yang indah itu akan berkarat. Lebur bersama debu.
Tidak, Farida. Kalau kau hancurkan patung-patung mawar itu, kau hancurkan juga dirimu.
Kesadarannya mencegah bawah sadarnya. Tetapi, lagi-lagi bawah sadarnya menyanggah. Ia tak pernah punya masa depan semenjak satu kejadian dan bahwa hidup hanyalah sekumpulan kegiatan statis tanpa kewajiban akan pencarian makna, tujuan ataupun nilai hingga manusia mati. Bukankah sejak dahulu, ia telah hancur? Hatinya menjadi serpihan semenjak lelaki itu pergi.
Sekali lagi, ia gemetar. Telapak kaki dan tangannya semakin basah oleh keringat dingin. Patung mawar itu mulai terlihat mengabur seiring dengan degup jantung Farida yang semakin kencang….
***
Sudah nyaris seminggu Ario tidak pulang ke rumah kontrakan. Ia seperti saputangan yang terkoyak di salah satu ujungnya. * Menanti lelaki itu dengan cemas mencakar-cakar. Ke manakah, Ario?
Ia bertemu dengan lelaki itu di sebuah pertunjukkan teater. Ario diperkenalkan padanya melalui seorang teman. Ia sudah pernah mendengar nama Ario sebelumnya. Lelaki itu adalah seorang penyair, cukup eksis, yang dahulu sempat bekerja sebagai seorang jurnalis.
Ia bertubuh jangkung dan kurus. Ia mengenakan kaos hitam dengan tulisan ‘Iam bad at Saturday Night’serta celana jins biru luntur dengan bagian terkoyak pada lututnya. Ketika bersalaman, muka lelaki itu terlihat seperti Bob Dylan versi modern dengan rambut ikal sebahu, brewok di dagu, serta anting di salah satu telinga. Tatapan matanya tajam dan gayanya cuek.
Uniknya, lima menit sebelum perkenalan pertama mereka, tanpa sengaja ia membaca buku Ario di salah satu kios buku di Taman Ismail Marzuki. Temannya bilang bahwa pertemuan mereka adalah sebuah pertanda. Entah pertanda apa yang dimaksud, namun ia merasa yakin bahwa ada sesuatu yang tak biasa dari pertemuan mereka. Bayangkan, mereka baru pertama kali bertatap muka dan antara ia dan Ario terjalin kedekatan seperti teman dari masa kecil.
“Kita pernah hidup bersama di masa dulu,” ujar Ario tiba-tiba usai pertunjukkan dengan nada mendayu khas penyair. Mereka duduk bersebelahan dan sesekali kulit Ario menyentuh kulitnya setiap kali lelaki itu menggerakkan tubuhnya dengan semangat.
“Ah, kau percaya reinkarnasi!”
“Ya, aku percaya kedekatan kita ini karena di suatu masa yang lain, kita memang ditakdirkan bersama. Jodoh.” Ia menyentuh dagu Farida dengan satu sentuhan halus.
Pernyataan itu terdengar romantis sekali baginya. Ia gembira meskipun tahu kebanyakan penyair selalu pandai untuk melambungkan hati lawan bicaranya. Semakin banyak Ario berbicara, semakin ingin ia menghabiskan waktunya dengan lelaki itu.
“Kau memberi ide padaku.” Mata Farida mengerjap-ngerjap.
“Ide apa?”
“Melukis kisah ini,”
“Lukiskanlah dan akan kutulis pula bayangmu melalui penaku.”
Mereka lantas pulang bergandengan tangan dan sebelum ia melangkahkan kaki ke dalam kontrakannya, pertama kali Ario mencium bibirnya dengan lahap.
Semua terlihat indah. Semua terasa bagaikan permen berwarna-warni berbentuk labirin bundar yang manis. Ia dan Ario. Dua senyawa yang bersatu dalam kisah. Hingga, suatu saat Ario memutuskan untuk pergi dan tak kembali tanpa kabar apapun.
***
Ketika berusia delapan tahun, Farida pernah terjatuh dari atap rumah. Ia mencoba memanjat pohon jambu, imajinasi anak-anaknya terlalu aktif membayangkan dirinya sebagai seekor monyet lincah. Namun sayang ia tak cukup cekatan. Setelah menginjak dahan yang salah, ia terjatuh dan tersangkut di pagar rumah. Akibatnya, tangan kanannya tertusuk ujung pagar. Ia harus mengalami operasi dan menderita cacat motorik.
Kecelakaan itu sudah lama sekali, tetapi dampaknya masih saja membekas. Bertahun-tahun ia belajar untuk melatih sensitifitas sarak motorik pada tangan kanannya. Ia merasa frustasi lebih dari dua tahun lamanya dan sempat berniat untuk melupakan kegemarannya akan melukis. Hingga akhirnya, suatu saat, tangan kanannya bisa digunakan secara normal lagi. Sejak saat itulah, ia berjanji akan membaktikan hidupnya untuk melukis dan mematung.
