Review The Help


The Help

Eugenia “Skeeter” Phelan (Emma Stone) merupakan seorang perempuan yang baru saja lulus dari Universitas Mississippi dan menetap kembali di perumahan orangtuanya di Jackson, Mississippi . Tidak seperti teman-teman perempuannya, yang umumnya setelah lulus menikah dan punya anak, Skeeter berkeinginan untuk lebih dari itu. Menjadi seorang novelis dan juga jurnalis.

Untuk meraih mimpinya, ia mendaftar di sebuah koran lokal, menulis artikel tentang para pekerja rumah tangga. Ia pun bertemu dengan seorang pekerja rumah tangga, Aibileen Clark (Viola Davis), dan mewawancarainya. Ternyata, pekerjaannya membuat perempuan muda ini sadar banyak hal: ada banyak ketidakadilan terutama berkaitan persoalan rasialisme sedang terjadi di lingkungannya tinggal dan semua orang berusaha menutup mata mereka dengan kenyataan tersebut.

Disetir oleh perasaan kehilangan atas pekerja rumah tangga yang mengasuhnya sejak kecil, Skeeter berniat membongkar ketidakadilan yang berlangsung di kota kecil kelahirannya. Perjalanannya tidak mudah. Ia ditentang oleh teman-teman dekatnya dan bahkan ibunya sendiri. Salah seorang temannya bahkan mendorong disahkannya undang-undang yang meminta pemisahan dan pembedaan bagi kulit putih dan kulit hitam, diantaranya pembuatan toilet khusus bagi para pekerja kulit hitam, hal yang ia tentang sedari awal.

Namun, di tengah perjalanan, para warga kulit hitam terutama pekerja rumah tangga yang sering mendapatkan perlakuan tidak adil akhirnya mau angkat bicara. Mereka satu persatu mengisahkan pengalaman mereka selama bekerja di rumah majikan mereka yang berkulit putih serta perlakuan apa yang mereka dapatkan selama ini.  Kisahpun berhasil dituliskan dalam satu buku berjudul “The Help”.

Film The Help ini merupakan  karya adaptasi dari sebuah novel dengan judul dan isi cerita yang sama karya penulis Kathryn Stockett. Stockett menyelesaikan novel tersebut selama lima tahun dan mengalami penolakan dari 45 penerbitan sebelum Susan Ramer dari Don Congdon mau untuk mewakili karya Stockett.  The Help telah dipublikasikan di 35 negara dan dalam tiga bahasa. Pada bulan Agustus 2011, novel ini terjual sebanyak lima juta kopi dan bertahan dalam daftar buku terlaris versi The New York Times. Novel ini juga mendapatkan penghargaan diantaranya buku terbaik Amazon (2009), Orange Prize Longlist (2010), Indies Choice Book Award (2010), Townsend Prize (2010), Exclusive Books Boeke Prize (2009), serta International IMPAC Dublin Literary Award Longlist (2011).

“Saya menulis setelah kejadian 11 September. Awalnya tidak direncanakan sebagai sebuah buku, hanya sebuah tulisan tentang suara dalam hati saya, yaitu saya rindu kampung halaman dan tidak ada yang bisa saya lakukan karena layanan telepon terputus. Kemudian, cerita ini berkembang menjadi draft sebuah novel dan saya kirimkan ke berbagai penerbitan setelah lima tahun dikerjakan,” jelas Kathryn dalam wawancaranya dengan Life.

Sementara itu, sang sutradara, Tate Taylor, yang juga teman dekat Kathryn mengatakan latar belakang novel tersebut difilmkan adalah ketika Kathryn menyerahkan naskah novelnya kepada Tate. Diskusi pun terbuka di sana. Tate melihat potensi naskah tersebut untuk dijadikan sebuah film. Dalam proses lebih lanjut, Kathryn tidak ikut campur tangan dalam pembuatan novel ke film. Proses kreativitas sepenuhnya berada di tangan Tate. Beberapa adegan terdapat dalam novel mesti dipotong oleh Tate agar film lebih terasa efisien dan efektif.  Selain itu, suara narator juga diubah oleh Tate menjadi satu suara (dalam film ini diwakilkan oleh Aibileen) dari banyak suara perempuan kulit hitam.

