Wajah Luka

seni dan budaya

Wajah Luka

Utami D. Kusumawati

Tusukan demi tusukan jarum mengingatkan sang seniman akan kerinduan pada seseorang di masa lalu. Kerinduan yang membuat kepala lelaki itu seolah hendak meledak, syaraf menjadi kaku dan menegang, serta jantung terasa sakit seperti diremas oleh ribuan tangan kasat mata. Tubuh larut dalam kesakitan yang tak mampu ia ekspresikan. Jarum itu berhenti sesaat tepat ketika ia berpikir akan meledak dalam amarah. Saat itu, ia berupaya menarik kembali semua kesadaran yang nyaris hilang, terkalahkan oleh rasa sakit, dengan menarik nafas. Satu, dua, tiga… Lelaki itu memegang dadanya, sudah ada tato naga di sana. Wajah si penato lambat laun muncul.

“Santai, sebentar lagi,” si penato meletakkan jarum ke atas wadah, melihat wajah kliennya memucat pasi.

“Mau lanjut atau…”

“Lanjut.”

Tap.Tap.Tap.Tap. Suara mesin tato itu  seperti mesin cukur, bergerak mengelilingi sketsa gambar yang telah di buat si penato diatas tubuhnya. Jarum itu semakin mendekati tulang hidung dan menyebabkan rasa nyeri mulai bereaksi. Butuh waktu enam jam untuk menyelesaikan satu gambar. Sakit, perih, sakit, perih… Tubuhnya menggigil. Bukan karena jarum yang mulai merajah bagian kulitnya yang paling tipis, tetapi karena memori perempuan itu yang membuat kesakitannya menjadi berkali-kali lipat rasanya.

Kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu..Daging kita satu arwah kita satu. Walau masih jauh. Yang tertusuk padamu berdarah padaku*

“Brengseek…..!”ia menggeram.  Hatinya pecah dan bergemuruh seperti bunyi mesin tato. Sementara, jarum tato terus bergerak sebagaimana luka hatinya tak pernah lindap. Luka hati yang menetap seperti sebuah tato permanen di tubuhnya.

***

Hari sudah cukup siang bagi sang seniman. Beberapa pembantu sudah mulai duduk di pendopo rumah; tanda pekerjaan rumah tangga selesai dikerjakan. Lelaki berperawakan jangkung  dan bertato naga di dada tersebut masih di ruang lukis, duduk di atas kursi anyaman rotan sembari menyelonjorkan kaki di lantai semen. Kedua tangannya terlipat di dada. Satu batang rokok, masih menyala, terselip diantara jari telunjuk dan tengah. Sesekali ia menghisap rokok kretek sembari duduk menatap sebuah kanvas besar.

Di sebelah kursi, ada sebuah meja ukiran kecil dari kayu jati. Di atasnya, satu gelas transparan berisi kopi Jawa tinggal seperlima isi. Tampak ampas kopi, pekat dan hitam, mengendap di dasar cangkir. Sudah lima cangkir kopi dihabiskannya hari itu. Di sebelah cangkir ada dua buah palet cat minyak dan kuas. Masih bersih seperti kanvas yang disandarkan pada dinding dekat meja tersebut, putih tanpa satupun goresan.

Aktivitas lelaki itu biasanya dimulai sejak pukul tiga pagi saat penduduk desa Parang Tritis masih terlelap. Usai bangun, ia akan membuka jendela kamar. Lalu berdiri di pinggir jendela, ia menatap hamparan sawah yang tampak samar dalam kabut tebal. Hatinya selalu merasa tenteram melihat kabut di dini hari. Warna keabuan dan hitam berpadu membuat kumpulan tanaman padi terlihat seperti kesatuan lukisan. Ia bisa betah berada di sana hingga matahari muncul untuk menyelami perasaannya. Berdiri sembari menghirup udara pagi yang dingin dan datar seperti hatinya. Umumnya usai melakukan hal tersebut, inspirasi melukis akan datang.

Namun, sudah nyaris setahun ini ia miskin karya lukis.  Meski telah melakukan ritual rutin, tetap saja tak ada inspirasi. Setiap pagi, ia hanya mampu berdiri mematung di depan kanvas selama berjam-jam tanpa hasil. Jika kreativitas sedang memuncak, ia hanya butuh waktu lima jam untuk menghasilkan sebuah lukisan dalam bentuk kasar.  Keesokan hari, ia tinggal memoles hingga menjadi sebuah lukisan utuh.  Pagi tadi, Ia kembali mandek ide. Tak mau memaksakan diri, ia ke luar ruangan, satu hal yang jarang dilakukannya saat melukis, dan pergi ke kolam untuk memberi makan ikan.

Sejam kemudian, ia kembali ke ruangan lukis berukuran 4 x 6 meter tersebut. Langkahnya stabil seirama dengan denyut nadinya. Namun, ekspresi wajahnya tidak. Muram seperti wajah kabut yang mengisyaratkan mendung. Ia melangkah gontai menuju pojok ruangan dan mengambil satu lukisan tertutupi kain putih. Debu berterbangan ketika ia mengangkat penutup kain yang sudah keabu-abuan. Lelaki itu terbatuk-batuk sebentar dan meletakkan kain putih tersebut di lantai. Satu wajah muncul di kanvas. Ia mundur selangkah setelah memajang lukisan itu di dinding. Menatap lukisan itu, muncul huru hara dalam dada sang seniman.

Tiba-tiba perasaannya bergejolak seperti air yang tiba-tiba ditepuk oleh tangan. Ia merasakan amarah yang luar biasa datang memenuhi dirinya. Hatinya sakit dan kepalanya penuh. Ingin ia berteriak tetapi ia tahu tidak ada guna.  Tak menemukan penyaluran yang lain, ia meremas rokok di tangan hingga api membakar jemari, menorehkan memar di ruas jari. Ia tak mempedulikan luka itu. Sakit yang ada di hatinya jauh lebih menyiksa, membuatnya lemah, tak berdaya, nyaris hilang… akal.

Di luar ruangan, seekor burung kakaktua bersenandung. “Selamat pagi… selamat pagi…. Ayo cepat bangun…”  dan anjing Pomenarian menggoyang-goyangkan ekor, siap untuk diajak bermain. Sementara, para pembantu dari rumah dengan tanah seluas nyaris 1000 meter persegi, sudah mulai sibuk beraktivitas. Pepohonan mulai dipangkas, kolam ikan dikuras, kandang kuda dibersihkan, lantai rumah disapu, serta buah-buahan dan sayur dipetik dari kebun. Kesibukan berlangsung seperti biasa setiap hari di rumah bergaya kastil Inggris yang terletak di tengah hamparan sawah sebuah dusun kecil di Jogjakarta.

Ia menarik nafas. Di kala satu huru hara emosi berlangsung dalam dirinya tak mampu ia kontrol, dunia luar menunjukkan kebalikannya. Mereka baik-baik saja, berjalan apa adanya, dan terkendali. Mengapa ia tak bisa mengendalikan tubuhnya setiap kali ia memikirkan tentang perempuan itu?  Pikirannya akan berkelana. Wajah itu akan kembali di sana dan Puji Tuhan betapa ia ingin sekali melenyapkannya! Mengapa emosinya terlalu liar untuk ditaklukkan? Emosi itu bergerak cepat mendesak semua ruangan tubuhnya sebagaimana pikirannya. Semua pengalaman emosi itu, ironisnya, hanya miliknya. Sebutir kecil kerikil yang menjelma menjadi semesta dalam dunianya dan mengalahkan dirinya.  Kerikil berwajah perempuan.

Ia pun duduk di bangku dan kembali menyalakan rokok sembari menatap lukisan tersebut hingga jarum jam bergerak ke angka 12.

***

Melukis bagi sang seniman ibarat berada di sebuah pulau pribadi. Ia tak mau diganggu dan didatangi oleh siapapun ketika melukis.  Ia selalu melenyapkan dirinya setiap kali melukis.  Berkelana dengan imajinasi serta pikirannya menuju daerah-daerah yang tak terjamah hanya oleh akal. Terbang tanpa batas dengan kuasnya.

Nyaris setiap hari lelaki itu ada di ruang lukis, biasanya sampai pukul sebelas. Tidak ada satu pembantu rumah tangga yang mengganggu lelaki tersebut termasuk sang isteri, yang juga seorang seniman gambar. Sesudah bangun dan sarapan sendiri di rumah, perempuan itu langsung berkumpul dengan teman seniman gambar di galeri lukis. Baru tepat pukul sebelas sang isteri akan kembali ke rumah untuk makan  bersama dengan suaminya di ruang makan.

Seperti sebuah rutinitas, mereka akan makan dalam diam. Sang pelukis tak mau mengajak isterinya berbicara, begitu pula isterinya tak berusaha memulai percakapan. Setiap habis bekerja, sang pelukis tahu isterinya ada di ruang makan, menantinya. Namun, lelaki itu tetap masuk ke dalam ruang makan dengan langkah santai. Ia akan duduk di kursinya tanpa menatap sang isteri, pandangannya selalu tembus melewati sang isteri, dan mulai makan. Seolah-olah di ruangan itu hanya terdapat satu manusia.