Tepat pukul empat sore, awan bergerak perlahan. Warna putih bersih mulai memudar dan tergantikan dengan warna biru yang teduh. Ketika ia hendak membuat semangkuk mie rebus, seseorang membuka pintu rumah.
“Ario!” ia melompat dan memeluk lelaki itu.
Ario membalas pelukannya lalu melepaskan dengan segera.
“Aku letih. Bisa tinggalkan sebentar?” tanpa meminta jawaban, lelaki itu menghambur ke kamar mandi dan mengacuhkannya hingga malam.
Farida melihat wajah Ario terlihat kuyu. Di bawah kedua matanya, terdapat kantungmata. Rambutnya yang gondrong sebahu acak-acakan. Bau tubuh lelaki itu apak dan menyengat sedikit berbau tak sedap. Ia yakin lelaki itu belum mandi beberapa hari.
Ada apakah gerangan?
Ketika malam ia sedang membuat sketsa wajah, Ario keluar dari kamar tidur. Mukanya terlihat lebih segar. Namun, tatapan mata lelaki itu tetap sama, kosong, membatu, muka Sphinx*.
“Kau baik-baik saja?” ia tak menjawab pertanyaan Farida. Lelaki itu pergi ke dapur dan kembali dengan sekotak jus jeruk. Kebiasaannya saat bimbang adalah meminum jus jeruk. Mungkin rasa segar dari jeruk mampu mensugesti ‘kecerahan’ dalam pikirannya?
“Ingin bercerita padaku?” ia mencoba bersikap ramah.
“Diamlah. Dasar aneh.” lelaki itu membentaknya kemudian duduk di sofa dan menenggak jus jeruk. Suaranya terdengar seperti sebuah igauan. Suara kumur-kumur.
“Kau berkata apa?”
“Aneh. Kau perempuan aneh!”
Seketika ia melihat wajah-wajah masa kecilnya datang di ruangan itu dan menertawainya. Seperti bertahun-tahun dulu. Ketika pertama kali berkata ia butuh ruang untuk melukis. Keluarganya mencibir dan berteriak-teriak satu sama lain. Menganggap ia berkhayal terlalu jauh. Perempuan yang tidak sadar diri dan berkemauan terlalu muluk-muluk.
Farida merasa hatinya sakit. Ia tak sangka Ario berani berkata itu padanya padahal lelaki itu tahu masa lalu apa yang ia pernah alami. Setelah meraih semua kesadarannya kembali, Farida balik menyerang Ario.
“Kau yang sinting!”
“Aku baru tahu kau menjual lukisan-lukisan tentangku. Kau menjadikanku objek pengeruk keuntungan. Sekarang kau pikir lagi. Siapa yang sinting?” suaranya meninggi.
“Menjual lukisan apa? ”
“Tak usah banyak alasan. Tanya sama temanmu Fadi. Baru tahu aku kau serendah itu. Kau minta aku tinggal bersamamu karena bisa memberikanmu keuntungan.”
Lelaki itu masih saja terus meracau. Sementara ia hanya diam, menunggu. Saat itu, ia tahu hubungan mereka ada di ujung tanduk. Ario telah tahu bahwa selama ini ia diam-diam melukis wajah Ario berbagai ekspresi. Bukan karena ia ingin menjualnya, tetapi karena dalam hati, ia mencintai lelaki itu.
Namun, berbulan-bulan mereka bersama, kata itu tetap susah sekali meluncur dari bibirnya. Ia meletakkan arang yang ia gunakan untuk menggambar sketsa dan berdiri mendekati Ario.
“Aku akan pindah. Besok kubereskan pakaianku.”
“Apa kau yakin? Kau mau tinggal di mana? Kau tak punya uang sepeserpun.” Farida mengatakan dengan nada sinis. Ia cukup terkejut dengan respon yang diberikan dirinya sendiri.
“Uang tak pernah bisa membeli diriku, ingat itu.”
“Tetapi kau sendiri sadar, tak ada seniman yang bisa bertahan tanpa uang. Bagaimanapun akal sehat membutuhkan kondisi tubuh prima dan uang menyediakannya.”
“Selama ini kau menjadi pelukis, tetap saja otakmu dangkal.”
“Dan kau terlalu naïf.”
“Farida, sadarlah! Kau mulai memasuki zona amanmu sendiri. Kau melangkah menuju kuburanmu. “
“Tidak, aku melangkah maju dengan tetap menapak bumi. Sementara kau, berkeliaran di langit tanpa kemudi seperti burung yang kehilangan arah.”
“Aku pergi.”
Dan, lelaki itu benar-benar membuktikan kata-katanya. Kini, Farida menyesal telah menyerangnya dengan kata-kata. Seandainya ia memiliki kesempatan untuk mengucapkan maaf. Tetapi, masih berhargakah sebuah maaf sekarang ini?
***
Ia tahu Ario memang seorang penyair yang brengsek. Ia sadar itu dan Ario cukup terbuka mengenai kelemahannya untuk mudah jatuh cinta. Selama lelaki tersebut masih memberikan porsi lebih besar dari hatinya pada Farida, tak mengapa.