“Menyenangkan membuat film ini karena selama prosesnya ada sebuah atmosfer kekeluargaan yang tercipta antara para kru dan pemain. Film ini juga dibuat di Mississippi, tempat di mana Kathryn dan saya dibesarkan. Mengenai naskahnya saya mesti menulis ulang sebanyak 30 halaman dari total keseluruhan 200 halaman tetapi tidak ada kesulitan yang berarti. Proses penulisan selesai dalam jangka waktu dua tahun,” jelas Tate dalam sebuah wawancara di website film.

Proses penulisan naskah yang cukup lama, yakni selama dua tahun, berimbas kepada hasil film yang matang dari segi isi. Pertama, film ini mampu mengisahkan secara baik kegelisahan yang dialami oleh para pekerja domestik kulit hitam ketika pembedaan ras terjadi sekitar tahun 1960’an.  Adegan yang ditampilkan oleh Tate secara konsisten berfokus pada ketegangan yang terjadi antara warga kelas atas kulit putih dengan para pekerja rumah tangga kulit hitam serta ironi dalam hubungan penuh kasih sayang dari para pekerja rumah tangga dengan anak kulit putih yang mereka asuh. Kedua, sang tokoh protagonist, Skeeter, mampu tampil secara proporsional sebagai seorang jurnalis dan tidak ditonjolkan secara berlebih sebagai seorang ;pahlawan’ kulit hitam. Tokoh Aibileen serta Minny (kulit hitam) diangkat oleh Tate dalam akhir cerita sebagai ‘pahlawan’ sesungguhnya perjuangan melawan perbedaan ras tersebut.

Meski demikian, sayangnya dari segi karakter, film ini masih terlihat seperti ‘sinetron’ atau opera sabun dengan penggambaran yang hitam-putih. Misalnya saja, tokoh-tokoh perempuan sosialita Mississippi, diwakilkan oleh Hilly dan teman-temannya, tampil begitu kejam dan tidak berperasaan. Sementara, para pekerja rumah tangga ditampilkan sebagai sosok yang tertindas. Walau pada kenyataannya mungkin saja terjadi demikian tetapi penggambaran karakter yang terlalu hitam ataupun putih justru mengurangi kesan alamiah serta manusiawi dari film tersebut.

Tetapi setidaknya film ini diisi dengan dialog-dialog yang mampu memberikan inspirasi sendiri serta ruh dari isi cerita, seperti salah satu yang paling saya ingat, dialog Aibileen di akhir cerita, “ orang tidak pernah menanyakan bagaimana rasanya menjadi saya. Dan sekali saya bilang kejujuran mengenai itu, saya merasa bebas.”

Utami D. Kusumawati

Seni Ukir Stempel Tiongkok: Dari Cap Tandatangan Menuju Karya Seni


Seni Ukir Stempel Tiongkok: Dari Cap Tandatangan Menuju Karya Seni

Salah satu stempel terbuat dari batu soshuan hokkian terletak di salah satu lemari kaca yang ada di Museum Nasional Jakarta Pusat. Stempel tersebut memiliki dua warna yakni merah dan putih yang membentuk alur seperti sebuah labirin dengan motif bertuliskan aksara Tiongkok pada bagian tengahnya. Tertulis di bawahnya judul stempel tersebut “Kue (Kemasan yang berlebihan)”. Sang seniman, Li Lanqing, kemudian menjelaskan judul tersebut ke dalam sebuah penjabaran: dahulu kemasan diabaikan, sekarang dibungkus begitu mewah, bahkan lebih mewah dari kuenya (isinya). Baginya, hal tersebut merupakan sebuah pemborosan dan menjadi ironis.