Sementara sang istri juga bersikap sama dengan sang pelukis. Setelah suaminya masuk ke ruang makan, ia akan mengambilkan piring untuk sang pelukis. Lalu, ia akan makan dan diam seperti sang suami tepat sesudah sang suami mulai menyendok nasi. Mereka hanya akan berbicara jika berkaitan dengan acara di galeri milik mereka ataupun pameran seni. Selebihnya, diam. Tak ada percakapan di luar itu sama sekali.

Dalam hati, sang isteri membenci keadaan itu. Namun, ia malas memancing mood jelek sang suami yang selalu siap dibangunkan dari tidurnya kapan saja. Toh, mau diam atau tidak, sang isteri tahu (satu hal yang disadarinya terlambat) bahwa sang suami tak akan berani untuk menceraikannya. Utang budi. Perempuan itu yang pertama kali berkorban untuk jalan seniman lelaki itu. Sang isterilah yang melakukan segala cara. Benar-benar segala cara, agar lukisan suaminya terjual dan namanya mencuat. Lelaki itu tak akan bisa menceraikannya tanpa seijin dirinya. Ia berjanji.

Hari itu, sang suami makan siang jauh lebih telat. Pukul satu ia masuk ke ruang makan. Isterinya melayani seperti biasa dan mengamati suaminya dalam hening. Diam mungkin hal yang paling anggun dilakukan baginya saat itu. Menatap wajah lelaki yang telah bersama dengannya selama limabelastahun menikmati masakan yang ia buat sendiri, hatinya tenang.

Dahulu, ia sempat berharap kedinginhatian sang suami akan luntur sebagaimana waktu terus berjalan. Mereka akan berbaikan. Melupakan kejadian menyakitkan di masa lalu. Saling bahagia. Mungkin berencana mengadopsi satu orang bayi lelaki lucu untuk teman mereka di masa tua. Namun, hari berganti, sang isteri sadar ia harus memupuskan imej itu. Tak ada tanda-tanda sang suami memaafkannya.

“Aku mau ke galeri, melukis di sana,” sang suami mengambil rokok, menyalakan, dan bergegas pergi setelah menyantap makannya beberapa sendok. Sang isteri berdiri dari kursi, membuang makanan sang suami ke piring anjing, merapihkan piring sang suami, dan pergi ke dapur tanpa berkata apa-apa.

***

Mereka saling acuh semenjak  ia berbohong mengenai kandungannya tiga tahun lalu. Sang isteri masih ingat betul kejadian yang memicu amarah sang suami. Terjadi di suatu malam yang semestinya indah karena bulan sedang bersinar dengan warna keemasan yang memukau.

Ia tahu ia salah. Tetapi  bukan sepenuh kesalahannya karena itu semua didorong oleh andil sang suami. Seandainya saja lelaki itu tidak berbohong kepadanya selama bertahun-tahun tentang semua perempuan yang diam-diam dipacari. Tentang telepon malam ketika ia sudah terlelap, kencan sembunyi-sembunyi, sampai liburan ke pulau. Sementara ia di rumah mengurusi keuangan rumah tangga mereka, pembantu yang banyak, binatang peliharaan kesukaan suaminya, galeri serta pameran mereka berdua.

Meski ia sendiri seorang seniman, sebagai perempuan ia merasa tak sanggup berbagi. Di depan sang suami, ia bisa saja menunjukkan sikap tidak cemburu padahal hatinya sakit luar biasa. Namun, toh, jika saja lelaki itu bicara jujur tentang kelemahan dirinya dengan terbuka, ia berjanji akan tetap menerima lelaki itu apa adanya.

Pasalnya, ia sudah memberikan seluruh hatinya untuk lelaki itu. Mereka bersama lebih dari lima belas tahun dan ia hafal segala seluk beluk hati dan pikiran lelaki itu. Bagaimana suaminya senang meringkuk seperti bayi di pangkuan setiap kali merasa sedih. Atau ketika merasa tak mampu bertindak akibat terlalu banyak berpikir, lelaki itu akan datang kepadanya mengeluh, bercerita tentang pikirannya.  Ia juga paham bagaimana suaminya memiliki ketakutan luar biasa bahwa ia akan gila akibat pemikirannya sendiri. Sang isteri akan duduk dan mendengarkan dengan sabar. Justru dengan kekurangan-kekurangan itulah sang suami terlihat sempurna di matanya.

Hingga suatu ketika, ada yang berubah dalam diri sang suami. Sang suami menjadi layaknya lelaki berusia dua puluh tahun yang baru saja bertemu calon pasangan hidup. Ia penuh cinta dan wajahnya merona.  Baginya aura itu sungguh menawan. Tutur kata sang suami lembut namun tegas. Lelaki itu seolah menjelma seperti Laksamana Cheng Ho di matanya. Perempuan itu kembali jatuh cinta pada sang suami.

Melihatnya duduk di depan kanvas lukis, untuk pertama kalinya selama mereka bersama, gairah perempuan itu menyala-nyala. Jantungnya berdebar kencang. Urat sarafnya menegang. Selangkangannya basah. Ia ingin memeluk kekasihnya, lelakinya, dan mengecupinya dengan liar, membasahi tubuh lelaki itu dengan letupan api di dirinya. Ia ingin disentuh, dipeluk, dihidupkan kembali dari rutinitas dan dari bau tanah yang seringkali menghantui tidur di usianya yang semakin senja. Tetapi, lelaki itu tidak merespon. Dingin seperti es dan kokoh seperti tebing. Ia ibarat sungai yang mengalir di tebingnya tak bisa merengkuh ketinggian tebing itu. Akhirnya mesti membawa luapan hasrat mengendap di tepian yang lain. Ia pun sering jatuh sakit sejak saat itu.

Ternyata, rona itu bukan karena sang isteri melainkan perempuan muda berusia awal dua puluh tahun berwajah sendu yang baru saja bekerja di galeri milik mereka. Tiba-tiba saja ia ingin sekali mencabik perempuan muda itu. Dengan kata-kata.

***

“Gen kebodohan yang menurun alamiah,”ia menyindir sang isteri ketika perempuan itu kembali jatuh sakit.

“Maksudmu? Kau menghina keluargaku?” nada perempuan itu meninggi.

“Kalau kau sampai jatuh sakit karena memikirkan diriku. Kau hanya menghancurkan dirimu sendiri,”kata sang pelukis tanpa peduli perasaan sang isteri. Lelaki itu memang selalu begitu, sejak dulu, berbicara tanpa memperhatikan perasaan lawan bicaranya. Meski seringkali sakit hati saat pertama mendengarnya, lama kelamaan, sang isteri sudah mulai bisa menguasai diri dan bersikap biasa saja. Itulah diri suaminya, lelaki yang dicintainya.

“Aku cinta kau, Demi Tuhan!”

“Cinta itu hanya khayali. Yang ada kebutuhan. Aku membutuhkanmu dan sebaliknya, oleh karena itu kita menikah. Kita mencintai karena kita butuh,”ujar lelaki itu ringan. Kalimat itu membekas di dalam pikiran sang isteri. Perempuan itu tahu ke arah mana ucapan itu ditujukan. Ia kini adalah barang yang sudah tak dibutuhkan lagi oleh sang suami. Oleh karena itu, jangan berkata tentang cinta lagi.

Kini setiap bangun tidur, perempuan itu akan pergi ke cermin dan memperhatikan tubuhnya. Rasa benci menjalar di hati sang isteri tatkala melihat gundukan lemak, keriput, jerawat, serta uban di rambut nya. Ia muak sekali akan perubahan tersebut dan kehilangan kepercayaan diri. Berharap bahwa dirinya adalah perempuan yang fisiknya selalu sama seperti ketika ia masih muda. Ia jadi begitu membenci dirinya dan hal-hal yang dilakukannya, termasuk makanan yang diasupnya tatkala stress memikirkan kondisi finansial keluarga, keadaan suaminya, serta ketidakmampuan dirinya untuk hamil. Betapa dunianya berubah menjadi neraka sendiri baginya!

“Kau harus melakukan sesuatu untuk membahagiakan dirimu. Pergi berlibur. Buang duitmu untuk senang-senang,”saran seorang teman.

Ia menggeleng. Liburan itu hanyalah pelarian. Tidak akan menyelesaikan masalah. Satu-satunya cara untuk menghentikan sang suami lari ke pelukan perempuan muda itu adalah kehadiran anak. Maka, ia harus berbohong jika memang terpaksa. Selama berupaya mengenyahkan perempuan muda itu, ia harus mengarang-ngarang kehamilannya.

***

Kebohongan itu menemui akhir. Suatu malam ketika ia tiba-tiba pingsan, si pelukis dengan segera menghubungi dokter keluarga mereka. Sang suami menanyakan kehamilan sang isteri kepada sang dokter. Iapun mendapatkan kenyataan yang mengejutkan. Kondisi tubuh sang isteri tidak memungkinkan untuk menghasilkan keturunan. Ketika dokter pergi, sang suami berteriak sekali dan masuk ke ruangan lukis serta mengunci pintu kamar. Hingga pagi, perempuan itu tertidur sendirian di kamar dengan mata bengkak akibat tangis.