Alasannya, lelaki itu di luar sifat playboynya, adalah seseorang yang pandai memetakan kekuatan orang lain. Ia bisa dengan cermat menganalisis karakter orang, kecemasannya, obsesinya, serta memanipulasi semua itu menuju ke arah kemajuan atau kehancuran sesuai yang dikehendakinya. Mungkin itulah sebabnya lelaki ini menjadi penulis. Dan dengan Farida, ia memilih yang pertama.
“Kenapa kau tidak kembali menawarkan lukisanmu?”
“Aku tidak percaya diri.. beberapa kali aku telah mengajukan proposal ke pihak galeri dan mereka menolaknya. Kali ini aku merasa belum terlalu siap.”
“Kau terlalu perasa. Semua seniman di dunia ini selalu ditolak berkali-kali. Tetapi yang membedakan, mereka tak pernah berhenti. Mana coba kulihat lukisanmu.”
“Masih jelek, jangan. Mereka akan menilaiku terlalu arogan. Aku akan jual setelah mendapatkan kurator yang tepat.”
“Kau selalu tak pernah percaya diri pada karyamu. Bagaimana orang mau menyukai karyamu kalau belum-belum sikapmu sudah begini?”
“…”
“Aku sudah mencobanya.”
“Kau tak pernah mencoba.”
“Aku mencoba.”
“Kau hanya ‘merasa’ telah mencoba.”
“Aku telah mencoba ke puluhan galeri, entah manalagi yang belum kukirimkan, dan hasilnya apa? Sama-sama mereka menolak karyaku. Kau pikir menjual karya bisa semudah itu?”
“Aku tidak bilang mudah. Tetapi, jangan berhenti.”
“Aku tidak bilang aku berhenti. Ah, sudahlah. Kau selalu memojokkanku dan membuatku pusing.”
“Lagi-lagi karaktermu yang satu itu keluar. Mengapa tidak mengambil kritik sebagai sesuatu yang membangun dan tidak bersikap defensif?”
“Tidak lihatkah kau aku mencoba?”
“Kau balik lagi bertanya, meminta persetujuan. “
Farida mengambil rokok dan menghisapnya. Ario mulai menjengkelkan kali ini dan ia masuk ke dalam perangkap permainan kata-kata Ario.
“Sudah! Hentikan semua percakapan ini. Aku capek.”
Tubuh Farida mulai gemetar. Itulah tandanya ia sedang berada dalam tahap panik. Ario tahu tubuhnya bergetar. Lelaki itu mengambil kursi kayu dan meletakkan di samping sofa putih. Ia duduk di sana, melanjutkan perkataannya.
“Aku tak ingin memojokkanmu, tetapi aku tak tahan kau selalu mengalah pada dirimu. Kau tahu Aretha telah menyudutkanmu. Kau masih ingat perkataannya padamu tentang kesuksesannya menjual lukisan. Ia berupaya menunjukkan perang psikologis padamu. Tetapi kau hanya diam saja dan malah menyelamatinya. Kau tahu perempuan itu brengsek. Dia hanyalah anak orang kaya yang kebetulan tercemplung di dunia lukis. Tak punya bakat sama sekali. Kau tahu itu. Lukisannya jelek bahkan tak sudi kusebut sebagai lukisan.”
“Mungkin ia memang berbakat sedangkan aku tidak.”
“Lagi-lagi kau merasa pesimis pada dirimu. Sebentar lagi kau pasti merasa dunia telah berlaku tidak adil padamu.”
Ia tak menanggapi Ario. Diam-diam dalam hati, ia menyetujui perkataannya. Mungkin dunia memang bukan suatu tempat yang adil hingga hanya gadis kaya, cengeng, dan tidak bisa melukis seperti Aretha yang bisa mendapatkan tempat di dunia seni rupa.
Sementara, untuknya, hanya tersedia ruang di pojok yang gelap dan sepi. Lagi-lagi, ia bersikap sinis pada hidup. Tetapi, saat ini ia melihat memang hidupnya seolah berjalan di tempat dan apapun yang ia lakukan hanyalah sederetan gambaran dari masa depan yang suram.
“Aku akan membantumu, kali ini. Nanti kita petakan konsep agar kau bisa segera menuangkannya ke dalam lukisan.”
“Aku membutuhkanmu.”
Ia menggenggam erat tangan Ario seolah-olah lelaki itu adalah satu-satunya hal yang bisa memberikan kebahagiaan, percikan rasa dari kesuksesan. Namun, tanpa ia duga tiba-tiba Ario menampik tangan dan justru menciumnya. Ia merasa dunianya yang muram kembali bersinar. Ia menatap mawar pemberiannya di atas meja dan memejamkan mata.
Suatu saat nanti, ia akan ingat semua percakapan itu, dan bersyukur tak sepenuhnya mempercayai Ario- yang justru memacari Aretha. Apapun yang ia yakini tentang dirinya, baik salah atau benar, setidaknya itu adalah murni penilaiannya sendiri.
***
Perempuan itu gila. Gila. Ario berusaha meyakini itu dan membuat perempuan itu menangkap penilaian yang sama terhadap dirinya sendiri.
Betapa kesal dirinya. Farida selama ini telah memanfaatkan keberadaanya jauh dari yang ia izinkan serta perkirakan. Tinggal bersama perempuan itu dan membantunya menemukan dirinya ibarat tenggelam di dalam satu sumur tanpa ujung.