Stempel tersebut merupakan satu dari sekian karya Li Lanqing yang ditampilkan dalam acara Stempel Tiongkok yang diadakan oleh Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Republik Indonesia, Balai Seni Rupa Tiongkok serta Museum Nasional Indonesia. Seni ukir stempel Tiongkok sendiri menurut sejarahnya sudah ada sejak 5000 tahun lalu. Dahulu seni ukir stempel digunakan umumnya untuk cap kekaisaran, sebagai lambang kekuasaan kaisar dan juga tanda bukti mengenai nama dan jabatan sang penguasa. Fungsinya tak lebih dari sekadar tanda tangan seperti zaman sekarang. Namun, sesudah Dinasti Ming (1368-1644 SM), ukiran stempel lantas berkembang menjadi sebuah karya seni yang diapresiasi oleh masyarakat luas. Tidak hanya untuk tujuan praktis tetapi stempel telah berkembang dari segi artistiknya.

“Stempel ini dimulai pada masa Dinasti Han. Sekitar tahun 66 Masehi ada belokan cukup penting yang menandai perkembangan seni ukir stempel Tiongkok, yakni seniman Dinasti Yuan menemukan batu untuk diukir, “ jelas Cui zhiqiang, maestro seniman seni ukir stempel tradisional  yang juga menjabat sebagai Sekjen dewan seni ukir stempel dan tergabung ke dalam Asiosiasi Kaligrafi Tiongkok, ketika ditemui di Museum Nasional.

Stempel tersebut diukir menggunakan pisau untuk mengukir motif yang ada di stempel. Bahan yang digunakan misalnya logam, giok, batu, keramik dan materi lainnya. Sesudah diukir menggunakan pisau maka pada material dioleskan Yinni atau tinta stempel dalam bentuk pasta kental warna merah, untuk kemudian dicetak di atas kertas.  Aksara Tiongkok yang diukir kebanyakan adalah gaya kaligrafi Zhuanshu, digunakan pada periode Negara Berperang dan Dinasti Qin. Karakteristiknya adalah aksara piktograf berbentuk bundar dan kaya variasi. Karya ukiran stempel tidak hanya menampilkan ukiran aksara di atas bahan, tetapi juga ukiran aksara di sisi bahan itu. Huruf-huruf yang diukir di sisi bahan disebut sebagai “Bian Kuan” (apendiks), isinya tentang nama, waktu pembuatan, dan konsep di balik ukiran.

“Bebatuan dari pegunungan Tiongkok, dapat mengukirkan aksara Tiongkok, penuh lekukan berkarakter, setelah diberi tinta ditaruh di atas kertas warna merah dan putih berpadu,” jelas Li Lanqing, yang saat itu tidak bisa hadir ke Jakarta, dalam wawancaranya di sebuah video yang ditampilkan di Museum Nasional.

Nampaknya Li Lanqing memahami, stempel ukir Tiongkok, tidak sekadar hadir sebagai suatu pekerjaan tukang. Ia pada akhirnya adalah sebuah karya seni dan membutuhkan penghayatan serta kecermatan dalam menorehkan pisau untuk membentuk motif dan menciptakan filosofi dari motif yang tercipta. Gambar-gambar pada stempel Tiongkok pada dasarnya sederhana namun demikian membutuhkan keterampilan serta kecermatan yang tinggi. Dalam hal menciptakan pesona artistik yang menawan, sang seniman memperhatikan kaligrafi dan penataan aksara, teknik penggunaan pisau, serta estetika huruf dan garis. Material yang digunakan dalam pembuatan stempel tidak hanya menjadi sekedar objek melainkan sebuah aspirasi seperti yang ia tulis “batu suarakan keindahan, batu suarakan aspirasi. Batu suarakan perasaan, batu suarakan ketertarikan. Batu suarakan kisah.”

Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional, edisi Minggu, 03 Desember 2011

Karinding dan Pergerakan Kaum Muda Sunda Menjaga Seni Musik Tradisi


Karinding dan Pergerakan Kaum Muda Sunda Menjaga Seni Musik TradisiImage

KEMAJUAN teknologi serta perkembangan zaman di era globalisasi membuat tradisi seringkali tercerabut dari akar kebudayaannya. Alhasil, ia menjadi tersisih dan kemudian terancam punah. Hal ini berlaku di seluruh ranah tradisi, salah satunya adalah alat musik tradisional Sunda, Karinding. Ketika budaya populer masuk dan menyergap ruang gerak anak muda Bandung, maka ruang bagi Karinding untuk semakin dikenali oleh warganya sendiri semakin menyempit.