Sang suami sebenarnya bukan kecewa akan vonis dokter mengenai kandungan isterinya. Ia sendiri adalah seorang seniman, yang tidak mudah terpengaruh oleh vonis orang lain. Ia memang ingin memiliki keturunan, namun toh masih bisa menjadikan perempuan lain sebagai isteri kedua. Hari itu, kekesalannya memuncak akibat kebohongan isterinya. Ketika ia mengakui bahwa ia telah berselingkuh dengan perempuan berwajah bulan, isterinya menangis sembari mengatakan ia tengah mengandung. Lelaki itu pun merasa dirinya seperti seorang pencopet penyandang cacat. Menyelingkuhi seorang perempuan hamil. Faktanya, ia bohong.

Tak hanya kepada pelukis, sang Isteri juga menyerang perempuan berwajah bulan dengan kata-kata kasar, yang menyebabkan perempuan itu menghilang tanpa kabar. Padahal, dari semua karya lukis yang ia hasilkan semenjak lelaki tersebut sembuh dari ketergantungan narkotika, hampir delapan puluh persen terinspirasi oleh perempuan muda tersebut.  Kreativitasnya meningkat setiap saat ia jatuh cinta. Bersama perempuan berwajah bulan, ia selalu merasa jatuh cinta.

Ia maupun isterinya, sama-sama makan dan hidup dari lukisan yang dihasilkan oleh perasaan yang disapih oleh si perempuan berwajah bulan.

Hingga kini, ia merasa dibebani oleh tanggungjawab untuk sekadar mengucapkan terimakasih dan maaf kepada perempuan tersebut. Namun, tak ada satu kabar yang ia dengar tentang perempuan itu.

Ia sempat berpikir pendek dan berniat mencekik leher isterinya akibat amarah. Atau membuat tindakan yang membuat isterinya jantungan dan mati. Sehingga, ia bisa meminang perempuan muda itu menjadi isterinya. Namun, pikiran itu berhasil diredamkan. Ia tak mau melakukan tindakan bodoh yang akan menjauhkannya dari apapun yang sudah dicapainya sampai saat ini. Ia tak mau kehilangan nama dan reputasi. Malam itu, untuk pertama kalinya, si pelukis menangisi kepergian perempuan muda tersebut.

Semenjak itulah, hubungan antara ia dan isterinya berjalan seperti mayat hidup.  Hal itu berdampak pula pada kualitas lukisan yang dihasilkannya. Ia selalu saja mandek ide semenjak kepergian perempuan berwajah bulan.

***

Perempuan berwajah bulan tiba di kota Jogjakarta empat tahun yang lalu. Saat itu, ia masih seorang perempuan lugu bermata malam berusia nyaris dua puluh empat tahun yang masih dipenuhi semangat idealisme di kota pelajar tersebut.

Ia datang di stasiun Tugu Jogjakarta usai lulus kuliah jurusan Sastra membawa sebuah koper berisi beberapa pasang baju serta buku. Di tangan kanannya, tergenggam sebuah majalah Horison yang sudah lecek. Senyumnya sumringah.

Saat itu masih subuh ketika kereta sampai di stasiun Tugu. Belum begitu ramai orang-orang berada di stasiun. Ia hanya melihat mereka yang baru saja turun dari kereta Taksaka jurusan Jakarta-Jogjakarta yang ia naiki serta beberapa orang yang hendak menaiki kereta menuju Jakarta menunggu di peron stasiun. Beberapa tukang koran serta sopir taksi dan becak bergerombol di dekat pintu keluar meneriakkan kata-kata “Malioboro, batik, dan kraton”. Ia menghampiri seorang penjaja koran dan membeli satu koran Radar Jogja.

Ia berjalan ke luar stasiun menyeberangi rel kereta api menuju Malioboro dan naik becak dari sana menuju daerah Prawirotaman, tempat ia kos untuk sementara waktu.

Jogjakarta di mata perempuan itu lebih menyerupai rumah daripada sebuah kota. Jogjakarta adalah sebuah tempat tinggal yang nyaman. Udara kota yang sejuk, sepeda onthel dan bunyi dokar di sepanjang jalan, serta pedagang jamu tradisional serta batik di pinggir jalan. Makan gudeg ataupun ayam bakar sembari lesehan di pinggir jalan serta berkeliling dari satu galeri seni ke galeri seni lainnya yang tumbuh menjamur di kota Jogjakarta. Ia menyukai semua itu.

Di sana, ia bisa melakukan dan menjadi apa saja yang ia mau, sesuatu yang ia tidak dapatkan saat berada di Jakarta.Warga Jogjakarta meski berasal dari suku Jawa, memiliki karakter nyeni dan memiliki toleransi yang tinggi. Ia kadang bisa melihat lelaki berambut gondrong, perempuan berkalung bebatuan ataupun pemuda menaiki motor ceper berkeliaran diantara jalan-jalan Jogja yang bersih dan tertata rapih.

Selain itu, mereka juga sangat ramah dan senang menolong. Salah satunya adalah ibu kos dan tetangga di daerah Prawirotaman. Mereka sering mengajaknya kumpul-kumpul makan gorengan dan minum teh manis hangat mencairkan kekakuan perempuan tersebut akan daerah baru yang dihuninya saat ini.  Para tetangganya juga mau menemani perempuan itu ke tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi dengan menggunakan motor bebek, memperkenalkan budaya Jogjakarta dari lebih dekat pada perempuan kelahiran Jakarta tersebut. Ia merasa menemukan kembali keluarganya yang telah bercerai berai di sana.

Perempuan berwajah bulan menyenangi semua itu. Meski jauh dari kota kelahirannya, ada di Jogjakarta seperti kembali berada di rumah. Sebuah rumah dan bukan sekadar bangunan yang telah lama dicarinya hingga kini.

Sementara itu, penduduk Prawirotaman juga menyenangi  perempuan tersebut. Meski berwajah murung, perempuan itu selalu mau menyapa penduduk terlebih dahulu dan tersenyum. Setiap pagi, mereka sering melihat perempuan itu duduk di teras kosnya membaca majalah sastra atau novel sembari menyeruput secangkir teh manis hangat. Jika sedang tak membaca, perempuan muda itu akan mengetik dengan menggunakan laptop.

Mimik mukanya teduh dan tenang setiap kali menulis, sungguh berbeda dari aura yang ditampilkannya setiap hari. Kemurungan yang nampak dari air mukanya hilang.  Ia menjadi sosok manusia yang lain, membuat para warga terpesona, terserap, dan tertawan. Seolah perempuan muda itu memang sudah ditakdirkan untuk hidup sebagai penulis. Mereka menyambutnya dengan hati terbuka sebagai bagian dari geliat nadi kota seni Jogjakarta.

***

Seni dan budaya di kota Jogjakarta adalah sebuah nafas bagi kota yang mendapatkan gelar kota istimewa dari pemerintah tersebut. Di mana-mana banyak ditemui kegiatan berkesenian mulai dari seni jalanan macam grafiti , seni rakyat seperti membatik dan kerajinan tangan, hingga seni kelas tinggi seperti lukisan. Berbagai macam acara seni dan budaya pun rutin digelar setiap tahun di Jogjakarta dan memiliki patron sendiri, yakni para maestro seni.

Lelaki bertubuh tato naga tersebut adalah salah satu maestro seni yang disegani di kampungnya, daerah Parangtritis. Lukisannya, yang mendapatkan banyak penghargaan internasional, sudah bisa disejajarkan dengan para maestro seni lukis terdahulu seperti Sudjojono dan Basuki Abdullah. Ia bersama isterinya juga mendirikan sebuah galeri seni pada tahun 1997 yang dibuka untuk umum. Mereka mempertunjukkan galeri itu untuk pembinaan seniman muda di Jogjakarta. Semenjak pertama kali dibuka, galeri itu telah menjadi sebuah tempat berkumpul para seniman untuk berdiskusi dan mengadakan acara seni mulai dari pameran hingga pementasan seperti performing art.

Selain memiliki galeri seni, pelukis itu juga seorang filantropi. Ia mendirikan sebuah yayasan yang didirikannya untuk seniman-seniman muda berbakat yang membutuhkan dana untuk mengadakan pameran atau pentas seni. Kebetulan teman-teman pelukis tersebut, yang umumnya sudah ternama, mau menyumbangkan dana. Yayasan tersebut belum ada setahun didirikan dan ia membutuhkan banyak orang untuk mengurus yayasan seni tersebut. Isterinya pun membuat sebuah lowongan yang ditempelkan di galeri-galeri seni yang ada di Jogjakarta.

Saat itu perempuan berwajah bulan sudah tiga bulan ada di Jogjakarta. Masih mencari pekerjaan di tempat seni dan sastra. Dari seluruh lamaran yang dikirimnya, belum ada satupun yang menerima ia sebagai karyawan. Mungkin karena latar belakangnya bukan berasal dari jurusan seni sehingga tak mudah baginya mendapatkan pekerjaan di galeri-galeri tersebut. Atau mungkin belum keberuntungannya saja, ia menduga.  Toh, perempuan muda itu tetap optimis dan rajin mengirimkan lamaran pekerjaan.