Sore tadi ia tiba di rumah kontrakan sebelum Farida datang. Ia memutuskan mengintip hasil lukisan perempuan itu. Ia terperangah. Semua yang dilukis oleh perempuan itu adalah mengenai dirinya. Benda-benda favoritnya, tempat-tempat ia biasa menghabiskan waktu, ruang perpustakaan, toilet, kamar tidur, sofa putih, dan lainnya. Perempuan itu begitu tepat melukiskan kedalaman jiwanya. Ia merasa kemalingan.
Farida juga membuat sketsa bagian-bagian tubuhnya yang dipajang secara terpisah ke dalam enam frame lukisan. Jadi, selama ini wajar perempuan itu tak mau menjual lukisan-lukisannya. Karena semua karyanya adalah tentang dirinya. Yang membuat ia iri adalah lukisan-lukisan itu terasa begitu hidup dan bernyawa. Lukisan-lukisan itu… jauh lebih menawan dari karya-karya tulisnya yang selalu hambar tanpa bumbu.
Kali ini giliran ia yang gemetar. Mengapa tiba-tiba ia merasa terintimidasi oleh kekuatan Farida? Mungkin sudah saatnya ia pergi sebelum ia terjatuh. Ia tak pernah suka menjadi pihak yang kalah.
***
“Farida, kok bengong. Selamat ya. Nanti mau dibawa ke mana patung-patung mawar ini?”
“Ke London, rencananya, Pak.”
“Bagus! Sukses terus. Omong-omong, sudah terjual semuanya?”
Farida mengangguk. Wajahnya nampak tak senang mendengar pertanyaan tersebut.
“Wah tadinya saya mau beli satu. Baiklah, kalau nanti masih ada sisa, hubungi saya, ya. Ini nomor kontak saya. “
“Baik, Pak. “
Lelaki itu pergi dan Farida berdiri mematung. Ia menatap pigura mawar di hadapannya dan tiba-tiba tak ingin beranjak dari situ hingga acara usai. Seperti ada magnet yang mendekatkan diri pada karya-karyanya sendiri. Mereka seolah berbicara padanya meminta diselamatkan dari kehancuran.
Farida, jangan biarkan mereka menyentuhku.
Ia memejamkan matanya. Dadanya terasa sakit. Dahulu ia pernah ditinggalkan oleh seorang lelaki. Ia tahu sekali rasanya seperti apa dan ia tak mau melakukan itu pada anak-anaknya, patung mawarnya.
Sebab, untuk satu pigura yang terdiri atas sepuluh mawar, ia membutuhkan waktu selama nyaris enam bulan untuk mendesain serta memahat. Selama itu pula ia mengurung diri di kamar dan menjauhkan kehidupan sosial demi sang karya. Menggali semua perasaan yang ada di dirinya, kenangan-kenangannya, dan menumpahkan cintanya pada karya mawar itu.
Jika mereka peka, pada setiap lembar kelopak bunga mawar itu, terjalin semua partikel-partikel perasaannya.
Sekarang, dalam hitungan detik, karya itu berpindah kepemilikan. Mawar-mawar itu akan menjadi milik pembeli-pembeli itu, yang membeli lukisan seperti membeli kacang goreng. Tak semua dari mereka menghargai seni itu dengan sungguh-sungguh. Belum tentu semua dari mereka memahami pengorbanannya. Perasaannya yang menjelma mawar-mawar akan kembali disia-siakan.
Ia jadi ingat perkataan Ario. Lelaki itu bilang tidak ada yang bisa membelinya dengan uang. Kali ini ia setuju dengan pernyataan tersebut. Dibeli semahal apapun karya-karya itu, kalau ia diperlakukan seperti sampah, tak sudi rasanya ia melepasnya.
Tiba-tiba ia menitikkan air mata. Ia sadar, selama ini yang membuatnya benar-benar terpuruk bukanlah kepergian lelaki itu, tetapi ketika karya-karyanya tidak mendapatkan penghargaan sebagaimana mestinya.
Aku tak bisa. Kalau mereka disia-siakan, aku akan remuk.
Ketika pameran sudah ditutup, ia kembali masuk ke dalam ruangan dan membanting ke lantai semua lukisan yang dipajang di galeri tersebut dengan marah.
Tubuh mawar-mawar itu terpelanting di lantai, kemudian terpecah menjadi dua. Farida mengangkat retakan itu dengan tergesa-gesa. Ujung timah yang tajam menggoretkan luka pada telapak tangannya. Namun, perempuan itu justru tertawa. Sementara darah pelan-pelan menetes dari telapak tangannya menodai lempeng timah yang dingin.
Mungkin besok di koran akan muncul berita tentang dirinya, si perempuan gila, seniman yang merusak karyanya sendiri. Tetapi ia tak peduli. Hanya ia yang tahu lebih baik tentang dirinya sendiri. Ia telah belajar itu.
***
*puisi karya Nirwan Dewanto dari kumpulan puisi Jantung Lebah Ratu.