Modernitas menyebabkan kaum muda Bandung lebih mengenali idiom-idiom atau memakai simbol-simbol berbau barat tanpa memahami apa artinya. Hal ini menyebabkan munculnya kegelisahan bagi sejumlah budayawan serta kaum muda Bandung yang peduli akan kesenian tradisional. Bersama-sama mereka mengembangkan alat musik tradisional Sunda, Karinding, dan mulai mempopulerkannya ke masyarakat muda Bandung.

Karinding mengacu pada wikipedia merupakan sejenis alat musik atau perkusi khas Sunda yang terbuat dari pelepah kawung (batang pohon aren) dan bambu. Menurut buku Karinding Attack terbitan Minor Books, karinding konon merupakan alat musik yang telah digunakan di dataran Sunda terutama Tasikmalaya sejak abad ke 15.

Alat musik ini terbuat dari pelepah kawung atau bambu berukuran 20 x 1 cm yang dibuat menjadi tiga bagian yaitu bagian jarum tempat keluarnya nada (cecet ucing), pembatas jarum, dan bagian ujung panenggeul (pemukul). Jika ujungnya dipikul, maka bagian jarum akan bergetar dan ketika dirapatkan ke rongga mulut, maka akan menghasilkan bunyi khas. Bunyi tersebut bisa diatur tergantung bentuk rongga mulut, kedalaman resonansi, tutup buka kerongkongan, atau hembusan dan tarikan nafas.

“Dahulu Karinding dimainkan di acara yang menyangkut hajat hidup, ritual, silaturahmi juga acara berkaitan dengan alam seperti gerhana bulan, gempa, dan lainnya. Karinding juga biasa dipakai untuk mengusir hama dan pemujaan terhadap roh nenek moyang. Nadanya yang mengandung desibel rendah ternyata ampuh mengusir hama. Namun, meski umumnya dipakai untuk mengusir hama, alat musik ini pada dulunya juga sering digunakan bagi para pria untuk menarik perhatian gadis-gadis, ” jelas Iman Rahman Angga Kusumah atau akrab dipanggil Kimung, salah satu seniman Karinding, ketika ditemui di Bandung.

Ia mengatakan kalau jenis bahan dan desain Karinding menunjukan perbedaan usia, tempat, jenis kelamin pemakai. Karinding menyerupai susuk sanggul dibuat untuk perempuan, sedang yang laki-laki menggunakan pelepah kawung dengan ukuran lebih pendek, agar bisa disimpan di tempat tembakau. Bahan juga menunjukan tempat pembuatan karinding. Di Priangan Timur, misalnya, karinding menggunakan bahan bambu. Sementara penyebutannya juga mengalami variasi seperti misalnya di daerah Yogyakarta Karinding dikenal dengan “Rinding”, di Bali disebut “Genggong”, di Kalimantan disebut “Dunga” atau “Karindang”, di Nepal bernama “Jawharp” dan di China bernama “Chang”.

Menurut Kimung, selain di Tasikmalaya, perkembangan Karinding juga menyebar ke daerah Parakan Muncung dan juga Ujungberung. Di daerah Ujungberung, Karinding digunakan sebagai alat musik pengiring warga belajar silat. Sementara di daerah Parakan Muncung, ada satu sosok yang mempopulerkan alat musik ini, yakni Abah Olot. Abah Olot yang berasal dari Parakan Muncang ini merupakan anak dari Entang Sumarna yang merupakan seorang pembuat dan musisi Karinding di kawasan Manabaya, Cimanggung, Parakan Muncang. Bersama grup Giri Kerenceng, Karinding kemudian menyebar di Cicalengka dan menginspirasi seniman muda untuk turut berpartisipasi mengeksplorasi Karinding serta memperkenalkannya ke publik.