Keberuntungan pun berpihak padanya. Sebuah yayasan seni yang baru saja dibuka dan membutuhkan karyawan banyak memanggilnya untuk wawancara. Ia masih ingat saat pertama kali bertemu dengan seorang perempuan  bertubuh gempal bermata tajam yang menatapnya penuh selidik. Ia merasa seluruh tubuhnya disilet-silet oleh perempuan yang mengenakan cincin di seluruh jarinya. Semua rahasia juga seolah diteropong melalui mata pisaunya. Tangannya basah berlumur keringat saat perempuan itu bertanya hal-hal filosofis di luar pertanyaan lazim saat wawancara.

“Apa arti agama buatmu?”

“Agama?”

“Ya. Kau dengar paham dan dengar pertanyaan saya?”

Ia mengangguk cepat-cepat. Keringat mulai membasahi tubuhnya. Ruang wawancara yang awalnya sejuk itu semakin terasa panas baginya.

“Ya. Agama bagi saya adalah tuntunan dalam menemukan Tuhan,”

“Kau tau seni adalah agama bagi para seniman.”

“Agama?”

“Ya. kau dengar dan paham pernyataan saya?”

Ia diam sejenak, mencoba mengingat-ingat kembali pernyataan terakhir perempuan itu. Ia tak boleh gegabah menjawab.

“Ya. seni adalah agama seniman.”

“Bagus. Kini kau paham kau berurusan dengan orang seperti apa. Apakah kau siap?”

Ia mengangguk. Saat itu, di pikiran perempuan itu, seni tak kurang sama dengan sastra. Sesuatu yang bisa memberikan gairah untuknya.

Sang pewawancara meski kurang senang dengan latar belakang pendidikan sang perempuan muda, diam-diam merasa tertarik dengan kepribadiannya. Perempuan itu tidak pernah berbohong dalam hal apapun, baik CV ataupun wawancara, meski ia tak tahu banyak hal. Ia selalu berbicara apa adanya tentang dirinya. Bahwa ia seorang lulusan jurusan sastra yang tertarik akan seni dan mau belajar banyak tentang seni. Sang pewancara lantas meminta contoh tulisannya. Ia memberikan. Tak lama, perempuan itu langsung diterima sebagai asisten kurator seni. Itulah pekerjaan pertama di Jogjakarta. Menjadi asisten kurator seni.

Tak lama berselang setelah galeri pertama didirikan, sang pelukis mengalami depresi akut. Setiap malam lelaki bertubuh tato tersebut akan berteriak-teriak di ruang lukisnya usai membaca katalog seniman muda yang diterimanya setiap membuka pameran lukis.

“Apa-apaan ini! Lukisan sejelek ini bisa dihargai satu Milliar! Kurator geblek. Pasar bloon. Lukisan ini kan hanya menjeplak lukisan Andy Warhol tidak ada unsur kebaruan. Mau jadi apa dunia lukis kita ini!”

Ia marah saat mengetahui salah satu lukisan junior di kampusnya, seorang lelaki yang selalu mendapatkan nilai C untuk pelajaran melukis, dihargai sama dengan para maestro lukis lainnya. Ia berpikir akhir-akhir ini pasar seni lukis terlalu bebas dan banyak menaikkan harga seenaknya sendiri tanpa mempedulikan kualitas dari lukisan yang dihasilkan para senimannya. Harga bisa tinggi terutama bagi pelukis yang dekat dengan beberapa pemilik galeri komersil. Dalam seni, hal ini dinamakan menggoreng karya seni.

“Seni kok jadi kaya jual kacang goreng, obral hingga laris manis! Gendeng!” ia terus meracau sendirian di ruang lukisnya.

Sementara sang isteri, yang jauh lebih tidak peduli mengenai masalah goreng menggoreng dalam dunia seni, mengacuhkan omelan suaminya dan terus menggambar sketsa di ruang kerjanya. Baginya, saat ini seniman mesti banyak realistis dan menerima kondisi pasar yang ada. Terlebih hidup di Indonesia yang masyarakatnya masih banyak yang buta mengenai seni.  Ia sendiri kebanyakan membuat sketsa berdasarkan pesanan bukan untuk sekadar kepuasan batin seperti yang dilakukan oleh sang suami. Kalau tidak begitu, uang tak akan masuk dan ia sendiri tak mau tertekan seperti suaminya.

Sementara sang suami, larut dalam depresi, mulai mengkonsumsi narkotika untuk menekan kekacauan emosinya. Kepada sang isteri, ia mengaku minum dopping untuk meningkatkan kreativitas melukis. Isterinya menurut saja, yang penting lelaki itu berhenti berteriak-teriak setiap tengah malam datang, sebab mengacaukan konsentrasinya menggambar. Tiga bulan sang suami menenggak narkotika, di bulan keempatnya, ia sakau.

Mulai saat itulah, sang isteri mulai menghentikan pesanan sketsa gambar dan membawa suaminya ke panti rehabilitasi.

***

Sebagaimana lelaki itu mencintai seni dan perempuan berwajah bulan menyukai sastra, pameranlah yang akhirnya mempertemukan mereka berdua.  Saat itu, sang perempuan mendapatkan tugas dari yayasan seni tempat ia bekerja untuk membantu acara pameran seni dan sastra di salah satu galeri rekanan di Jakarta. Di sana, perempuan berwajah bulan akan membantu kurator untuk mewawancarai seniman untuk katalog mereka. Ia mendapatkan tugas pertama mewawancarai si pelukis dengan tato di sekujur tubuhnya, sang pemilik yayasan. Ini adalah kali pertama pameran si seniman setelah ia menghabiskan waktunya di panti rehabilitasi ketergantungan narkotika.

Perempuan berwajah bulan belum pernah mendengar apapun mengenai si pelukis tersebut selain informasi bahwa pelukis tersebut termasuk salah satu maestro dalam bidang seni lukis. Ia telah menghubungi si seniman tersebut dan pelukis itu langsung menjawab OK. Mereka akan bertemu di galeri untuk proses wawancara. Semalam suntuk, perempuan berwajah bulan mencari di internet informasi tentang seniman yang akan diwawancarainya. Hatinya sedikit gelisah. Ia belum pernah sama sekali seumur hidupnya mengobrol langsung dengan orang hebat seperti si pelukis tersebut.

Ketika pertama kali bertemu dengan perempuan berwajah bulan, pelukis itu nyaris bersikap merendahkannya. Tampang perempuan itu lugu dan ia hanya mengemukakan pertanyaan standar yang membuatnya bosan. Sejujurnya, kalau perempuan itu tidak memiliki wajah yang enak untuk dilihat, ia akan segera menyudahi wawancara sesingkat mungkin. Ia benci perempuan bodoh dan mereka yang menghabiskan waktunya untuk mempermak diri tanpa mengisi otak. Jika bertemu dengan tipe seperti itu, ia akan segera mencari-cari alasan untuk menyudahi percakapan.

Namun, ada sesuatu dari diri perempuan itu yang membuat sang pelukis senang duduk berlama-lama menatap wajahnya.  Ada sebuah aura kesenduan yang menarik seperti magnet. Selain itu, bentuk wajah perempuan itu juga bulat seperti bulan purnama dengan bibir tebal dan merah. Ia tertarik secara fisik kepada perempuan itu. Ketika perempuan itu mulai menulis dan menguasai obrolan, barulah ketertarikan fisiknya luntur dan berubah menjadi rasa hormat.

“Anda suka sekali dengan tato ya, dengar-dengar?”

“Ya. Sangat. Kenapa?”

“Tidak apa-apa, saya dengar ada punya tato naga. Benarkah?”

“Ya. “

“Saya suka sekali dengan tato naga.”

“Terimakasih. Oke langsung saja. Saya suka sekali dengan seni, segala sesuatu yang berbau menciptakan, berkreasi. Lukisan saya kali ini mengenai kesakitan serta kehilangan yang teramat sangat.”

“Anda pernah mengalami kehilangan yang teramat sangat?”

“Ya.”

“Seperti apa persisnya?”

“Seperti saat ini, jika kamu pergi dan menyudahi wawancara saya. Saya akan mengalami kesakitan serta kehilangan yang teramat sangat.” Lelaki itu berbicara asal tanpa tahu bahwa suatu saat ia akan membayar semua yang telah dikatakannya detik itu.

Perempuan berwajah bulan tersipu. Ia lekas-lekas mengalihkan si pelukis ke pertanyaan lainnya agar mendapatkan jawaban yang lebih serius dari lelaki itu.

“Bisa ceritakan sedikit tentang lukisan-lukisan Anda kali ini? Saya punya daftar judulnya, mungkin kita bisa mulai dengan Wajah Luka. Mengapa menafsirkan karya Djenar Maesa Ayu menjadi lukisan berjudul Wajah Luka?”

“Cerita dia banyak memendam luka. Itu yang saya tangkap.”

“Luka seperti apa yang Anda lihat?”

“Kemarahan, kekecewaan, sakit hati atas lelaki, perselingkuhan, masalah perempuan terutama, ketidakberhasilan pemenuhan aktualisasi diri.. entahlah.. saya pikir seperti itu.”

“Lalu mengenai gambar lukisan ini?”