Ratu Cik Sima

seni dan budaya

Ratu Cik Sima

Oleh Utami D. Kusumawati

Kalau melihat pelangi usai hujan turun, aku selalu teringat dengan perempuan asal Kampar, Riau satu ini. Ratu Cik Sima. Entah kenapa, mungkin karena ia terlalu mencolok dan berbeda dengan perempuan kebanyakan?

Ratu Cik Sima adalah tetanggaku ketika aku kos di daerah Ciracas Jakarta Timur kira-kira dua tahun yang lalu. Waktu itu, aku bekerja di salah satu kantor restoran siap saji terbesar di Asia yang ada di daerah tersebut. Di Ciracas memang terdapat cukup banyak pabrik besar yang mampu menyerap cukup banyak tenaga kerja buruh. Daerah ini tak jauh berbeda dengan kawasan industrial Cikarang. Sama-sama gersang dan panas – akibat banyaknya pabrik dan minimnya pepohonan – salah satu persamaannya.

Berbeda dengan muasal namanya, Ratu Cik Sima, yang merupakan salah satu tokoh pemimpin dalam hikayat nusantara Riau tentang asal muasal nama ibukota Dumai, perempuan satu ini tidak memiliki potongan yang bisa dikatakan mewakili kewibawaan seorang ratu Riau. Di Riau sendiri, perempuan memang sering dijadikan sebagai tokoh pemimpin yang karismatik. Kalau kata Ratu Cik Sima suatu ketika, ‘cobalah kau lihat Teater Mak Yong, kau pasti menemukan peran perempuan sebagai ratu.’

Tinggi Ratu Cik Sima sekitar 155 sentimeter dan berat badan nyaris empat puluh kilo menjadikan Ratu Cik Sima terlihat kurus. Sementara, rambutnya keriting kecil dengan panjang sebahu yang tampaknya hampir tidak pernah disisir selalu ia biarkan tergerai. Beberapa helai poni keriting terjuntai di keningnya yang menonjol diantara bagian wajah lainnya. Hidungnya mancung membagi sempurna mukanya yang kecil dan kedua matanya menunjukkan sorot mata yang galak, seperti singa. Sementara bibirnya, selalu terlihat merengut meski baru kusadari bentuk bibir Ratu Cik Sima memang seperti itu aslinya.

Ia senang mengenakan baju kedodoran dan berwarna-warni yang tidak pernah nyambung. Misalnya hari Senin lalu, bajunya adalah terusan tanpa lengan warna kuning dengan motif bunga matahari besar dipadankan dengan cardigan warna hijau neon. Sementara sepatunya, mary jane warna ungu tua. Beberapa teman kos mengatainya gadis gula-gula, tetapi aku lebih suka menyebutnya berani, dengan menabrakkan warna seperti itu. Mungkin kesukaanku disebabkan setiap hari, di kantorku selalu diwajibkan mengenakan seragam menyerupai pelayan restoran siap saji. Melihatnya berubah warna setiap hari seperti memberikan suatu kesegaran tersendiri bagi hidupku yang statis.

Ratu Cik Sima bekerja di perusahaan berbeda denganku. Meski, kantor kami berjarak tidak berjauhan satu sama lain. Perempuan ini adalah seorang editor buku pelajaran di salah satu perusahaan penerbitan tertua di Indonesia. Datang merantau ke pulau Jawa dari kota kelahirannya, Kampar, semenjak ia diterima sebagai mahasiswi Institut Teknologi Bandung dengan jurusan Fisika. Kemudian, setelah lulus, ia diterima bekerja di penerbitan tersebut dan langsung hijrah ke Jakarta sampai sekarang.

Mengenai keluarganya, ia tak banyak bercerita kecuali suatu waktu ia meminta tolong dicarikan jodoh untuk seorang tantenya yang melajang. Ia mengatakan ibunya dan keluarga besarnya sudah cerewet dan ia pusing setiap kali menelepon mereka selalu mendengar keluhan yang sama. Usia tantenya tersebut sudah nyaris empat puluh tahun. Di Kampar, menjadi perawan tua – sama dengan memiliki perawan tua dalam anggota keluarga – adalah hal yang memalukan. Oleh karena itu, ia menjadi sibuk menolong tantenya mencarikan calon suami di luar kenyataan bahwa ia, di usianya yang mendekati tigapuluhtahun, masih juga melajang.