Ketekunan Abah Olot pun membuahkan hasil. Karinding yang tadinya dikenal sebatas kalangan tertentu kini dilirik juga oleh kelompok musik metal di Ujungberung, yakni komunitas Ujungberung Rebels. Tertarik akan nilai-nilai kesederhanaan, falsafah, serta nada yang dihasilkan oleh alat musik karinding. Ujungberung Rebels pada tahun 2009 mendirikan Karinding Attack, yakni sebuah grup metal yang mengeksplorasi nada menggunakan berbagai jenis alat musik tradisional Sunda.

“Grup musik ini merupakan sebuah fusion atau perpaduan antara gaya keras, tempo cepat, dengan lantunan nada Sunda yang halus,”jelas Kimung.

Dalam grup KARAT atau Karinding Attack terdiri atas sembilan personel, yakni Ki Ameng (karinding), Wisnu (karinding), Kimung (celempung indung), Hendra (celempung anak), Papay (celempung renteng dan kohkol), Okid (gong tiup), Zimbot (suling), Yuki (suling), serta Man Jasad (vokal). Ketika mendengarkan penampilan grup ini, saya menemukan sebuah perpaduan yang unik. Pada salah satu lagu yang ditampilkan, nada dimulai dengan permainan suling yang kemudian dilanjutkan dengan tabuhan gendang, dan dilanjutkan dengan nada yang tiba-tiba metal. Sang vokalis berteriak dengan semangat menyuarakan kritik-kritik sosial dalam lagu ‘Maap’, ‘Lapar Mak’, serta ‘Numora’. Perpaduan karakter metal dengan sentuhan karinding yang meditatif menghasilkan sebuah pertunjukan yang jauh lebih meresapi maknanya.

“Karinding sendiri pada dasarnya memang memiliki banyak filosofi. Bagian pertama dari karinding, pancepengan, merupakan bagian di karinding di mana pemain mesti memegangnya dengan baik. Jangan dipegang terlalu erat tetapi pas dan mantap. Bagian ini mengandung filosofi yakin, bahwa sang pemain harus yakin dengan apa yang ia pegang sebelum kemudian ia mainkan. Yakin bahwa apa yang dimainkannya akan berguna bagi orang banyak,” jelasnya.

Lalu, setelah yakin maka pemain karinding bisa mulai menabuh karinding dengan sabar, tidak tergesa-gesa. Dalam hubungan dengan diri, kesabaran ini mengacu kepada ketekunan dan juga disiplin diri serta manajemen waktu yang baik. Kesabaran berhubungan erat dengan upaya terus menerus mencapai yang terbaik, pantang menyerah dan kreatif dalam menyusun berbagai langkah-langkah yang telah diyakini dengan benar. Setelah itu, karinding bisa dirapatkan ke rongga mulut sampai mengeluarkan bunyi. Ketika bunyi itu hadir, sudah bisa diatur secara sadar oleh sang pemain. Sadar bahwa sang pemain sebaiknya memainkan apa yang harus dia mainkan sebaik mungkin, mengisi kekosongan kawannya, dan juga menyadari posisinya dalam grup.

“ Pola harmonisasi serta prinsip yakin, sabar, dan sadar ini yang menarik untuk diketahui karena ternyata bermuasal dari kearifan lokal masyarakat Sunda. Kalau dalam istilah Jawa Tengah, Eling Lan Waspada,” jelasnya di akhir obrolan.

Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional Edisi Minggu, 11 Desember 2011

Transformasi Tarling: Sinergisme Tradisi dengan Industri


Transformasi Tarling: Sinergisme Tradisi dengan Industri

N. Riantiarno dalam sebuah acara diskusi buku Kitab Teater beberapa waktu lalu di Gedung kesenian Miss Tjitjih mengatakan pentingnya sinergisme antara dua hal yakni idealisme dengan bisnis untuk mengembangkan dunia pertunjukan di tanah air. 

Hal ini terutama penting diperhatikan ketika membicarakan ranah tradisi, bukan karena grup-grup kesenian pertunjukan tradisi, yang mengusung konsep ‘masa lalu’ terancam punah akibat industri bisnis terkait pasar dan komodifikasi yang berkembang pesat. Melainkan, ditilik dari kemampuan mereka untuk bertahan, grup-grup kesenian tradisi ini mau untuk mengkompromikan dua dunia, masa lalu dan masa sekarang, tradisi dan industri, tanpa meninggalkan esensi isi.  Salah satunya misalnya saja kesenian tradisional asal Jawa Barat, tarling.