“Anda tahu, wajah Anda mengingatkan saya akan bulan. Saya suka sekali dengan bulan,” pelukis itu tak menjawab pertanyaan perempuan tersebut.  Ia diam dan menatap si perempuan berwajah bulan yang semakin tersipu dan salah tingkah untuk sesaat. Namun, perempuan muda itu berhasil menguasai dirinya dengan sangat baik.

“Terimakasih, saya juga senang dengan bulan. Karena kesukaan kita sama, mestinya wawancara ini berlangsung lebih cepat dan mudah. Sehingga, saya bisa segera menuliskan tentang diri Anda untuk kebutuhan katalog pameran dan mungkin usai itu berbicara lebih banyak tentang kesukaan serupa kita. Bersediakah Anda kembali ke jalur pertanyaan yang telah saya ajukan?”

Si pelukis pun menjawab semua pertanyaannya tanpa basa basi dan mendetail sesuai yang perempuan itu butuhkan. Usai wawancara, si pelukis mengajak si perempuan berwajah bulan bertemu lagi keesokan harinya pada jam makan siang, menagih janji yang diucapkan oleh perempuan tersebut. Ia mulai merasa si perempuan berwajah bulan bisa juga dijadikan sebagai teman diskusi yang menyenangkan selain mungkin jika perempuan itu cukup bodoh, dimanfaatkan sebagai kekasih. Muse. Inspirasi untuk menghasilkan lukisan.

Si perempuan berwajah bulan, dengan naïf menggira bahwa hubungan mereka hanya akan sampai tahap teman diskusi dan bukan kekasih, menyetujui. Itulah awal bagaimana kedekatan mereka bermula.

***

Ia bertemu dengan sang isteri di suatu pameran, empat bulan berpacaran dengan sang seniman. Lelaki itu di sana, ditemani seorang perempuan bertubuh sapi yang terlihat seperti ibunya, melambai padanya. Ia awalnya enggan mendekat. Hatinya terasa tidak karu-karuan seolah akan ada sesuatu hal buruk terjadi. Namun lelaki itu terus melambai. Mau tidak mau dia harus mendekat juga dan berbasa basi padanya.

“Perkenalkan, ini isteriku, Anita,” perempuan gemuk itu menyodorkan tangannya yang dilingkari dengan gelang mutiara air laut kepadanya. Ia terkejut bukan kepalang. Lelaki itu telah memiliki isteri! Ia bisa saja marah saat itu namun ia cukup sadar diri, ia bisa melakukan hal lain untuk menyelamatkan mukanya sendiri daripada marah-marah. Maka, ia pun menyambut tangan sang isteri dengan anggun.

“Ini Nadia, kurator yang sering aku ceritakan, sayang. My muse,” perempuan gemuk itu mengangguk. Mengamatinya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan mata tajam dengan dagu terangkat. Perempuan berwajah bulan itu jijik setengah mati dengan tatapan itu. Pameran yang tadinya membuat ia semangat, kini kehilangan ruhnya.

“Oh, selamat datang, cantik. Silahkan berkeliling, nanti kau akan kuperkenalkan dengan Jimbo. Kau tahu kurator nomor wahid kita itu, kan? Tentunya kau tahu. Oh ya, apa kau sudah tahu galeri kita ini berencana membuka cabang di Singapura? Kau tentunya sudah kenal dengan Christine dari Singapura…” perempuan gemuk itu terus menerus memuntahkan pengetahuannya seolah menegaskan status kepada dirinya: Saya adalah tuan di sini, kuperingatkan kau.

“Mari, ikut aku cantik, kau akan kuperkenalkan dengan seniman-seniman lainnya. Kau pasti tidak sabar untuk segera bertemu dengan mereka. Namamu pasti cepat melejit,” Sang isteri menggamit lengan perempuan itu. Sementara sang seniman mengedipkan sebelah mata padanya dan mulai berbincang dengan seorang penari berkuteks merah di tengah ruangan. Ia memeluk tubuh penari itu.

Setiap kali bertemu dengannya di pameran, sang isteri selalu menebarkan aroma permusuhan dengan kata-kata yang sinis. Sayangnya, ia bukan tipe perempuan senang bicara, sehingga menanggapinya ia lebih banyak diam. Jika bisa, ia ingin pergi segera dari tempat di mana perempuan tua itu berada, tetapi tidak bisa. Ia belum mendapatkan pekerjaan lain. Si pelukis itulah penguasa dan perempuan tua itu anjingnya. Sementara ia, adalah budak belian yang dibawa ke mana-mana dengan leher terpasung rantai. Sejauh mana ia mengelak, ia sadar karirnya telah dimatikan semenjak sang isteri mengetahui ia dan suaminya berpacaran. Ia pun menerima fakta itu.

Tetapi, perempuan berwajah bulan bukanlah seorang perempuan bodoh. Ia bisa saja menikmati peran tersebut dan menjalani petualangan asmaranya bersama dengan pelukis yang dikagumi banyak orang tersebut. Ia bisa saja menerima keterbatasan lingkup seni sekaligus hak istimewa dunia seni yang ditentukan oleh pasangan suami-isteri tersebut. Namun, ia tidak mau.

Suatu saat sang isteri, yang diketahuinya masih belum punya anak, mengandung, maka tamatlah riwayatnya. Ia akan keluar dari dunia seni, termasuk dari hati kekasihnya, sang pelukis, dengan berak berserakan di wajahnya. Segala petualangan akan berakhir, dan ia memutuskan, ialah yang mesti memimpin jalan itu. Baik pelukis itu ataupun isterinya akan tahu, dia bukanlah perempuan lugu seperti yang mereka pikirkan.

Maka, ia pun memutuskan sesuatu. Tahu bahwa sang isteri mengkonsumsi obat-obatan penyubur untuk kehamilan yang dipesan dari sebuah toko China, ia meminta bantuan seorang teman yang diam-diam juga membenci sang seniman untuk meyakinkan perempuan tua itu meminum obat China yang berbeda. Obat pembuat kandungan tidak subur. Teman tersebut telah memalsukan bahan-bahan pembentuknya dan menyamarkan nama obat tersebut agar tak terlacak oleh dokter langganan keluarga itu. Rencananya mulus, sang perempuan tua langsung percaya. Obat itu dikonsumsinya setiap hari.

Ketika kekasihnya tahu bahwa sang isteri tidak bisa mengandung, lelaki itu tentunya akan semakin mengacuhkan sang isteri. Ia tahu persis bagaimana sang seniman sudah benar-benar tidak membutuhkan sang isteri. Semakin hari, lelaki itu semakin giat mengajaknya menikah. Ia masih ingat perkataan lelaki itu.

“Tak usah kita pedulikan isteriku. Dia sudah tua dan tak bisa apa-apa. Lagipula, kami sudah tidak mencintai satu sama lain. Cuma karena status akhirnya kami bertahan. Terlalu banyak yang akan dikorbankan kalau kami berpisah. Lagipula isteriku sudah rela aku menikah lagi. Dia malah yang nyuruh aku cepat-cepat cari isteri baru lagi,”kata lelaki itu.

Ia tahu tentunya cerita itu bohong belaka, meski sesungguhnya tanpa ia ketahui, sang seniman sudah jatuh ke dalam perangkapnya sendiri: ia benar-benar mencintai perempuan muda itu.

Perempuan itu akan menikmati permainan mereka dan meninggalkan sang seniman tanpa terjebak ke dalam pusaran perasaan cinta.

Dan ia merasa simpati atas isteri sang seniman. Sementara di tempat lain, sang isteri, terlelap di atas kasur memeluk sang suami yang tidur memunggunginya diam-diam merasa kasihan dengan perempuan muda yang ia temui di pameran tiap acara seni. Perempuan muda itu terlihat begitu mencintai suaminya. Terlalu lugu untuk berpetualang cinta. Terlalu lugu untuk suamiku. Ujarnya dalam hati.

***

Perempuan bertubuh tinggi semampai dan senang mengenakan kuteks merah itu mengambil katalog pameran lukisan yang ada di meja. Gelangnya bergemerincing saat ia mengangkat tangannya. Katalog tersebut berwarna cokelat dengan gambar rangka tengkorak kepala seorang perempuan berwarna abu-abu. Mata perempuan dalam katalog terpejam seperti menahan sakit. Bibirnya terbuka setengah memperlihatkan gigi dan gusi-gusinya yang gemuk. Rambut perempuan itu tergerai, berantakan, dilukiskan dengan garis-garis kurva tak searah. Di bawah gambar itu tertera judul: Pain Face II (Wajah Luka II). Rusdie Pramono. Museum of Modern Arts, U.S.

Ia hendak membuka katalog tersebut, tetapi seseorang menahan gerakannya. Ia menepis tangan itu dan membalik-balik katalog dengan gerakan kasar seperti para macan berburu mangsa lantas berhenti pada satu subjek, sebuah gambar. Gambar keramik berbentuk telepon menyerupai bulan sabit.  Di belakang telepon itu tercantum berpuluh-puluh nomor telepon orang. Namun hanya satu wajah perempuan di sana.

“Brengsek, ia masih saja sama seperti dahulu!” katalog itu dibanting ke lantai. Ramai gemerincing gelang. Bunyi katalog menampar lantai. Lelaki itu terkejut.