“Untungnya aku bekerja, kalau aku melajang dan pengangguran, aku juga akan bernasib sama seperti tanteku, dijodohkan ke sana dan ke sini,” ujarnya suatu waktu.

Diluar urusan keluarga, ia mengaku selalu menikmati pekerjaannya. Terbukti dari celotehan 24 jam tentang kantor, hasil editan yang ia kerjakan sepenuh hati, nama buku-buku proyek yang terdengar mengerikan di telingaku, hingga cerita korektor dan penerjemah baru di divisinya. Tak satupun ada nada keluhan di sana. Setelah seru bercerita, ia akan masuk ke kamarnya dan menonton sebuah film lalu tidur hingga keesokan hari. Atau jika tidak menonton, ketika pintu kamarnya terbuka sedikit, ia terlihat sedang sibuk dengan kumpulan naskah-naskah di atas tempat tidurnya.

Sementara aku, setelah bekerja selama nyaris tiga tahun lamanya, mulai merasa stagnan dengan karir yang kujalani. Terlebih melihat nominal gaji yang tidak pernah naik secara signifikan dalam rentang periode tiga tahun ini. Padahal, permintaan kiriman uang dari ayah dan ibu di Surabaya semakin meningkat tiap tahunnya. Alasannya, harga barang kebutuhan yang juga meningkat. Selain itu, pacarku juga sudah mengutarakan keinginannya untuk melamar di tahun depan. Mau tak mau aku harus menabung juga. Akibatnya, setiap kali Ratu Cik Sima memintaku bercerita, yang terlontar dari bibirku hanyalah, “aku ingin berhenti.” Meski, sampai kini ucapan itu tak pernah sekalipun terwujud.

Dengan Ratu Cik Sima, aku berteman cukup baik dibanding dengan teman kos lainnya, yang cenderung individualis. Ada sesuatu yang berbeda pada diri perempuan bungsu dari empat bersaudara tersebut. Ia memang tak luwes dalam bergaul, seringkali kikuk, judes dan senang marah-marah tanpa alasan yang jelas, dan seringkali saat mengutarakan pikirannya kalimat-kalimatnya tak kumengerti –mungkin karena ia lulusan ITB dan jurusan fisika – tetapi di balik semua itu, Ratu Cik Sima merupakan seorang pendengar yang baik. Setidaknya, ia tak pernah seperti yang lain, yang selalu gelisah saat mendengar orang lain bercerita dan maunya didengarkan kisahnya terus, non stop.

Tak hanya itu, ia juga senang memasak, terutama makanan khas Riau seperti diantaranya Gulai Asam Pedas Ikan Patin yang tersohor itu, Gulai Balacan Udang, ataupun sambal terung asam yang rasanya bikin nyaris ‘gila’. Kepala pusing, mata berkunang-kunang dan berair, tangan keringatan, serta jantung berdebar kencang saking nikmatnya. Yang paling penting dari kesemua itu adalah, ia sering mengajak kami, teman-teman kosnya, makan bersama ketika ia melakukan kegiatan masaknya tersebut meski tak semua menerima undangannya.

Memang tak semua anak di kosan perempuan ini bisa mengerti Ratu Cik Sima. Seperti yang sudah kujelaskan di atas, perempuan ini cenderung tak bisa ditebak. Misalnya, awalnya aku menduga Ratu Cik Sima adalah orang yang sangat menjaga kebersihan. Ia sering mengomel kalau bak cuci piring penuh dengan piring-piring kotor dari hari kemarin. Lucunya, ketika diselidiki, ternyata beberapa piring-piring kotor itu adalah piring-piringnya sendiri.

Ketika kami menjelaskan kepadanya tentang piring-piring tersebut. Ia pura-pura tidak tahu bahwa ia memiliki sebagian dari piring-piring kotor itu. Tentu saja sebagian teman yang kena semprot dari mulut judesnya sebal dan keki. Insiden kecil macam itu sudah bisa membuat beberapa penghuni kos melipir saat bertemu dengan sosok perempuan nyeleneh satu ini. Selain tak mau kena salah sasaran omelan, juga tak tahan dengan kengeyelan dan sikap tak pernah mau salah Ratu Cik Sima.

Akhirnya, hanya aku yang bertahan untuk menghabiskan waktuku dengan Ratu Cik Sima. Pasalnya, di kos tersebut, hanya aku dan Ratu Cik Sima yang merupakan perempuan rantau. Sisanya, anak Jakarta pinggiran yang bekerja di pinggir Jakarta lainnya seperti di Ciracas ini. Kalau merasa sepi, mereka bisa saja langsung pulang ke rumah. Makanya, di balik gunjang ganjing bahwa Ratu Cik Sima memiliki keanehan yang tak bisa ditolerir, aku berusaha melihat sesuatu yang lain dari dirinya. Setidaknya, sampai aku menemukan tempat kos lain yang jauh lebih baik.