Musik tarling (merupakan kependekan dari kata guitar atau gitar dan suling) adalah jenis seni untuk janggrungan atau hiburan yang semula biasa dilakukan oleh anak-anak muda pesisir utara di malam hari. Mereka biasa naik ke atas panggung, menyawer sembari mendengarkan lagu yang berisi pesan moral yang mencerahkan jiwa. Dalam era selanjutnya, tarling berkembang menjadi seni pertunjukan panggung, juga industri hiburan. Asal-usul tarling, menurut Wikipedia, mulai muncul sekitar tahun 1931 di Desa Kepandean, Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Alunan gitar dan suling bambu yang menyajikan musik Dermayonan dan Cirebonan popular sekitar tahun yang sama dan menjadi gaya hidup, sesuatu yang digemari, bagi anak-anak muda di daerah tersebut.

Saat itu, nama tarling belum digunakan untuk menyebut seni tradisi ini. Nama yang digunakan untuk merujuk kesenian musik daerah pesisir utara adalah Melodi Kota Ayu untuk daerah Indramayu serta Melodi Kota Udang untuk daerah Cirebon. Nama Tarling kemudian baru diresmikan saat Radio Republik Indonesia sering memperdengarkan musik ini. Kemudian oleh Badan Pemerintah Harian (DPRD), nama tarling diresmikan untuk seni musik ini pada tanggal 17 Agustus 1962.

Tarling berkembang di wilayah yang dipengaruhi unsure Cirebon, khususnya Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan Subang. Instrumen  yang  dahulu dipakai biasanya gitar dan suling. Sekarang telah berkembang dengan menambahkan gitar melodi, ritmis, bas, suling, kendang, gong, kecrek, dan vocal. Lirik yang biasa dipakai adalah bahasa Jawa dialek Cirebon atau Dermayon. Instrumen banyak mengubah idiom musik dalam gending-gending tari  Cirebon, wayang kulit, dan kliningan Sunda (Telisik Tradisi, Kelola).

Menurut Anton Rustadi Mulyana dalam artikelnya Tarling Cahaya Muda, buku Telisik Tradisi, tarling semula merupakan jenis seni untuk janggrungan atau hiburan yang umumnya dilakukan oleh anak-anak muda pesisir utara pada malam hari. Tetapi karena alasan minat dan sikap kreatif serta respon yang bagus dari masyarakat pendukungnya, tarling kemudian bertransformasi menjadi seni pertunjukan panggung sekaligus industri hiburan.

Hal ini tampak pada misalnya bergesernya perangkat instrumen yang dipakai dalam seni tarling menjadi lebih kompleks.  Saat ini musik tarling telah menggabungkan unsur musik, sastra lagu, serta teater untuk menghasilkan jenis pertunjukan yang popular. Terkadang, musik dangdut, yang masih menimbulkan pro dan kontra diantara para seniman, juga diselipkan di dalam tarling untuk lebih menarik perhatian dengan memunculkan bintang-bintang biduan tarling seperti diantaranya H. Dariyah dari Cahaya Muda atau Nunung Alvi, Tia Permatasari, atau Sri Avista.

Meski demikian, kekhasan tarling dalam pemuatan kisah-kisah lokal yang biasanya diceritakan dalam cerita rakyat, dongeng, legenda, atau kisah keseharian penduduk Jawa Barat tetap dimasukkan selain tentunya menggunakan gitar dan suling. Misalnya saja yang dilakukan oleh Yoyo Suwaryo dari grup tarling Dharma Muda yang mengangkat fenomena sosial eksploitasi perempuan dalam seni tarling dalam lagunya Dongbret.  Hal ini menyebabkan kesenian ini terus bertumbuh menjadi seni pertunjukan yang tetap mendapat tempat di hati masyarakatnya.

Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional Edisi Minggu, 18 Desember 2011Image