“Kau tidak akan…”

“Tentu saja akan! Kau pikir aku perempuan bodoh kubiarkan dia meremehkanku.”

“Itu belum tentu tentang kau. Lagipula apa untungnya mengerjai dia? Kau sudah dapat segala yang kau mau di sini, menjadi penari!Lupakan dia!”

“Tidak bisa! Ini tentang diriku, Ang. Siapapun yang dilukiskannya adalah diriku pula. Dan semua ide lukis ini… aku yang memberitahunya, Ang!”perempuan itu merasakan sakit di dada, seperti sebuah palu kasat mata yang mendorongnya ke dasar bumi. Jauh ke dasar bumi.

Bertahun-tahun ia belajar untuk menyembuhkan rasa sakit itu tetap saja ada, menjadi bagian dirinya. Seperti sebuah virus, setiap kali disembuhkan ia malah semakin kebal dan ganas. Memori itu hidup kembali saat mendapat pancingan yang tepat. Kali ini katalog pameran.

“Lalu? Jangan-jangan hanya inilah tujuanmu belajar ke Rusia. Agar kau bisa terus menguasai dia! Kau gila! Kau terobsesi dengan lelaki itu!Sadarlah lelaki itu memang gila dan dia bukan milikmu!”

Lelaki bernama Ang itu meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa. Pintu dibanting. Tetapi perempuan itu tak peduli dan mulai membakar dupa. Asap memenuhi ruangan tempat ia berpraktek. Beberapa bola Kristal yang ada di ruangan tersebut menyala tiba-tiba. Sejak dahulu, Ayahnya selalu mengajarkan untuk tidak mudah menyerah atas hal apapun. Kompetisi, pengakuan,ia belajar semua itu dari sang Ayah. Dan ia, tak akan pernah berhenti. Sebagaimana Ayahnya tak pernah berhenti untuk mengejar mimpinya. Ia akan dapatkan lelaki itu sampai titik paling akhir. Ia berjanji.

Perempuan itu lantas menari lincah dan dengan lantang berkata,

Kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu..Daging kita satu arwah kita satu. Walau masih jauh. Yang tertusuk padamu berdarah padaku.* Kau hanya milikku seorang Rusdie. Tak ada yang lain. 

“Rasakan!” Ia menggeram. Mukanya memucat dan bibirnya komat-kamit. Lampu ruangan pun padam seketika.

(ciledug. 20.12.2010)

*puisi Satu karya Sutardji Calzoum Bachri

Penulis adalah seorang jurnalis pada sebuah koran nasional. Puisinya Ilalang Liar pernah dibacakan pada acara Komunitas Sastra Reboan di Bulungan. Penulis pernah mendapatkan beasiswa Bengkel Novel dari komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta tahun 2009.

dimuat di laritelanjang.net 

 