***

Siang itu, udara terasa sangat terik dan menyengat dibanding hari-hari lainnya. Padahal, ini belum masuk bulan puasa. Di kantor, aku sudah menghabiskan satu gulung tisu untuk menyeka keringat yang terus mengucur seolah lewat di jalan bebas hambatan. Maka itu, sesampainya di rumah, aku memilih berbaring di depan kamar, di tempat anak-anak kos biasa menonton televisi, sembari menyalakan kipas angin besar tepat di depan tubuhku.

Mantapnya, rek.

Lagi menikmati surga dunia tersebut, Ratu Cik Sima tiba-tiba masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Ia sempat tersandung kabel telepon di ruang tamu dan menjatuhkan salah satu buku tebal yang dipegangnya. Kemudian, ia melaluiku dan masuk ke kamar tanpa mengatakan sepatah katapun. Kayak buron yang dikejar-kejar oleh polisi aja deh, ujarku dalam hati.

Aku yang sudah memahami tabiat luar biasanya tersebut, tak menanggapi, masih asik leyeh-leyeh di depan kamar dan kini mulai merem melek nyaris tertidur. Namun, ternyata sampai malam perempuan itu tidak juga ke luar kamar. Padahal, aku mau mengajaknya makan malam. Tetapi, lampu kamar Ratu tidak juga dinyalakan. Akhirnya, aku memutuskan untuk membeli siomay udang di ujung jalan, tak jauh dari tempat kos.

Keesokan paginya, ketika aku bersiap untuk ke kantor, terdengar omelan Ratu Cik Sima dari dalam kamarnya. Aku mengintip dari balik pintu kamar yang terbuka setengah.

“Gak bisa begitu dong, Pak! Saya kan sudah sejak lama mengajukan ide proyek penerjemahan buku-buku luar ini. Kenapa begitu saja diserahkan ke editor muda tak berpengalaman tersebut? Jangan main-main, Pak! Pokoknya saya mau saya yang kerjakan proyek terjemahan itu kalau tidak saya tak akan masuk kerja, titik.”

Baru kali ini, aku melihat aura seorang ratu Riaunya muncul. Ia terdengar begitu berwibawa, tegas, dan berkuasa meski di satu sisi ancamannya lebih terdengar seperti rajukan seorang anak kecil yang putus asa. Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar dan aku pura-pura membenarkan rambut di cermin dekat ruang menonton televisi.

“Eh, Ratu, gak berangkat kerja?” aku pura-pura tidak mendengar apapun tentang omelannya dan ia pun seperti tak peduli apakah aku menguping atau tidak.

“Gak. Aku lagi kesal…” dan curhatlah Ratu Cik Sima.

Semua bermula dari sebuah proyek penerjemahan buku pelajaran luar negeri yang direncanakan divisinya. Sebagai editor senior, Ratu Cik Sima kedapatan tugas untuk meriset buku-buku apa saja yang sekiranya layak dibeli perusahaan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Maka, ketika ia ditugaskan pergi ke London Book Fair dua tahun lalu, Ratu Cik Sima mulai mencari referensi buku apa yang layak dibeli. Ia mengambil dan menyerahkan kartu nama, mengenalkan perusahaan penerbitannya kepada penerbit luar negeri, dan membawa beberapa nama untuk diserahkan kepada sang atasan. Ia pikir, ia yang akan menjadi editor proyek tersebut.

Ternyata, sang atasan – Ratu Cik Sima menyebutnya Si Mbah Dukun, plesetan dari nama belakangnya Simalungun- berpikir lain. Ratu Cik Sima tidak mengatakan alasan penggantian dirinya apa, tetapi sang atasan memutuskan menunjuk seorang editor lain yang baru bekerja selama tiga bulan untuk menjadi editor pilot proyek tersebut. Jelaslah, ia mangkel.

“Mungkin atasanmu pingin memberikan kesempatan kepada mereka yang muda?”ujarku mencoba menyenangkan hati Ratu Cik Sima.

“Ah! Tidak begitu. Editor muda kan kurang pengalaman. Kau tahu kan kalau dewan perwakilan rakyat dipimpin oleh mereka yang muda, tak berpengalaman, serta sok tau? Adanya chaos, Dionysian. Mereka harusnya belajar dulu tidak langsung memimpin. Sama dengan ini. Proyek besar harus ditangani yang berpengalaman. Goblok saja Si Mbah Dukun itu.”

“Mungkin dia rencana ambil resiko?”

“Tidak begitu. Dengar, nama belakang lelaki muda dan tolol itu Sitanggang, kamu tau, Sitanggang, dan aku Cik Sima. Ini masalahnya,” ia terus menerus mengatakan hal tersebut tanpa kupahami maksudnya.

Lalu kenapa kalau lelaki itu Sitanggang dan dia Cik Sima? Hanya karena persoalan nama terus proyek lepas dari tangannya? Aku menduga diantara kedua orang tersebut sudah terjadi perang dingin sejak lama. Sering sekali kudengar Ratu Cik Sima mengobrol dengan ibunya lewat telepon mengata-ngatai tindakan sang atasan, yang menurutnya tidak pernah berpihak padanya.

“Terus sekarang kamu mau bagaimana, Ratu?” aku mengalihkan percakapan kami sebab kulihat ia sedang ingin bertahan dengan pemikirannya sendiri.

“Aku mau adakan revolusi serta melapor ke pimpinan divisi. Pokoknya akan kutunjukkan ke Si Mbah Dukun itu aku akan dapatkan kembali proyek terjemahan. Jadi, maafkan akhir-akhir ini aku akan super sibuk dan pulang dari kantor larut malam. Kau tahu revolusi butuh persiapan serta pemikiran yang matang,” ia mengucapkannya dengan berapi-api.

Aku hanya manggut-manggut meski tak mengerti keseluruhan jalan berpikirnya seperti biasanya. Katanya tadi mengancam tak masuk kerja, kok sekarang bilang mau pulang kantor larut malam? Tetapi aku malas menanyakan padanya lebih lanjut. Salah-salah ia malah marah padaku lagi. Ah tak peduli. Dalam hati aku bersyukur, ada hal lain yang menarik perhatiannya daripada menyemprot dan menjudesi penghuni kos tanpa sebab. Akupun pamit padanya dan berangkat kantor dengan hati riang gembira, berniat melaporkan hal ini kepada penghuni kos yang lain.

***

Namun, tiga bulan kemudian, ketika hendak berangkat kerja, kutemukan lima buah koper besar tergeletak di depan pintu kamar Ratu Cik Sima. Aku langsung saja merasakan hal buruk sedang terjadi. Benar saja, ibu kos mengatakan kalau Ratu Cik Sima telah memutuskan untuk mengakhiri masa kosnya di rumah kos perempuan itu. Alasannya? Ibu kos tidak tahu pasti. Koper-koper itu sebentar lagi katanya akan dibawa menggunakan mobil pick up. Tujuannya? Ibu kos juga tidak diberitahu oleh Ratu Cik Sima.

Maka, tanpa diduga-duga aku langsung panik tanpa sebab. Aku menanyakan semua penghuni kos perihal kepergian Ratu Cik Sima yang mendadak tersebut. Rata-rata dari mereka menjawab dengan acuh tak acuh, tak peduli seolah-olah menegaskan ketidakberadaan Ratu Cik Sima di mata mereka. Hanya satu yang menjawab pertanyaanku dengan kekhawatiran yang sama,

“Aku juga gak tau Mbak Eka koper-kopernya mau dibawa ke mana. Tapi, terakhir kali aku lewat kamar, aku dengar ia telpon Ibunya bilang kalau ia kena PHK. Waktu itu sih, sambil nangis-nangis, Mbak, nelponnya. Kasian, deh. Aku juga bingung, habis PHK ini mau ngapain coba Mbak Eka. Tapi aku gak berani nanya-nanya, tau aja kan, orangnya susah begitu. Eh, tiba-tiba pagi ini dapat kabar dari bu kos kalau ia udah pindah kos,”

Aku manggut-manggut. Terbayang percakapan terakhir kali antara aku dengannya di ruang menonton.

“Aku berangkat kerja dulu,ya Mbak Eka.”

“Ya. Hati-hati di jalan!”

PHK? Mengapa bisa Ratu Cik Sima yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK)? Aku memang pernah mendengar selentingan kalau perusahaan penerbitan tempat Ratu Cik Sima bekerja akan mengadakan PHK. Alasannya sih karena katanya harga kertas meningkat serta diturunkannya undang-undang oleh pemerintah yang melarang perusahaan penerbitan swasta untuk menjual buku ke sekolah-sekolah negeri menyebabkan perusahaan tersebut bangkrut. Padahal, pemasukan utama mereka berasal dari sekolah negeri yang tersebar di seluruh Indonesia. Maka, perusahaanpun memutuskan untuk mengadakan efisiensi dengan PHK tersebut.

Namun, aku tetap tak bisa mengerti mengapa Ratu Cik Sima yang menjadi korbannya. Tak mungkin karena – seperti yang sering dikeluhkannya- namanya Cik Sima dan yang lain Simalungun, kan? Di mataku, meski nyeleneh, ia pintar dan masih muda (usianya kepala tiga). Ia lulusan Institut Teknologi Bandung –bandingkan denganku yang berasal dari sekolah tinggi ekonomi tanpa nama- dengan jurusan yang paling kuhindari ketika sekolah. Ia senang membaca buku-buku tebal dengan judul luar biasa cerdas. Ia juga pandai beropini setiap kami menonton berita bersama-sama. Tak hanya itu, perempuan ini, meski bertubuh mungil, juga sangat cekatan. Satu kekurangannya hanyalah, tak banyak yang mau memahami Ratu Cik Sima.

Aku pun memilih memendam semua itu. Setelah merapihkan seragam kantorku, aku berangkat kerja. Tetapi, dalam hatiku, tanpa sebab tiba-tiba sendu menguap dan memenuhi ruang seolah pelangi tak akan pernah ada seusai hujan tiba…

Hello world!

politik dan hukum

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.