The Rose Painter

seni dan budaya

The rose painter
*terinspirasi oleh karya Rose oleh pematung China Chai Zhisong
Utami D. Kusumawati
Farida berdiri menatap belasan patung bunga mawar di hadapannya dengan perasaan campur aduk seperti saat beberapa tahun lalu mengadakan pameran pertama. Puluhan kali telah mengadakan pameran, masih saja perutnya mulas setiap pembukaan.
Selalu saja ia berpikir bahwa puluhan orang yang datang malam itu akan mencecarnya hingga ia terjun ke jurang tanpa dasar tak peduli betapa bagus karya-karyanya. Meski, ia sadar bukan itu sumber dari segala kecemasannya.
Sementara, karya-karya patung mawar terlihat elegan di dalam ruangan luas bercat putih. Mawar-mawar tersebut dibingkai ke dalam empat pigura terbuat dari kayu jati. Setiap pigura memiliki jumlah, bentuk serta kepadatan mawar yang berbeda-beda satu dengan yang lain.
Ia sengaja memahatnya berbeda untuk menunjukkan esensi penciptaan adalah keberagaman. Melihat mawar-mawar itu dari jauh, kau seperti melihat eros, sang dewa cinta dan seksualitas, mengejawantah hadir dalam tubuh mawar.
Uniknya, mawar-mawar yang biasanya memiliki warna merah kali ini ditampilkan dengan warna perak mengilat. Efeknya, suram dan dingin. Ia sendiri senang dengan ide mempertunjukkan antitesis dalam apa yang biasanya dipikirkan orang umum.
Tak mudah melakukan hal yang berkebalikan dari opini umum. Bertahun-tahun ia melatih dirinya hingga kini mulai terbiasa.
Mawar itu lazimnya merah. Tetapi di matanya, mawar tidak pernah merah. Ia lantas menjelaskannya dengan sebuah tulisan kecil di bawah karya:
“Semua cinta berakhir dengan luka tanpa terkecuali.”
Beberapa pengunjung mulai ramai memenuhi ruangan pameran. Ia merasakan tangan dan kakinya gemetar. Keringat dingin mulai keluar. Tubuh-tubuh yang lalu lalang di sekitarnya menghempaskan angin dan menyadarkan bahwa ia tidak sendirian di sana.
Beberapa mencoba tersenyum padanya. Kurator melambaikan tangan, memintanya mendekat. Tetapi, ia mengacuhkan dan meredakan gejolak dengan sesekali menatap jendela, menjauhkan perhatiannya dari orang kebanyakan.
Mengapa tak kau hancurkan saja bunga-bunga mawar itu Farida?
Di tengah hiruk pikuk orang ataupun pikirannya sendiri, terbersit satu ide gila. Menghancurkan karya sendiri.
Ia menggelengkan kepala. Masih segar di pikiran tentang berita yang beberapa lama ini baru saja dibacanya. Seorang seniman terkenal asal Amerika Serikat menghancurkan karya-karyanya di sebuah pameran.
Sesaat sebelum kurator memberikan sambutan, seniman itu maju ke depan tiba-tiba sembari membawa satu buah kapak. Orang-orang menggiranya akan melakukan pertunjukkan seni. Ternyata, ia berkeliling dan menghacurkan seluruh lukisannya dengan kapak. Tak ada satupun yang berkomentar saat itu, semua diam karena syok.
Namun, beberapa hari kemudian, muncul berbagai spekulasi. Beberapa surat kabar menduga pria itu tidak puas dengan karyanya, depresi serta ragu akan diri sendiri, terlalu cemas terhadap eksekusi publik, dan bahkan terparah, menyebutnya lelaki tua gila. Padahal, lelaki itu hanya berusaha melepaskan keterikatannya, obsesinya akan lukisan.
Di lain waktu, ia tahu seorang nama besar yang pernah melakukan hal serupa: Willem de Kooning. Lucunya, tak satupun menyebut seniman ini gila dan menganggapnya menjadi sebuah kewajaran. Padahal, lelaki itu menghacurkan karya karena keputusasaan mencari identitas karya sendiri. Jelas-jelas mengalami depresi dibanding sang seniman tanpa nama.
Apakah mereka akan menyebutku gila? Menulis aku depresi berat karena tak sanggup hadapi publik?
Ia sekonyong-konyong merasa pusing. Kegelisahannya pada malam itu bukan tanpa alasan. Ia tahu karakter beberapa dari mereka yang datang. Bagaimana mereka akan memperlakukan karya seni itu seperti sampah.
Mereka akan membelinya setinggi langit hanya untuk menaruhnya di gudang-gudang mereka, dibiarkan membusuk bersama dengan kecoak-kecoak dan rayap. Mawar-mawar yang indah itu akan berkarat. Lebur bersama debu.
Tidak, Farida. Kalau kau hancurkan patung-patung mawar itu, kau hancurkan juga dirimu.
Kesadarannya mencegah bawah sadarnya. Tetapi, lagi-lagi bawah sadarnya menyanggah. Ia tak pernah punya masa depan semenjak satu kejadian dan bahwa hidup hanyalah sekumpulan kegiatan statis tanpa kewajiban akan pencarian makna, tujuan ataupun nilai hingga manusia mati. Bukankah sejak dahulu, ia telah hancur? Hatinya menjadi serpihan semenjak lelaki itu pergi.
Sekali lagi, ia gemetar. Telapak kaki dan tangannya semakin basah oleh keringat dingin. Patung mawar itu mulai terlihat mengabur seiring dengan degup jantung Farida yang semakin kencang….
***
Sudah nyaris seminggu Ario tidak pulang ke rumah kontrakan. Ia seperti saputangan yang terkoyak di salah satu ujungnya. * Menanti lelaki itu dengan cemas mencakar-cakar. Ke manakah, Ario?
Ia bertemu dengan lelaki itu di sebuah pertunjukkan teater. Ario diperkenalkan padanya melalui seorang teman. Ia sudah pernah mendengar nama Ario sebelumnya. Lelaki itu adalah seorang penyair, cukup eksis, yang dahulu sempat bekerja sebagai seorang jurnalis.
Ia bertubuh jangkung dan kurus. Ia mengenakan kaos hitam dengan tulisan ‘Iam bad at Saturday Night’serta celana jins biru luntur dengan bagian terkoyak pada lututnya. Ketika bersalaman, muka lelaki itu terlihat seperti Bob Dylan versi modern dengan rambut ikal sebahu, brewok di dagu, serta anting di salah satu telinga. Tatapan matanya tajam dan gayanya cuek.
Uniknya, lima menit sebelum perkenalan pertama mereka, tanpa sengaja ia membaca buku Ario di salah satu kios buku di Taman Ismail Marzuki. Temannya bilang bahwa pertemuan mereka adalah sebuah pertanda. Entah pertanda apa yang dimaksud, namun ia merasa yakin bahwa ada sesuatu yang tak biasa dari pertemuan mereka. Bayangkan, mereka baru pertama kali bertatap muka dan antara ia dan Ario terjalin kedekatan seperti teman dari masa kecil.
“Kita pernah hidup bersama di masa dulu,” ujar Ario tiba-tiba usai pertunjukkan dengan nada mendayu khas penyair. Mereka duduk bersebelahan dan sesekali kulit Ario menyentuh kulitnya setiap kali lelaki itu menggerakkan tubuhnya dengan semangat.
“Ah, kau percaya reinkarnasi!”
“Ya, aku percaya kedekatan kita ini karena di suatu masa yang lain, kita memang ditakdirkan bersama. Jodoh.” Ia menyentuh dagu Farida dengan satu sentuhan halus.
Pernyataan itu terdengar romantis sekali baginya. Ia gembira meskipun tahu kebanyakan penyair selalu pandai untuk melambungkan hati lawan bicaranya. Semakin banyak Ario berbicara, semakin ingin ia menghabiskan waktunya dengan lelaki itu.
“Kau memberi ide padaku.” Mata Farida mengerjap-ngerjap.
“Ide apa?”
“Melukis kisah ini,”
“Lukiskanlah dan akan kutulis pula bayangmu melalui penaku.”
Mereka lantas pulang bergandengan tangan dan sebelum ia melangkahkan kaki ke dalam kontrakannya, pertama kali Ario mencium bibirnya dengan lahap.
Semua terlihat indah. Semua terasa bagaikan permen berwarna-warni berbentuk labirin bundar yang manis. Ia dan Ario. Dua senyawa yang bersatu dalam kisah. Hingga, suatu saat Ario memutuskan untuk pergi dan tak kembali tanpa kabar apapun.
***
Ketika berusia delapan tahun, Farida pernah terjatuh dari atap rumah. Ia mencoba memanjat pohon jambu, imajinasi anak-anaknya terlalu aktif membayangkan dirinya sebagai seekor monyet lincah. Namun sayang ia tak cukup cekatan. Setelah menginjak dahan yang salah, ia terjatuh dan tersangkut di pagar rumah. Akibatnya, tangan kanannya tertusuk ujung pagar. Ia harus mengalami operasi dan menderita cacat motorik.
Kecelakaan itu sudah lama sekali, tetapi dampaknya masih saja membekas. Bertahun-tahun ia belajar untuk melatih sensitifitas sarak motorik pada tangan kanannya. Ia merasa frustasi lebih dari dua tahun lamanya dan sempat berniat untuk melupakan kegemarannya akan melukis. Hingga akhirnya, suatu saat, tangan kanannya bisa digunakan secara normal lagi. Sejak saat itulah, ia berjanji akan membaktikan hidupnya untuk melukis dan mematung.
Tepat pukul empat sore, awan bergerak perlahan. Warna putih bersih mulai memudar dan tergantikan dengan warna biru yang teduh. Ketika ia hendak membuat semangkuk mie rebus, seseorang membuka pintu rumah.
“Ario!” ia melompat dan memeluk lelaki itu.
Ario membalas pelukannya lalu melepaskan dengan segera.
“Aku letih. Bisa tinggalkan sebentar?” tanpa meminta jawaban, lelaki itu menghambur ke kamar mandi dan mengacuhkannya hingga malam.
Farida melihat wajah Ario terlihat kuyu. Di bawah kedua matanya, terdapat kantungmata. Rambutnya yang gondrong sebahu acak-acakan. Bau tubuh lelaki itu apak dan menyengat sedikit berbau tak sedap. Ia yakin lelaki itu belum mandi beberapa hari.
Ada apakah gerangan?
Ketika malam ia sedang membuat sketsa wajah, Ario keluar dari kamar tidur. Mukanya terlihat lebih segar. Namun, tatapan mata lelaki itu tetap sama, kosong, membatu, muka Sphinx*.
“Kau baik-baik saja?” ia tak menjawab pertanyaan Farida. Lelaki itu pergi ke dapur dan kembali dengan sekotak jus jeruk. Kebiasaannya saat bimbang adalah meminum jus jeruk. Mungkin rasa segar dari jeruk mampu mensugesti ‘kecerahan’ dalam pikirannya?
“Ingin bercerita padaku?” ia mencoba bersikap ramah.
“Diamlah. Dasar aneh.” lelaki itu membentaknya kemudian duduk di sofa dan menenggak jus jeruk. Suaranya terdengar seperti sebuah igauan. Suara kumur-kumur.
“Kau berkata apa?”
“Aneh. Kau perempuan aneh!”
Seketika ia melihat wajah-wajah masa kecilnya datang di ruangan itu dan menertawainya. Seperti bertahun-tahun dulu. Ketika pertama kali berkata ia butuh ruang untuk melukis. Keluarganya mencibir dan berteriak-teriak satu sama lain. Menganggap ia berkhayal terlalu jauh. Perempuan yang tidak sadar diri dan berkemauan terlalu muluk-muluk.
Farida merasa hatinya sakit. Ia tak sangka Ario berani berkata itu padanya padahal lelaki itu tahu masa lalu apa yang ia pernah alami. Setelah meraih semua kesadarannya kembali, Farida balik menyerang Ario.
“Kau yang sinting!”
“Aku baru tahu kau menjual lukisan-lukisan tentangku. Kau menjadikanku objek pengeruk keuntungan. Sekarang kau pikir lagi. Siapa yang sinting?” suaranya meninggi.
“Menjual lukisan apa? ”
“Tak usah banyak alasan. Tanya sama temanmu Fadi. Baru tahu aku kau serendah itu. Kau minta aku tinggal bersamamu karena bisa memberikanmu keuntungan.”
Lelaki itu masih saja terus meracau. Sementara ia hanya diam, menunggu. Saat itu, ia tahu hubungan mereka ada di ujung tanduk. Ario telah tahu bahwa selama ini ia diam-diam melukis wajah Ario berbagai ekspresi. Bukan karena ia ingin menjualnya, tetapi karena dalam hati, ia mencintai lelaki itu.
Namun, berbulan-bulan mereka bersama, kata itu tetap susah sekali meluncur dari bibirnya. Ia meletakkan arang yang ia gunakan untuk menggambar sketsa dan berdiri mendekati Ario.
“Aku akan pindah. Besok kubereskan pakaianku.”
“Apa kau yakin? Kau mau tinggal di mana? Kau tak punya uang sepeserpun.” Farida mengatakan dengan nada sinis. Ia cukup terkejut dengan respon yang diberikan dirinya sendiri.
“Uang tak pernah bisa membeli diriku, ingat itu.”
“Tetapi kau sendiri sadar, tak ada seniman yang bisa bertahan tanpa uang. Bagaimanapun akal sehat membutuhkan kondisi tubuh prima dan uang menyediakannya.”
“Selama ini kau menjadi pelukis, tetap saja otakmu dangkal.”
“Dan kau terlalu naïf.”
“Farida, sadarlah! Kau mulai memasuki zona amanmu sendiri. Kau melangkah menuju kuburanmu. “
“Tidak, aku melangkah maju dengan tetap menapak bumi. Sementara kau, berkeliaran di langit tanpa kemudi seperti burung yang kehilangan arah.”
“Aku pergi.”
Dan, lelaki itu benar-benar membuktikan kata-katanya. Kini, Farida menyesal telah menyerangnya dengan kata-kata. Seandainya ia memiliki kesempatan untuk mengucapkan maaf. Tetapi, masih berhargakah sebuah maaf sekarang ini?
***
Ia tahu Ario memang seorang penyair yang brengsek. Ia sadar itu dan Ario cukup terbuka mengenai kelemahannya untuk mudah jatuh cinta. Selama lelaki tersebut masih memberikan porsi lebih besar dari hatinya pada Farida, tak mengapa.
Alasannya, lelaki itu di luar sifat playboynya, adalah seseorang yang pandai memetakan kekuatan orang lain. Ia bisa dengan cermat menganalisis karakter orang, kecemasannya, obsesinya, serta memanipulasi semua itu menuju ke arah kemajuan atau kehancuran sesuai yang dikehendakinya. Mungkin itulah sebabnya lelaki ini menjadi penulis. Dan dengan Farida, ia memilih yang pertama.
“Kenapa kau tidak kembali menawarkan lukisanmu?”
“Aku tidak percaya diri.. beberapa kali aku telah mengajukan proposal ke pihak galeri dan mereka menolaknya. Kali ini aku merasa belum terlalu siap.”
“Kau terlalu perasa. Semua seniman di dunia ini selalu ditolak berkali-kali. Tetapi yang membedakan, mereka tak pernah berhenti. Mana coba kulihat lukisanmu.”
“Masih jelek, jangan. Mereka akan menilaiku terlalu arogan. Aku akan jual setelah mendapatkan kurator yang tepat.”
“Kau selalu tak pernah percaya diri pada karyamu. Bagaimana orang mau menyukai karyamu kalau belum-belum sikapmu sudah begini?”
“…”
“Aku sudah mencobanya.”
“Kau tak pernah mencoba.”
“Aku mencoba.”
“Kau hanya ‘merasa’ telah mencoba.”
“Aku telah mencoba ke puluhan galeri, entah manalagi yang belum kukirimkan, dan hasilnya apa? Sama-sama mereka menolak karyaku. Kau pikir menjual karya bisa semudah itu?”
“Aku tidak bilang mudah. Tetapi, jangan berhenti.”
“Aku tidak bilang aku berhenti. Ah, sudahlah. Kau selalu memojokkanku dan membuatku pusing.”
“Lagi-lagi karaktermu yang satu itu keluar. Mengapa tidak mengambil kritik sebagai sesuatu yang membangun dan tidak bersikap defensif?”
“Tidak lihatkah kau aku mencoba?”
“Kau balik lagi bertanya, meminta persetujuan. “
Farida mengambil rokok dan menghisapnya. Ario mulai menjengkelkan kali ini dan ia masuk ke dalam perangkap permainan kata-kata Ario.
“Sudah! Hentikan semua percakapan ini. Aku capek.”
Tubuh Farida mulai gemetar. Itulah tandanya ia sedang berada dalam tahap panik. Ario tahu tubuhnya bergetar. Lelaki itu mengambil kursi kayu dan meletakkan di samping sofa putih. Ia duduk di sana, melanjutkan perkataannya.
“Aku tak ingin memojokkanmu, tetapi aku tak tahan kau selalu mengalah pada dirimu. Kau tahu Aretha telah menyudutkanmu. Kau masih ingat perkataannya padamu tentang kesuksesannya menjual lukisan. Ia berupaya menunjukkan perang psikologis padamu. Tetapi kau hanya diam saja dan malah menyelamatinya. Kau tahu perempuan itu brengsek. Dia hanyalah anak orang kaya yang kebetulan tercemplung di dunia lukis. Tak punya bakat sama sekali. Kau tahu itu. Lukisannya jelek bahkan tak sudi kusebut sebagai lukisan.”
“Mungkin ia memang berbakat sedangkan aku tidak.”
“Lagi-lagi kau merasa pesimis pada dirimu. Sebentar lagi kau pasti merasa dunia telah berlaku tidak adil padamu.”
Ia tak menanggapi Ario. Diam-diam dalam hati, ia menyetujui perkataannya. Mungkin dunia memang bukan suatu tempat yang adil hingga hanya gadis kaya, cengeng, dan tidak bisa melukis seperti Aretha yang bisa mendapatkan tempat di dunia seni rupa.
Sementara, untuknya, hanya tersedia ruang di pojok yang gelap dan sepi. Lagi-lagi, ia bersikap sinis pada hidup. Tetapi, saat ini ia melihat memang hidupnya seolah berjalan di tempat dan apapun yang ia lakukan hanyalah sederetan gambaran dari masa depan yang suram.
“Aku akan membantumu, kali ini. Nanti kita petakan konsep agar kau bisa segera menuangkannya ke dalam lukisan.”
“Aku membutuhkanmu.”
Ia menggenggam erat tangan Ario seolah-olah lelaki itu adalah satu-satunya hal yang bisa memberikan kebahagiaan, percikan rasa dari kesuksesan. Namun, tanpa ia duga tiba-tiba Ario menampik tangan dan justru menciumnya. Ia merasa dunianya yang muram kembali bersinar. Ia menatap mawar pemberiannya di atas meja dan memejamkan mata.
Suatu saat nanti, ia akan ingat semua percakapan itu, dan bersyukur tak sepenuhnya mempercayai Ario- yang justru memacari Aretha. Apapun yang ia yakini tentang dirinya, baik salah atau benar, setidaknya itu adalah murni penilaiannya sendiri.
***
Perempuan itu gila. Gila. Ario berusaha meyakini itu dan membuat perempuan itu menangkap penilaian yang sama terhadap dirinya sendiri.
Betapa kesal dirinya. Farida selama ini telah memanfaatkan keberadaanya jauh dari yang ia izinkan serta perkirakan. Tinggal bersama perempuan itu dan membantunya menemukan dirinya ibarat tenggelam di dalam satu sumur tanpa ujung.
Sore tadi ia tiba di rumah kontrakan sebelum Farida datang. Ia memutuskan mengintip hasil lukisan perempuan itu. Ia terperangah. Semua yang dilukis oleh perempuan itu adalah mengenai dirinya. Benda-benda favoritnya, tempat-tempat ia biasa menghabiskan waktu, ruang perpustakaan, toilet, kamar tidur, sofa putih, dan lainnya. Perempuan itu begitu tepat melukiskan kedalaman jiwanya. Ia merasa kemalingan.
Farida juga membuat sketsa bagian-bagian tubuhnya yang dipajang secara terpisah ke dalam enam frame lukisan. Jadi, selama ini wajar perempuan itu tak mau menjual lukisan-lukisannya. Karena semua karyanya adalah tentang dirinya. Yang membuat ia iri adalah lukisan-lukisan itu terasa begitu hidup dan bernyawa. Lukisan-lukisan itu… jauh lebih menawan dari karya-karya tulisnya yang selalu hambar tanpa bumbu.
Kali ini giliran ia yang gemetar. Mengapa tiba-tiba ia merasa terintimidasi oleh kekuatan Farida? Mungkin sudah saatnya ia pergi sebelum ia terjatuh. Ia tak pernah suka menjadi pihak yang kalah.
***
“Farida, kok bengong. Selamat ya. Nanti mau dibawa ke mana patung-patung mawar ini?”
“Ke London, rencananya, Pak.”
“Bagus! Sukses terus. Omong-omong, sudah terjual semuanya?”
Farida mengangguk. Wajahnya nampak tak senang mendengar pertanyaan tersebut.
“Wah tadinya saya mau beli satu. Baiklah, kalau nanti masih ada sisa, hubungi saya, ya. Ini nomor kontak saya. “
“Baik, Pak. “
Lelaki itu pergi dan Farida berdiri mematung. Ia menatap pigura mawar di hadapannya dan tiba-tiba tak ingin beranjak dari situ hingga acara usai. Seperti ada magnet yang mendekatkan diri pada karya-karyanya sendiri. Mereka seolah berbicara padanya meminta diselamatkan dari kehancuran.
Farida, jangan biarkan mereka menyentuhku.
Ia memejamkan matanya. Dadanya terasa sakit. Dahulu ia pernah ditinggalkan oleh seorang lelaki. Ia tahu sekali rasanya seperti apa dan ia tak mau melakukan itu pada anak-anaknya, patung mawarnya.
Sebab, untuk satu pigura yang terdiri atas sepuluh mawar, ia membutuhkan waktu selama nyaris enam bulan untuk mendesain serta memahat. Selama itu pula ia mengurung diri di kamar dan menjauhkan kehidupan sosial demi sang karya. Menggali semua perasaan yang ada di dirinya, kenangan-kenangannya, dan menumpahkan cintanya pada karya mawar itu.
Jika mereka peka, pada setiap lembar kelopak bunga mawar itu, terjalin semua partikel-partikel perasaannya.
Sekarang, dalam hitungan detik, karya itu berpindah kepemilikan. Mawar-mawar itu akan menjadi milik pembeli-pembeli itu, yang membeli lukisan seperti membeli kacang goreng. Tak semua dari mereka menghargai seni itu dengan sungguh-sungguh. Belum tentu semua dari mereka memahami pengorbanannya. Perasaannya yang menjelma mawar-mawar akan kembali disia-siakan.
Ia jadi ingat perkataan Ario. Lelaki itu bilang tidak ada yang bisa membelinya dengan uang. Kali ini ia setuju dengan pernyataan tersebut. Dibeli semahal apapun karya-karya itu, kalau ia diperlakukan seperti sampah, tak sudi rasanya ia melepasnya.
Tiba-tiba ia menitikkan air mata. Ia sadar, selama ini yang membuatnya benar-benar terpuruk bukanlah kepergian lelaki itu, tetapi ketika karya-karyanya tidak mendapatkan penghargaan sebagaimana mestinya.
Aku tak bisa. Kalau mereka disia-siakan, aku akan remuk.
Ketika pameran sudah ditutup, ia kembali masuk ke dalam ruangan dan membanting ke lantai semua lukisan yang dipajang di galeri tersebut dengan marah.
Tubuh mawar-mawar itu terpelanting di lantai, kemudian terpecah menjadi dua. Farida mengangkat retakan itu dengan tergesa-gesa. Ujung timah yang tajam menggoretkan luka pada telapak tangannya. Namun, perempuan itu justru tertawa. Sementara darah pelan-pelan menetes dari telapak tangannya menodai lempeng timah yang dingin.
Mungkin besok di koran akan muncul berita tentang dirinya, si perempuan gila, seniman yang merusak karyanya sendiri. Tetapi ia tak peduli. Hanya ia yang tahu lebih baik tentang dirinya sendiri. Ia telah belajar itu.
***
*puisi karya Nirwan Dewanto dari kumpulan puisi Jantung Lebah Ratu.